Intelegensi Artifisial (AI) mulai jamak digunakan di berbagai sektor dan terbukti efektif dalam membantu pekerjaan manusia terutama dalam lingkup pembelajaran mandiri. ChatGPT, salah satu platform AI, telah banyak dipakai dalam bidang kedokteran dan kesehatan untuk memudahkan keperluan pendidikan, penelitian dan praktik profesional. Bahkan terdapat kecenderungan yang meningkat sejak tahun 2022 untuk menggunakan ChatGPT pada sektor kedokteran dan kesehatan terutama oleh para pendidik.
Pada penelitian kali ini, ChatGPT ditantang untuk mampu membuat suatu modul pembelajaran terintegrasi tentang farmakoterapi pada penyakit infeksi. Peneliti dari Fakultas Farmasi Universitas Airlangga bersama dengan peneliti dari Malaysia, Brunei dan Uni Emirat Arab menguji potensi, kelebihan dan risiko penggunaan ChatGPT pada bidang pendidikan kesehatan.
ChatGPT disodori skenario untuk membuat empat bagian modul yaitu 1) Dasar pembuatan modul mulai dari latar belakang penyusunan modul hingga umpan balik dan evaluasi modul, 2) Penyusunan silabus dan topik pembelajaran, 3) Penyusunan kisi-kisi materi perkuliahan dan 4) Penyusunan soal sekaligus jawaban ujian. Tiga orang professor dalam bidang farmakoterapi kemudian melakukan penilaian kualitas isi dan akurasi kebenaran modul dengan memberikan rating pada masing-masing bagian dengan cermat.
Respon ChatGPT ternyata cukup mencengangkan. Pada bagian pertama, ChatGPT memiliki tingkat akurasi 50-85%. Akurasi terendah yaitu pada bab dimana ChatGPT diminta untuk melakukan targeted need assessment (membuat capaian pembelajaran) sebesar 50%. Sedangkan akurasi tertinggi didapatkan dari kemampuan ChatGPT melakukan evaluasi pembelajaran sebesar 85%. Pada bagian kedua, akurasi mencapai 70%, sedangkan pada bagian tiga dan empat menghasilkan akurasi masing-masing sebesar 65% dan 70%.
Peneliti menyimpulkan bahwa ChatGPT potensial untuk membantu penyusunan suatu kurikulum dan modul pembelajaran. Meskipun demikian, penggunaan ChatGPT bukannya tanpa masalah. ChatGPT memberikan hasil yang bervariasi sehingga menyulitkan untuk pembelajaran yang konsisten. ChatGPT bisa membantu pendidik untuk penyusunan dan pengembangan kurikulum dengan syarat yaitu tidak 100% bergantung pada penggunaan ChatGPT.
Link artikel: https://mededu.jmir.org/2024/1/e47339/
Baca juga: ChatGPT dan Perjalanan Halal: Arah Penelitian Masa Depan





