Jenis hewan peliharaan masyarakat saat ini semakin beragam. Tidak hanya jenis mamalia kecil yang umum seperti anjing, kucing, dan marmut namun juga merambah ke unggas khususnya burung. Salah satu jenis burung yang saat ini banyak digemari sebagai hewan peliharaan adalah Lovebird. Lovebird termasuk burung hias yang menarik perhatian karena karakteristik dan perilaku khas yang dimiliki. Lovebird di Eropa banyak digemari karena warna bulu dengan corak yang beragam sehingga kontes-kontes yang diselenggarakan berdasarkan dari keindahan corak warna bulu semata. Kontes Lovebird di Indonesia tidak berdasarkan warna bulu yang indah saja, namun berdasarkan suara kicauan yang dihasilkan pula. Suara kicauan Lovebird cenderung lebih monoton karena variasi terbatas dan suara trecetan yang lebih menonjol. Pamor Lovebird sebagai burung kontes lebih stabil dibandingkan jenis burung lain yang cepat redup lalu hilang dari peredaran. Kontes Lovebird yang semakin banyak berdampak pada permintaan masyarakat pecinta Lovebird yang meningkat di pasaran. Hal inilah yang disinyalir memicu kalangan breeder melakukan inovasi-inovasi. Persilangan bertujuan agar mendapat warna bulu yang semakin beragam dan indah sekaligus menghasilkan kualitas suara kicau yang semakin baik. Salah satu indikator kualitas suara kicau Lovebird adalah suara trecetan yang panjang.
Suara kicau menjadi hal yang penting bagi eksistensi Lovebird di Indonesia. Variasi kicauan burung adalah hasil dari variasi anatomi syrinx itu sendiri. Hal tersebut mendorong untuk dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai anatomi organ penghasil suara kicau, yaitu syrinx karena masih kurangnya ilmu pengetahuan tentang organ syrinx terkhusus pada Lovebird. Penelitian ini menggunakan sampel Lovebird jantan dan betina untuk mengetahui kemungkinan terdapat perbedaan morfometrik dan morfologi anatomi pada syrinx. Pemilihan umur 2 sampai 4 bulan untuk mengetahui struktur anatomi pada saat dan sesudah proses perkembangan suara. Lovebird mengalami lima fase perkembangan suara yang terjadi mulai 0 sampai 91 hari. Proses perkembangan suara Agapornis terdiri dari lima fase menurut karakter suara kicau. Fase pertama atau fase bawaan pada umur 0 sampai 12 hari hanya menghasilkan silabel tunggal yang pendek. Fase kedua pada umur 13 sampai 30 hari adalah fase penting untuk pembentukan vokal learning pathways. Pada fase ini suara kicau memiliki karakter silabel yang lebih banyak dan lama. Fase ketiga pada umur 31 sampai 45 hari, perkembangan suara kicau multisilabel dengan frekuensi lebih tinggi. Fase keempat pada umur 46 sampai 90 hari, memori jangka pendek diubah menjadi memori jangka panjang, suara kicau dari burung remaja sudah mirip dengan contoh suara kicau yang dipelajari. Fase kelima pada umur lebih dari 91 hari vocal motor pathway telah terbentuk, suara kicauan dengan variasi nada lebih stabil dan harmonis. Sesuai uraian di atas maka, Agapornis mulai dapat berkicau dengan baik mulai umur 3 bulan.
