ASI merupakan nutrisi utama yang diberikan ibu kepada bayi. Nutrisi utama ini dapat mencegah kematian dan kesakitan pada bayi. Pemberian ASI utamanya diberikan pada bayi hingga usia 6 bulan dan lebih akan optimal apabila diberikan sampai usia 2 tahun. Berdasarkan data didapatkan bahwa data pemberian ASI eksklusif di Indonesia pada tahun 2022 tercatat hanya 72.04% sementara di Nusa Tenggara Timur tercatat 78.56%. Kupang merupakan salah satu daerah di Indonesia yang pencapaian pemberian ASI eksklusif masih belum memenuhi standar nasional. Banyak sekali faktor yang terlibat yang mempengaruhi pemberian ASI, harus ada komitmen dalam diri perempuan yang diiiringi dengan support system yang baik. Salah satu support system yang baik yakni tempat bekerja. Tempat bekerja diharapkan mampu memberikan sarana dan prasarana serta dukungan lainnya untuk mendukung pemberian ASI pada bayi. Salah satu faktor yang mempengaruhi pemberian ASI yakni banyak ibu yang bekerja dan masa cuti yang tidak memenuhi sehingga terpaksa tidak bisa memberikan ASI secara eksklusif. Penelitian ini melibatkan 84 responden yang bekerja sebagai tenaga kesehatan di Kabupaten Kupang.
Responden merupakan ibu yang memiliki anak usia 6-24 bulan. Penelitian menggunakan instrumen kuisioner yang diambil pada Januari-Maret 2024. Hasil menunjukkan bahwa lingkungan tempat kerja mayoritas dalam keadaan baik, namun perilaku menyusui menunjukkan hasil bahwa ibu memberikan ASI parsial. Tenaga kesehatan sebagai salah satu pekerjaan yang dirasa mampu memberikan ASI eksklusif namun berdasarkan penelitian ini didapatkan bahwa sebagian besar responden memberikan ASI campuran yakni diberingan selingan susu formula. Hal ini dikarenakan tempat bekerja tidak memberikan dukungan atau fasilitas untuk memberikan ASI eksklusif serta terdpat kekhawatiran apabila ASI yang dihasilkan tidak akan mencukupi.
Berdasarkan penelitian ini didapatkan bahwa keberhasilan pemberian ASI eksklusif dipengaruhi oleh bayak faktor salah satunya adalah dukungan dan fasilitas tempat kerja. Berdasarkan penelitian ini terdapat hubungan antara lingkungan kerja dengan perilaku menyusui pada tenaga kesehatan yang menyusui. Berdasarkan data tersebut, diharapkan komitmen semua pihak untuk menjalankan program yakni memberikan ASI selama 2 tahun pada anak. Pemangku kebijakan juga harus berperan memberikan peraturan kepada tempat kerja supaya mendukung secara kebijakan dan sarana prasarana pemberian ASI 2 tahun kepada anak. Selain itu, juga diperlukan komitmen ibu yang kuat sehingga meskipun bekerja tetap memberikan ASI kepada bayinya yakni dengan cara memompa ASI. Tenaga kesehatan harusnya bisa menjadi contoh untuk masyarakat dalam berperilaku yang baik dan benar dalam menyusui, karena tenaga kesehatan dianggap mampu secara pengetahuan dan harapannya sejalan dengan praktik yang dilakukan.
Informasi lebih lanjut dapat diakses di https://wjarr.com/content/influence-workplace-environment-behavior-health-workers-who-breastfeed-kupang-regency
baca juga: https://unair.ac.id/pengmas-pusat-halal-unair-tingkatkan-unique-selling-point-produk-umk-balikpapan/





