Malaria merupakan penyakit yang penyebabnya adalah spesies parasit dengan penularan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Malaria tersebar di beberapa wilayah di dunia. Umumnya tempat rawan malaria terdapat di negara-negara berkembang yang tidak memiliki fasilitas penyimpanan atau pembuangan air yang memadai. Sehingga menyebabkan air menggenang dan menjadi tempat bagi nyamuk untuk bertelur. Tanaman tempuyung bisa menjadi salah satu alternatifnya.
Parasit dan Tantangan Malaria
Tantangan utama dalam memerangi malaria adalah parasit yang memiliki resistensi terhadap obat antimalaria. Plasmodium falciparum, misalnya, menjadi resisten terhadap obat antimalaria. Obat-obatan tersebut antara lain artemisinin, piperaquine, mefloquine, dan chloroquine. Plasmodium merupakan penyebab utama penyakit malaria.
P. berghei merupakan salah satu model penelitian malaria terbaik dan termasuk dalam analisis patologi berat yang berhubungan dengan infeksi malaria. P. berghei dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal melalui peningkatan natrium urea dan menunjukkan peningkatan kreatinin yang merupakan indikasi bahwa parasit tersebut mungkin telah mengubah fungsi ginjal.
Kandungan Tempuyung
Salah satu tanaman yang secara tradisional menjadi obat atau jamu adalah tanaman tempuyung (S. arvensis). Tempuyung mengandung senyawa organik seperti flavonoid, saponin, kumarin, dan polifenol. Memiliki kandungan ion mineral yang tinggi seperti kalium, silika, dan magnesium di dalamnya bisa menjadi obat penghancur batu ginjal dan sebagai obat diuretik.
Daun S. arvensis juga mempunyai kemampuan memperbaiki kerusakan pada ginjal. Dengan dosis 200 mg/kg BB dengan adanya perubahan pada area tubulus. Berdasarkan senyawa dan berkhasiat daun untuk kesehatan ginjal serta kemampuan Plasmodium dalam merusak ginjal, maka peneliti melakukan penelitian pengaruh ekstrak daun S. arvensis terhadap histologi organ ginjal mencit yang dipapar P. berghei.
Plasmodium berghei merupakan parasit yang menyebabkan komplikasi atau kerusakan pada ginjal dan akan melepaskan BUN (blood urea nitrogen) dan kreatinin akibat gangguan fungsi ginjal. Ekstrak daun tempuyung (Sonchus arvensis L.) mengandung senyawa antioksidan berupa flavonoid untuk memperbaiki kerusakan ginjal pada mencit (Mus musculus) yang terpapar Plasmodium berghei.
Cara Kerja dan Hasil
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai dosis ekstrak daun tempuyung terhadap histologi ginjal mencit yang terpapar P. berghei. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap dengan menggunakan 28 ekor mencit BALB/c jantan berumur 6-8 minggu.
Peneliti membagi mencit menjadi 7 kelompok perlakuan yaitu KN (Kontrol Normal), K+ (diberi larutan klorokuin difosfat 10 mg/kg BB (berat badan)), K- (diberikan infeksi P. berghei), P1 (S. arvensis 1 mg/kg BB), P2 (S. arvensis 10 mg/kg BB), P3 (S. arvensis 100 mg/kg BB), P4 (S. arvensis 200 mg/kg BB). Perlakuan terjadi selama 7 hari secara oral dengan pemberian ekstrak daun tempuyung (S. arvensis). Kemudian serum darah peneliti ambil secara intrakardial dan diambil ginjalnya untuk proses pengamatan. Data kemudian peneliti analisis secara statistik dengan p = 0,05.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun tempuyung berpengaruh nyata terhadap perbaikan sel glomerulus yang mengalami degenerasi hidropik dan nekrosis, namun tidak berpengaruh nyata terhadap atrofi glomerulus. Dengan demikian, daun tempuyung dapat menjadi alternatif untuk menjaga kesehatan ginjal penderita malaria sekaligus sebagai obat malaria. Namun, untuk aplikasi di bidang farmasi dan kesehatan perlu untuk penelitian lanjutan terkait keamanan dan uji klinis.
Penulis: Dwi Kusuma Wahyuni, SSi MSi





