Penyakit neurodegeneratif termasuk kepikunan menjadi perhatian utama dunia kedokteran dan kesehatan masyarakat belakangan ini dikarenakan perubahan demografi global. Perawatan untuk kepikunan kronis juga mahal dan memiliki banyak keterbatasan. Seseorang yang mengalami kepikunan akan mengalami penurunan produktivitas kerja dan kualitas hidup serta memerlukan biaya perawatan yang lebih besar, sehingga kepikunan juga memiliki dampak pada ekonomi masyarakat global. Penyakit terkait kepikunan yang paling banyak ditemui adalah penyakit Alzheimer. Penyakit ini telah menjadi penyebab utama gangguan memori pada lansia di seluruh dunia, dengan jumlah kasus diperkirakan mencapai 50 juta orang.Â
Laporan Asosiasi Alzheimer Dunia pada tahun 2020 juga menunjukkan peningkatan 10 juta kasus Alzheimer setiap tahunnya. Gangguan kognitif pada Alzheimer merupakan manifestasi dari serangkaian perubahan pada otak, diawali dengan pembentukan plak di sel saraf yang mempengaruhi sinyal neurokimia di otak, salah satunya adalah reseptor N-metil-D-aspartat (NMDA). Plak pada sel saraf dapat menyebabkan masuknya ion kalsium yang mengganggu regulasi reseptor NMDA (NMDAR) sehingga menyebabkan aktivasi protease. Protease ini memecah sinyal faktor neurotropik yang diturunkan dari otak (brain-derived neurotrophic factor/BDNF) dengan memotong reseptor utamanya. Gangguan pada jalur pensinyalan ini menyebabkan hilangnya sambungan saraf atau jalur sinaptik di seluruh area kortikal otak, termasuk hipokampus, yang berperan penting dalam penurunan kapasitas memori.
Hingga saat ini, telah terdapat beberapa macam produk alami atau herbal yang diklaim dapat mencegah atau mengobati kepikunan. Namun demikian, dukungan ilmiah atau bukti mengenai kemanjuran dan keamanan produk alami tersebut masih kurang. Salah satu produk alami yang memiliki potensi untuk mencegah kepikunan tersebut adalah terong belanda. Kami melakukan penelitian sekunder berupa tinjauan sistematis terkait manfaat terong belanda atau Solanum betaceum untuk meningkatkan kemampuan kognitif otak. Terong belanda, dikenal sebagai tamarillo atau tomat pohon, mengandung berbagai senyawa bioaktif penting, yaitu antosianin dan fenol. Keduanya dikenal sebagai agen antioksidan yang berpotensi bermanfaat bagi daya ingat. Kadar antosianin pada daging buah kering berkisar antara 102,4-168,9 mg/100 g, lebih tinggi dibandingkan buah lain dengan warna serupa. Sementara, kandungan fenolnya berkisar antara 2,43-6,18 g/100 g berat kering. Kandungan antioksidan terong belanda jauh lebih besar daripada apel, kiwi, anggur merah, maupun jeruk.
Dari penelusuran database yang kami lakukan, kami mendapatkan tiga jurnal terkait manfaat terong belanda pada hewan coba tikus yang mengalami penurunan memori dibandingkan dengan kelompok kontrol. Defisit memori disebabkan oleh suntikan aluminium klorida (AlCl3) dilakukan pada dua penelitian, sementara satu penelitian lain menggunakan asap rokok. Ekstraksi terong belanda dapat dilakukan dengan mengeringkan buah menggunakan fresh dryer, kemudian dilanjutkan dengan mengekstraksi serbuk kering dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol. Selanjutnya, ekstrak diolah dengan penyaringan dan penguapan dengan alat penguap vakum putar dan ditambahkan ke dalam pakan hewan coba sebagai suspensi. Setiap penelitian menggunakan dosis ekstrak terong belanda dan waktu pengamatan yang berbeda, akan tetapi ketiga penelitian tersebut sama-sama memberikan hasil yang bagus. Uji perilaku hewan coba menunjukkan kemampuan memori tikus yang mendapat ekstrak terong belanda meningkat secara signifikan. Pemeriksaan biokimia terkait penanda kerusakan otak, enzim antioksidan, dan radikal bebas juga menunjukkan adanya perbaikan pada ketiga penelitian. Antosianin telah terbukti meningkatkan regulasi molekul antioksidan endogen.
Selain itu, antosianin dapat bekerja langsung untuk mencegah kerusakan mitokondria akibat radikal bebas. Efek fenol dan antosianin untuk melindungi otak juga dapat terjadi melalui interaksi dengan beberapa jalur pensinyalan sel yang mengatur kelangsungan hidup sel saraf. Lebih jauh lagi, fenol dan antosianin dapat menghambat kematian sel sehingga meningkatkan masa hidup dari sel saraf. Fenol dan antosianin dapat menjaga fungsi sinaptik dengan menginduksi kepadatan tulang belakang saraf yang dapat meningkatkan hubungan antar sel saraf. Sifat protektif lain dari terong belanda juga didapatkan dari mekanisme anti radang.
Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa fenol dan antosianin mampu melemahkan ekspresi molekul radang, sitokin dan tumor necrosis factor (TNF-É‘) dalam sel glial. Antosianin dan fenol pada terong belanda juga berperan dalam keseimbangan kalsium di dalam sel sehingga juga dapat meningkatkan fungsi kognitif. Kedua senyawa tersebut juga memiliki peran dalam meningkatkan oksigenasi otak dan mencegah kerusakan protein saraf. Berbagai mekanisme tersebut memungkinkan pengembangan penelitian terong belanda pada uji klinis lebih lanjut pada manusia sehingga dapat diaplikasikan untuk meningkatkan kemampuan memori seseorang dan mencegah kepikunan.
Penulis: Citrawati Dyah Kencono Wungu. Dosen Fakultas Kedokteran UnairÂ
Artikel Ilmiah Populer ini diambil dari artikel dengan judul: Potential of Solanum betaceum to improve cognition: A systematic review of animal studies yang dimuat pada jurnal ilmiah Journal of Pharmacy & Pharmacognosy Research vol 12 no 1 tahun 2024.
Link artikel asli dapat dilihat pada: https://jppres.com/jppres/potential-of-solanum-betaceum-to-improve-cognition/Â





