Perbankan syariah merupakan lembaga bisnis yang beroperasi sesuai dengan prinsip syariah. Oleh karena itu, selain memperoleh keuntungan materi, tujuan utamanya adalah ukhrawi. Hal ini diwujudkan melalui penerapan etika bisnis yang sesuai dengan hukum Islam, seperti larangan bunga, pembiayaan pada perusahaan yang memproduksi barang haram, dan investasi pada surat berharga yang tidak termasuk dalam kriteria syariah.
Sebagai negara Muslim terbesar secara global, Indonesia merupakan pasar potensial bagi perbankan syariah. Oleh karena itu, berbagai kebijakan telah diterapkan pemerintah untuk meningkatkan kinerja lembaga bisnis ini. Hal ini menunjukkan kinerja perbankan syariah masih berada di bawah kinerja perbankan konvensional.
Atribut utama yang diperlukan untuk meningkatkan kinerja bank syariah antara lain adalah sumber daya manusia, sikap dan perilaku produktif, dan keterampilan manajerial. Oleh karena itu, kedua aspek kemampuan manajemen operasional dan akhlak yang sesuai dengan nilai-nilai Islam merupakan atribut yang perlu dimiliki oleh setiap SDM Bank Syariah untuk mencapai target yang dicanangkan. Peningkatan kinerja pegawai sesuai dengan pengelolaan yang baik terutama diwujudkan melalui gaya kepemimpinan. Employee engagement merupakan salah satu tolak ukur keberhasilan perusahaan dalam menangani permasalahan mengenai pengelolaan sumber daya manusia. Juga menyangkut ranah transendental atau komitmen syariah yang berpotensi besar memacu kinerja pegawai. Model kepemimpinan Islami tidak menjadi jaminan untuk meningkatkan kinerja pegawai.
Pendalaman Objek
Model kepemimpinan transformatif berpengaruh langsung dan signifikan terhadap kepuasan kerja. Namun dampaknya tidak signifikan terhadap kinerja jika diintervensi oleh komitmen pegawai. Peningkatan kinerja pegawai sesuai dengan pengelolaan yang baik terutama diwujudkan melalui gaya kepemimpinan. Banyak komponen yang semakin berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan. Oleh karena itu, kedua aspek kemampuan manajemen operasional dan akhlak yang sesuai dengan nilai-nilai Islam merupakan atribut yang perlu dimiliki oleh setiap SDM Bank Syariah untuk mencapai target yang dicanangkan . Hal ini menunjukkan kinerja perbankan syariah masih berada di bawah kinerja perbankan konvensional.
Penelitian yang telah disebutkan sebelumnya menyatakan bahwa kinerja karyawan dipengaruhi oleh kepemimpinan, kepuasan kerja, dan keterlibatan karyawan. Sebagai lembaga yang pengelolaannya berdasarkan konsep Islam, bank tidak terlepas dari kebiasaankebiasaan tertentu karena budaya kerja dipengaruhi oleh nilai-nilai, keyakinan spiritual, dan beberapa bentuk ritual. Hal ini menunjukkan perlunya perbaikan dalam penerapan etika dan budaya kerja yang baik, yang berorientasi pada dunia dan akhirat. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk membangun model yang menghubungkan Kepemimpinan Islami, Kepuasan Kerja, dan Keterlibatan Syariah untuk meningkatkan Kinerja Pegawai di bank syariah. Merujuk pada gambaran kondisi perbankan syariah di Indonesia, maka tantangan perbankan syariah di Indonesia adalah bagaimana meningkatkan kinerja bank syariah melalui pengelolaan Sumber Daya Manusia yang baik dan sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Tinjauan Pustaka
Kepemimpinan Islam
Kepemimpinan dalam hal ini berarti sebagai proses emosional yang perkembanganya melalui pengaruh sosial, misalnya kemampuan individu untuk 3 meminta bantuan dan dukungan orang lain untuk memenuhi tugas tertentu (Jennifer, 2000). Stoner dkk. (1995) menggambarkannya sebagai suatu proses yang secara langsung mempengaruhi aktivitas para anggotanya.