Hasil penelitian yang diperoleh dari penelitian ini adalah makro anatomi syrinx Lovebird dari hasil pengamatan organ, rata-rata luas MTL, panjang cranio-caudal PP dan diameter trachea yang diukur menggunakan software Image J. Perbedaan pengamatan anatomi dapat diketahui dengan membandingkan data yang diperoleh sedangkan data morfometrik menggunakan analisis statistika. Hasil pengamatan topografi syrinx Lovebird pada seluruh kelompok jenis kelamin dan umur tidak ditemukan perbedaan. Lokasi syrinx pada rongga thorax condong ke sisi kiri dengan posisi terhadap organ di sekelilingnya adalah berada di sisi kiri dari esofagus, dorsocranial dari jantung dan caudal dari tembolok. Trachea bermula pada bagian akhir larynx dan berada di ventral esofagus. Trachea pada area cervical berada di sisi kiri dari esofagus dan sebelum masuk ke rongga thorax trachea berada di dorsal dari esofagus yang kemudian membentuk tembolok. Tembolok berlanjut ke caudal kembali membentuk esofagus yang bersebelahan dengan syrinx. Esofagus berlanjut ke caudal dengan menyusup ke dorsal bifurcatio trachea kemudian berada di ventral pulmo dan menjadi proventriculus. Seluruh sampel memiliki tipe syrinx tracheal. Pengamatan keseimbangan ukuran secara visual syrinx tampak simetris baik secara laterolateral dan dorsoventral. Membran tympaniform tersusun atas lateral dan membran medial tympaniform. MTL terdapat pada kedua sisi lateral syrinx yaitu MTL kanan dan kiri sedangkan MTM terdapat pada bagian medial dari kedua bronchus primer. Batas cranial MTL adalah struktur PP yang dilapisi oleh otot Syringealis profundus dan batas caudal MTL adalah kartilago bronchosyringealis pertama. MTM muncul mulai dari ujung cranial bronchus hingga ujung caudal bronchus yang masuk ke dalam pulmo. Syrinx Lovebird tidak ditemukan struktur pessulus dan labia. Hasil pengamatan skeletal syrinx Lovebird pada seluruh kelompok jenis kelamin dan umur terdapat struktur modifikasi tympanum berupa taju ke arah caudal yaitu processus tympanicus sebanyak dua buah pada bagian dorsal dan ventral. Processus tympanicus berada di antara sepasang PP (paired protrusions). Struktur PP atau tympanic plates berupa lempengan tympanum yang membentuk tonjolan ke arah caudal sebanyak satu pasang masing-masing pada bagian dorsal dan ventral ditemukan pada bagian caudal tympanum dan berbatasan dengan
Peningkatan luas MTL kanan maupun kiri seiring dengan bertambah umur Lovebird jantan dan betina. MTL kanan dan kiri Lovebird betina lebih luas dibandingkan Lovebird jantan. Parameter lain yaitu diameter trachea atas, tengah, bawah, rata-rata panjang PP dorsal serta ventral memiliki grafik cenderung stabil tidak mengalami peningkatan atau penurunan berarti seiring bertambahnya umur baik jantan maupun betina. Syrinx merupakan organ vokal yang dimiliki oleh avian dengan prinsip kerja seperti instrumen musik. Suara yang dihasilkan syrinx berasal dari tekanan udara dari paru-paru yang melintasi saluran aliran udara kemudian saluran menyempit dan menggetarkan membran syrinx sehingga timbul suara seperti prinsip saat manusia meniup klarinet yang menyebabkan reed bergetar mempersempit dan memperlebar saluran aliran udara. Setiap aves memiliki suara yang bervariasi hal tersebut karena terdapat variasi anatomi syrinx. Hasil pengamatan anatomi syrinx Lovebird pada penelitian ini menunjukkan struktur khas berupa modifikasi cartilago syrinx berupa processus tympanicus dan paired protrusions yang hanya dimiliki oleh burung keluarga Psittacidae. Paired protrusions termasuk ke dalam cartilago tracheosyringeal karena komposisi dan konsistensi mirip dengan tympanum dibandingkan dengan struktur penyusun cartilago bronchosyringealis. Tympanum tersusun atas empat sampai enam elemen sedangkan pada penelitian ini tympanum tersusun atas tiga elemen bahkan terdapat tympanum dari keluarga Psittacidae yang hanya tersusun atas dua elemen. Tipe syrinx Lovebird adalah tracheal berdasarkan letaknya berada di caudal dari trachea bawah dan belum mencapai bifurcatio trachea. Hasil penelitian ini mengungkap anatomi syrinx Lovebird jantan dan betina umur 2, 3 dan 4 bulan secara umum tidak terdapat perbedaan yang signifikan akan tetapi pada pengukuran morfometrik, terdapat perbedaan luas membran tympaniform lateral syrinx yang signifikan pada Lovebird jantan dan betina umur 2, 3 dan 4 bulan.
Penulis: Faisal Fikri, drh., M.Vet.
Sumber: Dewi CMS, Dhamayanti Y, Fikri F et al. An investigation of syrinx morphometry and sound frequency association in lovebirds (Agapornis fischeri) chirps [version 3; peer review: 2 approved]. F1000Research 2024, 11:354.





