Universitas Airlangga Official Website

Pengaruh Keluarga pada Perilaku Merokok di Remaja

Prilaku merokok di remaja (Ilustrasi oleh Mstar)

Masa remaja adalah masa transisi menuju dewasa yang belum sempurna dan melalui hari-hari yang labil. Di masa itu mereka juga memiliki emosi yang labil, yang belum sesuai seperti ukuran jasmaninya. Masa remaja merupakan masa dimana seseorang mempunyai rasa keingintahuan yang dalam, sehingga timbul rasa ingin coba-coba. Maka tak heran apabila ditemukan banyak perilaku merokok di remaja. Sejak tahun 2013 prevalensi merokok pada remaja (10-18 tahun) terus meningkat, yaitu 7,2% (Riskesdas 2013), 8,8% (Sirkesnas 2016) dan 9,1% (Riskesdas 2018). Pentingnya pengendalian tembakau ( tobacco control)  yang merupakan salah satu bagian dari SDG ke-3 yaitu Ensure healthy lives and promote well-being for all at all ages ( Memastikan kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan bagi semua orang di segala usia). 

Penelitian di Surabaya yang dilaksanakan di SMA di Surabaya pada remaja laki-laki menunjukkan Faktor yang mempengaruhi merokok di kalangan remaja adalah pengaruh keluarga, pengaruh teman, dan pengaruh iklan. Pengaruh keluarga merupakan faktor terkuat dalam merokok di kalangan remaja laki-laki berusia 15 hingga 18 tahun.

Kami juga menemukan bahwa memiliki anggota keluarga yang merokok mempengaruhi anggota keluarga yang lain untuk merokok, terutama yang lebih muda. Dari hasil penelitian tersebut, kami menyimpulkan bahwa semakin banyak anggota keluarga yang memiliki perilaku merokok, maka semakin banyak pula remaja laki-laki yang berisiko merokok. Penelitian lain juga menemukan bahwa terdapat korelasi positif antara jumlah perokok berat di kalangan remaja dan pengaruh keluarga mereka.

Ini berarti ini juga merupakan faktor risiko. Dapat disimpulkan bahwa remaja yang memiliki lebih banyak teman yang merokok memiliki risiko lebih tinggi untuk merokok. Sebuah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa teman sebaya yang merokok dan memiliki hubungan interpersonal yang dekat dengan subjek berkorelasi positif dengan kelanjutan merokok, tergantung pada perilaku teman mereka.

Faktor lingkungan sosial yang terakhir adalah faktor iklan. Ada banyak bentuk iklan rokok, seperti spanduk besar, promosi dan pendanaan dari perusahaan rokok, iklan TV atau radio, dan iklan di media sosial. Ditemukan bahwa 46 dari 95 responden (54,1%) yang merokok mengakui bahwa iklan dapat mempengaruhi mereka untuk merokok, terutama iklan di media sosial. Banyak remaja yang memiliki akses ke media sosial dan juga banyak iklan yang ditampilkan di dalamnya. Hal ini menunjukkan bahwa iklan merupakan faktor risiko yang dapat mempengaruhi remaja untuk merokok. Artinya, semakin banyak iklan rokok yang ada, semakin banyak pula yang merokok, yang mempengaruhi perilaku merokok mereka.

Perlu adanya program dan kebijakan yang terintegrasi untuk mencegah dan merehabilitasi para remaja ini. Intervensi ini harus melibatkan semua pihak. Hal ini mencakup pemerintah sebagai penentu kebijakan, serta sekolah, rumah, dan lingkungan sekitar remaja tersebut. Para remaja juga perlu meningkatkan pemahaman mereka tentang dampak merokok.

Penulis: Kurnia Dwi Artanti,dr., M.Sc

Link/ Judul Jurnal: The influence of social environment and facility support on smoking in adolescent males in Indonesia 

https://journals.sagepub.com/doi/epub/10.1177/22799036241228091