Kepuasan Kerja
Karyawan merasakan kepuasan kerja karena adanya faktor-faktor tertentu yang mendasarinya (Nasution et al., 2020). Mereka biasanya merasa nyaman dan sangat loyal, representasai cerminan perasaan mereka terhadap pekerjaan mereka (Schermerhorn et al., 2012). Tergantung sifat individu dan situasi pekerjaan (Ratnasari, Gunawan, bin Abu Thalib, dkk., 2020). Setiap karyawan mengalami tingkat kepuasan kerja yang berbeda-beda berdasarkan minat dan harapannya (Nelson & Quick, 2012)
Keterlibatan Syariah
Menurut Khan (2016), keterlibatan karyawan merupakan kombinasi variabel anteseden kognitif dan emosional di tempat kerja. Fungsi linier ini melibatkan anggotanya, sehingga menjamin organisasi berfungsi sebagaimana diharapkan (Harter et al., 2002). Rasa keterikatan juga dirasakan melalui perilaku positif terkait antusiasme atau kekuatan mental, dedikasi, dan daya serap (Rameshkumar, 2019).
Kinerja Karyawan
Kinerja pegawai merupakan catatan hasil fungsi pekerjaan atau kegiatan masing-masing dalam jangka waktu tertentu. Oleh karena itu, hasilnya didasarkan pada produktivitas yang efektif (Bernardin & Russell, 2013). Digambarkan juga sebagai prestasi atau keberhasilan seorang pegawai dalam bekerja, dalam artian dapat mewujudkan target yang telah ditetapkan oleh manajemen perusahaan yang perlu dipertanggungjawabkan dihadapan pimpinan.
Metode Penelitian dan Hasil
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif ini berfokus pada pengujian hipotesis dan analisis data melalui pengukuran dan analisis statistik. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan SEM (Structural Equation Modeling). Populasi yang menjadi fokus penelitian ini adalah seluruh pegawai dari 12 Bank Umum Syariah (BUS) Indonesia. Untuk penelitian ini, sampel atau responden yang digunakan adalah pegawai Bank Umum Syariah seluruh Indonesia yang telah bekerja minimal 3 tahun terakhir. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 400 responden. Pemilihan sampel mensyaratkan responden telah bekerja minimal 3 tahun dengan tujuan untuk memastikan bahwa karyawan yang menjadi responden memiliki pemahaman dan pengalaman komprehensif terhadap filosofi manajemen yang terkandung dalam strategi yang diterapkan oleh atasannya. Selain itu, responden dalam penelitian ini juga akan diklasifikasikan berdasarkan jabatannya, yaitu pegawai biasa dan manajer (kepala cabang).
Hasil penelitian menemukan bahwa Kepemimpinan Islam mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keterlibatan syariah dan kepuasan kerja. Kepuasan kerja juga berpengaruh signifikan terhadap keterlibatan syariah, sedangkan keterlibatan syariah juga berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan. Namun variabel Kepemimpinan Islami tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai, dan variabel Kepuasan Kerja juga tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai. Hubungan antar variabel tersebut menunjukkan bahwa model Kepemimpinan Islami saja tidak cukup untuk meningkatkan kinerja pegawai pada Bank Syariah di Indonesia. Meski demikian, optimalisasi dan penerapan Kepemimpinan Islami dapat memperkuat kepuasan kerja Sedangkan indikator sharia engagement yaitu Kepercayaan Terhadap Pengawasan Allah SWT mempunyai nilai loading factor yang paling kecil jika dibanding dengan indikator lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa dimensi ukhrawi belum dilaksanakan dengan baik. Hal ini merupakan tugas penting bagi perbankan syariah di Indonesia karena perlu dianggap sebagai label produk dan dimensi integral dari karyawan.
Penulis: Prof. Dr. Ririn Tri Ratnasari, S.E., M.Si.
Baca juga: Hubungan Jaringan, Kreativitas Wirausaha dan Keunggulan Kompetitif





