UNAIR NEWS — Benang jahit operasi merupakan salah satu bagian terpenting dalam proses penyembuhan luka pasca operasi, terutama pada luka pasca operasi caesar yang sering mengalami jahitan kurang kuat sehingga terbuka. Benang jahit bedah saat ini masih berupa bahan yang tidak dapat diserap oleh tubuh (non absorbable).
Padahal, benang jahit operasi memegang peranan penting dalam proses penyembuhan pada jaringan tubuh manusia. Setelah beberapa lama proses penyembuhan, harus dilakukan pengangkatan benang jahit bedah non absorbable tersebut agar tidak terjadi kerusakan pada jaringan tubuh.
Efek samping dari proses penjahitan luka dengan benang jahit bermaterial non absorbable itu dapat membawa mikroorganisme ke dalam luka yang mungkin bersifat pathogen, sehingga bisa menghambat penyembuhan jaringan, bahkan menyebabkan morbiditas dan mortalitas pasien.
Berusaha untuk mencoba mencari solusi atas masalah tersebut, tim PKM Penelitian Eksakta Universitas Airlangga dari Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) terdiri dari Arfian Dewananda, Syamsi Mirobbi Anugrah dan Rizky Yanuar Rahmadan, dibawah bimbingan Heru Pramono, S.Pi., M.Biotech., mencoba membuat terobosan terbaru untuk mengatasi masalah tersebut.
Melalui penelitian yang berjudul “Tjanidic-Yarn : Paduan Kolagen Kulit Kakap-PLGA dengan Coatcing Citosan sebagai Inovasi Benang Jahit Bedah Halal Absorbable untuk Aplikasi Pencegahan Luka Operasi Caesar Terbuka”, alhasil penelitian ini lolos seleksi dan berhak memperoleh pendanaan dari Kemenristekdikti dalam program PKM 2018.
“Kami memiliki alternatif solusi untuk mengatasi masalah ini, yaitu dengan membuat inovasi benang jahit bedah bernama Tjanidic-Yarn yang terbuat dari formulasi senyawa hasil limbah perikanan yang bersifat absorbable,” kata Arfian Dewananda, ketua tim PKM-PE ini menjawab pers.
Menurut Arfian, keunggulan benang jahit bedah absorbable ini memiliki risiko lebih kecil terhadap reaksi penolakan oleh tubuh, karakteristiknya kuat, lentur, dan mampu terdegradasi dengan cepat di dalam tubuh. Selain itu juga tidak diperlukan adanya pengangkatan kembali benang jahit bedah setelah proses penyembuhan luka selesai, sehingga dapat mempersingkat waktu dan biaya.
”Maka dari itulah kami berusaha membuat Tjanidic-Yarn ini sebagai inovasi benang jahit bedah yang absorbable. Mudah-mudahan bermanfaat,” kata Arfian, seraya menerangkan bahwa Tjanidic-Yarn dibuat dari kolagen yang bersumber dari ikan kakap (Lutjanus sp.), kitosan dan Poly (lactic-co-glycolic acid/PLGA) untuk peningkatkan kekuatan mekaniknya.
Ketika ditanya alasannya memilih kolagen kulit kakap dan kitosan sebagai bahan pembuatan Tjanidic-Yarn, Arfian menjelaskan bahwa kolagen merupakan protein yang memiliki sifat biokompatibel dan biodegradable. Selain itu mampu merangsang pertumbuhan jaringan yang rusak, serta bahannya mudah didapat dari limbah kulit kakap hasil produksi filet ikan.
Sedangkan kitosan dapat didapatkan dari limbah kulit krustasea serta memiliki sifat biokompatibilitas yang tinggi pula karena strukturnya mirip dengan glukosamin pada matriks ektra seluler, biodegrabilitasnya baik dan modifikasi kimianya cukup mudah.
Guna melihat potensi Tjanidic-Yarn ini juga dilakukan serangkaian pengujian, diantaranya karakterisasi melalui uji degradasi untuk mengetahui lama waktu degradasi Tjanidic-Yarn serta uji Scanning Electron Microscope (SEM) untuk mengetahui profil morfologi dan informasi kristalografi.
”Kami berharap dari penelitian ini dapat menjadi inovasi benang jahit absorbable yang halal serta dapat dimanfaatkan pada masa mendatang,” kata Arfian Dewananda memungkasi penjelasannya. (*)
Editor : Bambang Bes





