Sepsis adalah penyebab utama kematian neonatal ketiga (14%) di dunia, yang menyebabkan kematian 336.000 bayi pada tahun 2019. Meskipun tidak ada definisi konsensus, kriteria diagnostik standar emas untuk sepsis neonatal saat ini didasarkan pada isolasi/ identifikasi mikroorganisme infektif dari kultur darah dan pengujian kerentanan antibiotik selanjutnya. Namun, bukti menunjukkan bahwa hasil kultur positif hanya terlihat pada 8% dari 164.744 spesimen darah bayi prematur dengan dugaan klinis sepsis awitan lambat (LOS). Identifikasi kontaminan dapat menyebabkan kesalahan tipe I (positif palsu), sementara volume darah tidak mencukupi ( <0,5mL) dan antibiotik prenatal dapat menyebabkan kesalahan tipe II (negatif palsu) setelah interpretasi hasil kultur darah. Selain itu, beberapa bukti menunjukkan bahwa karakteristik klinis dan faktor risiko lainnya mungkin mempunyai peran penting dalam menentukan kemungkinan konfirmasi bakteriologis pada dugaan sepsis neonatal secara klinis. Persalinan prematur, berat badan lahir rendah, skor Apgar rendah, ventilasi mekanis, persalinan seksio sesarea, ketuban pecah dini dan demam intrapartum sebelumnya telah dikaitkan dengan sepsis neonatal dengan kultur positif.
Profil bakteri pada sepsis neonatal bervariasi antar latar sosioekonomi dan geografis yang berbeda, bahkan antar rumah sakit di wilayah yang sama. Tinjauan sistematis dan meta-analisis 52 penelitian yang dilakukan oleh Zelellw et al. menunjukkan bahwa Klebsiella, Staphylococcus aureus (23,22%), Coagulase-negative Staphylococci (CoNS) dan Escherichia coli (15,3%) merupakan patogen utama yang menyebabkan sepsis neonatal di negara berkembang. Di Indonesia, Klebsiella pneumoniae, CoNS, Acinetobacter baumannii dan Enterobacter sp. bertanggung jawab atas sebagian besar kasus sepsis neonatal yang dikonfirmasi secara bakteriologis.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kofaktor klinis yang berhubungan dengan sepsis neonatal yang terbukti melalui kultur darah dan resistensi in vitro terhadap antibiotik lini pertama (ampisilin dan gentamisin) dari kasus yang berasal dari pusat kesehatan tersier di Surabaya, Indonesia. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa Hubungan antara kofaktor klinis dengan sepsis yang terbukti melalui kultur dan resistensi antibiotik menekankan pentingnya bagi dokter untuk menyesuaikan rejimen antibiotik empiris berdasarkan antibiotik lokal dan ketersediaan sumber daya.
Penulis Agung Dwi Wahyu Widodo





