Saat ini, sektor pertanian Jepang menghadapi kekurangan tenaga kerja yang signifikan, terutama akibat masalah demografis. Kekurangan tenaga kerja ini disebabkan oleh penurunan angka kelahiran dan populasi yang menua dengan cepat. Akibatnya, semakin sedikit orang muda yang ingin bekerja di bidang pertanian sehingga jumlah petani terus berkurang. Untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja, industri pertanian Jepang semakin banyak yang mempekerjakan pekerja asing. Bahkan seringkali para pekerja asing ini justru memainkan peran yang signifikan dalam menjaga produktivitas pertanian. Ketergantungan pada tenaga kerja asing ini menunjukkan betapa pentingnya reformasi menyeluruh untuk meningkatkan perlakuan dan kondisi kerja bagi semua pekerja pertanian, baik domestik maupun asing. Upaya mengatasi tantangan-tantangan ini sangat penting untuk memastikan keberlanjutan dan daya saing sektor pertanian Jepang di tahun-tahun mendatang.

Gambar 1. Pekerja asing memanen sawi di Jepang (kredit: informan penelitian)
Tenaga kerja asing seperti pemagang (jisshusei) dan pekerja berketrampilan khusus atau Specified Skilled Worker/SSW (tokutei ginou) yang tinggal di Jepang berada di posisi yang tidak pasti dan rentan. Program tersebut awalnya bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dari pemagang yang berasal dari Vietnam, Filipina, Indonesia dan lain-lain. Namun, banyak pihak yang mengkritik bahwa program ini justru menjadi alat untuk menjaring tenaga kerja bergaji rendah. Walau pemerintah Jepang telah menerbitkan Nōgyō no ‘hatari-kata kaikaku’ atau ’Reformasi Gaya Kerja’ di bidang Pertanian (MAFF 2020) sebagai pedoman untuk farm owner, tidak sedikit pekerja asing yang masih mengalami nasib buruk di tempat kerja. Sektor pertanian masih dianggap sebagai salah satu dari pekerjaan 3K (Kitanai/Kotor, Kitsui/Berat, dan Kiken/berbahaya), sehingga tidak banyak orang yang ingin berkecimpung di bidang ini.
Sebuah studi yang dilakukan oleh Nunuk Endah Srimulyani (Universitas Airlangga) dan Beatrice Lim Fui Yee (Universiti Malaysia Sabah) mengkaji tantangan yang dihadapi pekerja migran Indonesia saat bekerja di sektor pertanian Jepang, serta strategi adaptasi dan daya saing mereka. Karena pekerja migran Indonesia berasal dari negara yang tidak menggunakan huruf Kanji, diasumsikan bahwa bahasa merupakan hambatan utama bagi mereka. Selain itu, sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, praktik keagamaan seperti salat lima waktu dan berpuasa selama bulan Ramadan dapat menghambat daya saing mereka sebagai pekerja migran di Jepang. Proyek penelitian kualitatif ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis strategi adaptasi yang dilakukan oleh pekerja Indonesia. Data awal dikumpulkan secara online menggunakan Google Forms, dengan tujuh belas responden dari Prefektur Chiba, Ibaraki, Gifu, dan Gunma, yang bekerja di bidang peternakan dan pertanian. Dari hasil survei dan data primer lanjutan hasil wawancara mendalam kepada para pekerja asing dan beberapa farm-owner, terungkap bahwa pekerja dari Indonesia menghadapi tantangan yang signifikan dalam hal kemampuan berbahasa Jepang, perbedaan budaya kerja, dan kondisi cuaca yang ekstrem, terutama di daerah bersalju seperti Gunma.

Gambar 2. Ladang bawang bombay di musim dingin (kredit: informan penelitian)
Terlepas dari upaya pemerintah Jepang untuk meningkatkan iklim kerja yang kondusif bagi pekerja asing, masih banyak yang harus dilakukan untuk memastikan keselamatan mereka, perlakuan yang adil, dan kompensasi yang memadai. Meskipun strategi tujuh poin pemerintah untuk meningkatkan efisiensi kerja dan melindungi hak-hak pekerja merupakan langkah ke arah yang benar, strategi ini harus diimplementasikan secara efektif untuk mencapai hasil yang diinginkan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pekerja migran Indonesia di sektor pertanian Jepang menghadapi berbagai tantangan yang berkaitan dengan gegar budaya dan adaptasi, termasuk cuaca, kendala bahasa, praktik agama, perbedaan budaya kerja, dan isolasi sosial karena cara mempertahankan ningenkankei (hubungan antar manusia). Namun demikian, banyak pekerja Indonesia di sektor ini telah mengembangkan berbagai strategi untuk beradaptasi dan mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut, seperti belajar bahasa Jepang, membangun jaringan sosial dengan pekerja lain, dan mencari dukungan dari pemberi kerja.
Penelitian ini mengidentifikasi berbagai strategi adaptasi yang dilakukan oleh pekerja Indonesia untuk mengatasi perbedaan kebiasaan, budaya kerja, bahasa, lingkungan, dan agama. Penelitian ini menunjukkan bahwa menjaga ikatan sosial yang kuat antara keluarga dan perusahaan merupakan cara yang efektif untuk mengatasi beberapa tantangan yang dihadapi pekerja migran. Selain itu, anggapan bahwa asal negara yang bukan berbasis huruf Kanji dan praktik agama Islam menyulitkan pekerja migran untuk bekerja di Jepang tidak sepenuhnya terbukti. Meskipun kemampuan membaca dan menulis huruf Kanji orang Indonesia tidak secepat orang Cina, Korea, ataupun Vietnam, para farm owner berpendapat bahwa intonasi dan pelafalan bahasa Jepang orang Indonesia lebih mudah dimengerti. Kepolosan dan keseriusan para pekerja migran Indonesia dalam bekerja juga menjadi nilai tambah yang menarik para pemilik perkebunan untuk mempekerjakan mereka.
Oleh karena itu, pengalaman para pekerja migran Indonesia di sektor pertanian Jepang dapat memberikan wawasan yang berharga tentang tantangan yang dihadapi oleh pekerja asing di industri ini. Dengan mendengarkan cerita mereka dan mengatasi masalah mereka, Pemerintah Jepang dapat bekerja untuk menciptakan sektor pertanian yang lebih inklusif dan adil. Langkah ini tidak hanya akan sangat bermanfaat bagi pekerja asing, tetapi juga memainkan peran penting dalam memastikan keberlanjutan jangka panjang dan daya saing sektor pertanian Jepang. Selain itu, strategi adaptasi yang dilakukan oleh pekerja migran Indonesia di atas dapat menjadi inspirasi dalam mengelola pekerja migran, khususnya di negara-negara minoritas Muslim lainnya.
Penulis: Nunuk Endah Srimulyani, S.S., M.A., Ph.D (Prodi Bahasa dan Sastra Jepang FIB Unair).
Link: 10.18848/2325-1115/CGP/v20i02/27-46.
Baca juga: Pengalaman Para Care Worker Indonesia yang Bekerja di Jepang





