Universitas Airlangga Official Website

Potensi Uji Tusuk Alergen pada Pasien Alergi Susu Sapi

Potensi Uji Tusuk Alergen pada Pasien Alergi Susu Sapi
Photo by Surat Dokter

Dermatitis atopik, yang sering disebut eksim, adalah kondisi peradangan kulit yang ditandai dengan ruam kemerahan dan gatal. Pada bayi, ruam biasanya muncul di wajah, sedangkan pada anak-anak ruam sering timbul di area lipatan seperti tangan dan kaki. Kondisi ini sering terjadi pada usia anak dan sebagian kasus akan menghilang saat sudah menginjak usia remaja. Namun, dermatitis atopik juga dapat berlanjut hingga dewasa atau bahkan baru muncul saat dewasa. Faktor genetik memiliki keterkaitan dengan dermatitis atopik serta seringkali dihubungkan dengan riwayat alergi seperti asma, rinitis alergi, atau alergi lainnya. Selain itu, beberapa faktor eksternal seperti iritasi, stres, trauma, serta makanan dapat mempengaruhi munculnya gejala.

Alergi terhadap susu sapi merupakan jenis alergi yang cukup umum terjadi, terutama di usia anak-anak. Kandungan protein utama pada susu sapi yaitu kasein dan protein whey-lactoglobulin merupakan jenis protein penyebab timbulnya reaksi alergi. Gejala alergi biasanya mulai terlihat saat bayi berusia di bawah 1 tahun, namun setelah itu dapat membaik setelah anak mencapai usia sekitar 6 tahun. Dibandingkan dengan anak-anak, angka kejadian alergi susu sapi di usia dewasa terbilang sangat jarang. Hal ini diperkirakan akibat kurangnya pengetahuan mengenai alergi susu sapi sehingga menyebabkan kesalahan pelaporan pasien.

Untuk menegakkan diagnosis alergi diperlukan pemeriksaan yang menyeluruh, meliputi riwayat penyakit sekarang dan terdahulu, gejala klinis, serta dapat dilakukan beberapa uji pemeriksaan seperti uji cukit kulit (skin prick test/SPT), uji IgE spesifik, dan uji eliminasi diet. Pemeriksaan SPT merupakan salah satu pilihan instrumen diagnostik utama untuk mendeteksi penyebab alergi karena kemudahan pelaksanaan serta tidak membutuhkan biaya yang terlalu besar. Dalam penelitian ini, alergi susu sapi dievaluasi pada pasien dermatitis atopik dewasa dengan menggunakan reagen SPT susu sapi lokal, reagen SPT standar, dan uji IgE spesifik (sIgE). Selain itu juga dilakukan perbandingan antara kedua reagen untuk menilai konsistensi dan signifikansi hasil pengujian.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa pemeriksaan SPT mampu mengidentifikasi adanya rangsangan respon kekebalan tubuh terhadap alergen susu sapi walaupun dari riwayat klinis tidak ditemukan gejala alergi. Uji tusuk kulit yang menggunakan susu sapi lokal juga terbukti dapat menjadi instrumen diagnostik untuk mendeteksi alergi susu sapi pada pasien dermatitis atopik. Selain itu, pemeriksaan serum IgE spesifik lebih baik untuk menegakkan diagnosis alergi susu sapi dibandingkan serum IgE total. Pemilihan jenis uji pemeriksaan bergantung pada konteks klinis, riwayat pasien, serta sumber daya yang tersedia. SPT memiliki keunggulan pada kemudahan pemeriksaan dan nilai prediktif yang tinggi, sementara serum IgE spesifik menawarkan spesifisitas dan korelasi yang kuat dengan riwayat klinis. Uji SPT susu sapi lokal memiliki tingkat kesesuaian yang baik terhadap riwayat pasien serta memiliki relevansi yang signifikan dengan SPT susu sapi standar, sehingga dapat disimpulkan bahwa SPT susu sapi lokal dapat dipertimbangkan sebagai pilihan untuk memeriksa alergi susu sapi di Indonesia.

Penulis : Dr.Sylvia Anggraeni,dr.,Sp.DVE,Subsp.DAI

Link: https://e-journal.unair.ac.id/BIKK/article/view/56296/29496

Baca juga: Spesifik Tungau Debu Rumah dalam Mendiagnosis Rhinitis Alergi Lokal