Universitas Airlangga Official Website

Pendidikan CEO dari Universitas Terkemuka dan Pengungkapan ESG

Ilustrasi CEO by Midtrans
Ilustrasi CEO (sumber: Midtrans)

Penelitian ini mengeksplorasi pengaruh latar belakang pendidikan CEO, khususnya mereka yang memiliki gelar MBA dan teknik dari universitas ternama, terhadap pengungkapan Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG) dalam perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Penelitian ini menggunakan sampel dari 332 perusahaan dari total populasi 407 perusahaan yang mengungkapkan laporan keberlanjutan selama periode 2016 hingga 2020.

Analisis dilakukan menggunakan regresi linier berganda, dan hasilnya menunjukkan bahwa CEO dengan gelar MBA dan teknik dari universitas bereputasi berdasarkan peringkat universitas dunia QS berpengaruh signifikan dan positif terhadap pengungkapan ESG. Penelitian ini berkontribusi pada literatur mengenai karakteristik CEO, khususnya latar belakang pendidikan mereka dengan gelar spesifik seperti MBA dan teknik, dan pengaruhnya terhadap pengungkapan ESG. Untuk pembuat kebijakan, temuan ini menyoroti pentingnya mempertimbangkan latar belakang pendidikan CEO dalam proses seleksi dan pelatihan, serta implikasinya terhadap regulasi pengungkapan ESG.

Konteks keberlanjutan merupakan tujuan jangka panjang yang mencakup aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola yang baik dan terstruktur. Data dari 2013 hingga 2018 menunjukkan bahwa Indonesia mengalami deforestasi, mengubah rata-rata 740.000 ha hutan menjadi penggunaan lahan lain. Dari 2018 hingga 2019, tingkat degradasi hutan adalah 462,46 ha, dan pada 2019-2020, Indonesia berhasil mengurangi tingkat deforestasi menjadi 115,46 ha.

Selain kerusakan lingkungan dan isu perubahan iklim serta data deforestasi di Indonesia, konsep pembangunan berkelanjutan telah menjadi fokus utama bagi pemangku kepentingan di seluruh dunia, khususnya di Indonesia. Saat ini, investor menekankan kapasitas tim manajemen puncak untuk mengintegrasikan pelaporan keberlanjutan ke dalam strategi perusahaan. Di era yang maju ini, kebutuhan untuk pelaporan non-finansial menjadi penting untuk meningkatkan perhatian pada aspek pelaporan keberlanjutan, yaitu sosial, lingkungan, dan tata kelola (ESG).

Meskipun penekanan pada keberlanjutan, termasuk aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola, serta tantangan lingkungan yang dihadapi oleh negara seperti Indonesia, perlu dipahami bagaimana manajemen puncak, khususnya CEO, mempengaruhi integrasi pelaporan keberlanjutan ke dalam strategi perusahaan. Usaha untuk mengoptimalkan pengambilan keputusan perusahaan dalam pelaporan keberlanjutan dan efisiensi kontrol keuangan ditentukan oleh CEO yang kompeten.

Dengan fokus pada SDGs, latar belakang pendidikan manajemen puncak sangat penting. Selain latar belakang pendidikan, gelar dari universitas bereputasi juga menjadi syarat untuk rekrutmen oleh perusahaan. Hal ini karena gelar dari universitas bereputasi datang dengan pendidik berkualitas tinggi, fasilitas, tuntutan akademik, dan ujian masuk universitas yang ketat. Universitas bereputasi memainkan peran vital dalam membentuk pemikiran dan perilaku lulusannya. Semakin bereputasi universitas yang memberikan gelar, semakin tinggi hasil yang diharapkan dari lulusannya.

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh bukti empiris mengenai pengaruh CEO dengan latar belakang MBA dari universitas bereputasi dan CEO dengan latar belakang pendidikan teknik dari universitas bereputasi terhadap pengungkapan pelaporan ESG. Dalam penelitian ini, digunakan perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode 2016-2020. Dengan menggunakan data dari 2016-2020, peneliti dapat membedakan antara pengungkapan sukarela dan wajib.

Ukuran sampel yang diperoleh adalah 407 perusahaan, dilakukan uji analisis regresi least square (OLS), robustness, dan analisis tambahan menggunakan STATA 14.0. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa CEO dengan gelar MBA dan teknik dari universitas bereputasi memiliki pengaruh terhadap pengungkapan ESG.

Penelitian ini berkontribusi pada literatur mengenai karakteristik CEO, khususnya latar belakang pendidikan mereka dengan gelar spesifik seperti MBA dan teknik, dan pengaruhnya terhadap pengungkapan ESG. Untuk pembuat kebijakan, temuan ini menyoroti pentingnya mempertimbangkan latar belakang pendidikan CEO dalam proses seleksi dan pelatihan, serta implikasinya terhadap regulasi pengungkapan ESG.

Penulis: Kukuh Shafira Ulinnuha, Iman Harymawan, Siti Nur Aini

Untuk informasi lebih lanjut, penelitian ini dapat diakses dengan link berikut ini: https://jurnal.usk.ac.id/JDAB/article/view/33305