Universitas Airlangga Official Website

Tinjauan Sistematis dan Meta-Analisis Prevalensi Karies Gigi pada Anak-Anak

Ilustrasi karies gigi. (Foto: dictio.id)
Ilustrasi karies gigi. (Foto: dictio.id)

Karies gigi atau dikenal juga dengan gigi berlubang merupakan permasalahan global. Hal ini timbul akibat dari fermentasi makanan berkarbohidrat oleh bakteri, yang menghasilkan produk samping yang bersifat asam, sehingga email gigi terdemineralisasi. Disbiosis mikrobiom merupakan faktor yang turut berkontribusi, melibatkan berbagai organisme penghasil asam dan toleran, seperti Streptococcus mutans, Lactobacillus spp., Scardovia wiggsiae, dan Actinomyces spp. Karies gigi pada anak-anak seringkali disertai dengan timbulnya nyeri gigi, ketidaknyamanan saat makan dan potensi kehilangan gigi, bahkan menyebabkan gangguan nutrisi akibat kesulitan makan. Selain hal tersebut, terjadinya karies gigi dapat dikaitkan dengan peningkatan risiko infeksi, pembentukan abses, implikasi terhadap perkembangan gigi permanen, potensi kecemasan dan kegelisahan, dan bahkan efek buruk pada menurunkan konsentrasi belajar anak. Oleh karena itu, deteksi dini karies gigi sangatlah penting.

Berdasarkan temuan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, prevalensi masalah kesehatan gigi dan mulut di Indonesia sebesar 57,6%. Indeks DMFT yang digunakan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berfungsi sebagai acuan penting indikator status kesehatan mulut, serta digunakan untuk pengukuran dan perbandingan tingkat kerusakan gigi. Indeks ini mengevaluasi gigi yang karies, gigi hilang dan ditumpat, sehingga memiliki peran penting dalam menganalisis, mengendalikan, mengembangkan, dan menerapkan program kesehatan mulut. Anak dengan usia 5 tahun yang memiliki skor keparahan karies DMFT >6 termasuk dalam kategori karies anak usia dini yang parah.

Secara global, prevalensi karies gigi sangat bervariasi pada anak-anak. WHO memperkirakan frekuensi karies gigi pada usia 5–6 tahun anak-anak dari negara-negara dengan pendapatan rendah dan menengah adalah 60%–90 %, sedangkan di negara-negara berpendapatan tinggi, 20%–40 % anak-anak pada kelompok usia tersebut terpengaruh sosial ekonomi. Perbedaan regional dan demografi juga mendorong penelitian di berbagai negara untuk menilai kesehatan gigi melalui prevalensi karies. Di Indonesia, pemutakhiran dan perbaikan data prevalensi dan tingkat keparahan penyakit karies gigi pada anak-anak sangat penting untuk sebagai dasar dalam perencanaan kebijakan kesehatan mulut yang efisien dan pengalokasian sumber daya dokter gigi.

Penelitian ini merupakan tinjauan sistematis dan meta-analisis dengan berpedoman pada Item Pelaporan untuk Tinjauan Sistematis dan Meta-analisis. Penelitian ini didaftarkan di PROSPERO (No. CRD42023457894) dengan menggunakan berbagai database seperti PubMed, Cochrane Library, dan Embase. Sejauh pengetahuan kami, tinjauan sistematis dan meta-analisis ini merupakan penelitian secara komprehensif pertama terhadap prevalensi karies gigi pada anak-anak di Indonesia. Temuan kami menunjukkan prevalensi karies yang tinggi, dengan angka serupa di seluruh lokasi sampel Jakarta sebagai kota besar dan non-Jakarta. 

Bakteri utama dalam rongga mulut mencakup spesies gram positif dan gram negatif, serta strain aerobik dan anaerobik. Perubahan lingkungan mikro dapat mengganggu interaksi flora-inang komensal, sehingga menyebabkan penyakit. Dysbiosis mikrobiom berkontribusi terhadap perkembangan karies dan penyakit periodontal. Bakteri patogen terutama akan membentuk biofilm yang tidak mudah untuk dirusak. Komposisi polimikroba biofilm oral meliputi Streptococcus, Actinomyces, Lactobacillus, Veillonella, Neisseria dan Eubacterium. Meskipun biofilm dapat berkembang dalam kondisi homeostatis manusia, biofilm juga bertanggung jawab terhadap kejadian karies gigi dan periodontitis.

Karies ditemukan pada >50% subjek penelitian berusia <11 tahun, dengan kategori usia yang memenuhi syarat meliputi balita (1–5 tahun), anak-anak (6–10 tahun), dan remaja (10–19 tahun). Kemampuan kognitif dan kapasitas analitis cenderung meningkat seiring bertambahnya usia, sehingga memungkinkan individu memperoleh lebih banyak pengetahuan. Terdapat korelasi antara usia dan tingkat pengetahuan individu, dimana individu yang lebih dewasa menunjukkan kematangan dan ketajaman mental yang lebih besar dibandingkan dengan individu yang lebih muda. Selain usia, pendidikan dan pekerjaan dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang. Pendidikan sangat mempengaruhi akumulasi pengetahuan, karena tingkat pendidikan yang lebih tinggi berkorelasi dengan peningkatan pemrosesan informasi dan akumulasi pengetahuan. Selain itu, usia mencakup faktor intrinsik, seperti pengalaman, lingkungan, dan pengetahuan sebelumnya, yang berkontribusi terhadap pemahaman individu tentang pemeliharaan kesehatan.

Kebiasaan pola makan yang tidak sehat, termasuk konsumsi makanan berkalori tinggi, berkontribusi terhadap peningkatan prevalensi karies. Selain itu, faktor pola makan juga berkontribusi terhadap peningkatan angka anak-anak yang kelebihan berat badan dan obesitas secara global dalam beberapa dekade terakhir. Penelitian yang mengeksplorasi hubungan antara karies gigi dan kelebihan berat badan/obesitas pada anak-anak telah menyoroti faktor risiko yang sama. Kami menemukan bahwa laki-laki dan wanita dengan kategori Body Mass Index (BMI) lebih rendah akan menghadapi risiko lebih tinggi terjadinya karies, hal ini sesuai dengan temuan survei ekstensif yang dilakukan di Guangzhou dan Amerika Serikat. 

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://www.cell.com/heliyon/fulltext/S2405-8440(24)08133-7

Hasan F, Yuliana LT, Budi HS, Ramasamy R, Ambiya ZI, Ghaisani AM. Prevalence of dental caries among children in Indonesia: A systematic review and meta-analysis of observational studies. Heliyon. 2024 May 29.

Baca juga: Analisis Bilangan Bejan dan Pembangkitan Entropi MHD Tak Tunak