Setiap tanggal 21 November, dunia memperingati Hari Pohon Sedunia sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan dan upaya melindungi masa depan Bumi. Namun, apakah
kita memahami betapa pentingnya peringatan ini di tengah krisis lingkungan yang semakin
nyata? Di luar sekadar seremoni, Hari Pohon Sedunia seharusnya menjadi alarm bagi kita
semua untuk bertindak lebih nyata dalam melindungi alam. Menanam pohon bukan hanya
simbol, melainkan langkah kecil dalam memerangi dampak besar yang ditimbulkan oleh
deforestasi, perubahan iklim, dan polusi.
Indonesia, sebagai salah satu negara dengan hutan tropis terbesar di dunia, memiliki peran
kunci dalam menjaga ekosistem global. Namun, fakta di lapangan memperlihatkan sisi kelam
dari negeri yang kaya akan sumber daya alam ini. Data dari Forest Watch Indonesia
menunjukkan bahwa laju deforestasi masih sangat tinggi. Pada 2022, Indonesia kehilangan
sekitar 115 ribu hektar hutan, sebagian besar akibat ekspansi industri kelapa sawit
dan tambang. Kehilangan ini tidak hanya mengancam ekosistem, tetapi juga memperburuk
emisi karbon yang berdampak pada perubahan iklim global.
Hilangnya hutan Indonesia bukan sekadar isu lingkungan— ini adalah krisis kemanusiaan.
Ribuan masyarakat adat, yang selama ini menjaga hutan sebagai rumah mereka, kini
terpinggirkan oleh eksploitasi sumber daya yang seringkali terabaikan keberlanjutannya.
Kehidupan mereka, bersama flora dan fauna yang mereka lindungi, terancam akibat peralihan
hutan menjadi lahan industri. Ironisnya, Hari Pohon Sedunia seringkali hanya dirayakan
dengan penanaman pohon di kota-kota besar. Sementara akar masalah yang sebenarnya
terjadi di pedalaman jarang disoroti.
Menanam Pohon Saja Tidak Cukup: Tantangan Nyata bagi Pemerintah dan Masyarakat
Di Hari Pohon Sedunia ini, seharusnya ada refleksi mendalam tentang bagaimana
pemerintah, perusahaan, dan masyarakat memandang hutan. Menanam pohon di taman kota
memang memberikan kesan positif, namun tindakan ini hanya seperti menambal masalah
tanpa menyelesaikannya. Perlu komitmen kebijakan yang lebih ketat terhadap
pemanfaatan hutan, seperti peningkatan pengawasan terhadap izin konsesi lahan dan
pemberlakuan sanksi yang tegas bagi pelanggar. Pemerintah perlu memastikan bahwa
pemanfaatan lahan dilakukan dengan memperhatikan prinsip keberlanjutan, sehingga hutan
tetap menjadi sumber kehidupan bagi generasi mendatang.
Selain itu, kolaborasi dengan masyarakat adat harus diperkuat. Mereka adalah penjaga hutan
yang sebenarnya dan memiliki pengetahuan turun-temurun yang penting dalam menjaga
keberlangsungan ekosistem. Namun, hak-hak mereka sering kali terabaikan. Dengan
memberikan dukungan nyata, termasuk perlindungan lahan mereka, kita tidak hanya
melestarikan hutan tetapi juga menghargai budaya yang sudah berakar kuat dalam menjaga
lingkungan.
Pentingnya Edukasi dan Kesadaran Lingkungan yang Berkelanjutan
Hari Pohon Sedunia juga harus dimaknai sebagai kesempatan untuk menanam kesadaran
dalam diri masyarakat. Generasi muda perlu terlibat dalam program edukasi lingkungan
yang menyadarkan mereka akan nilai dari satu pohon yang hidup, dan satu hutan yang lestari.
Sekolah, universitas, dan lembaga masyarakat perlu menjadi agen yang aktif dalam
mempromosikan pendidikan lingkungan yang berkelanjutan. Kesadaran lingkungan harus
tertanam, mulai dari mengurangi penggunaan kertas yang berasal dari penebangan hutan
hingga mendukung produk-produk ramah lingkungan.
Sebagai individu, kita juga bisa berperan, misalnya dengan mengurangi konsumsi produk
yang berasal dari perusahaan-perusahaan yang merusak hutan. Tindakan kecil ini, jika
dilakukan secara kolektif, akan berdampak besar. Di sisi lain, kita juga bisa mendukung
kampanye pelestarian hutan dan ikut serta dalam gerakan reboisasi yang dilakukan oleh
berbagai komunitas.
Merayakan Harapan dengan Tindakan Nyata
Pada Hari Pohon Sedunia ini, mari kita bangun kesadaran bahwa menjaga hutan bukan hanya
soal kelestarian lingkungan, melainkan soal menjaga masa depan kita sendiri. Menanam
pohon tidak boleh hanya menjadi kegiatan seremonial tanpa komitmen lanjutan. Kita perlu
melangkah lebih jauh, menuntut tindakan nyata dari para pemangku kepentingan, dan terus
terlibat dalam upaya menjaga ekosistem yang lestari.
Menjaga hutan adalah bentuk harapan yang kita wariskan bagi anak-cucu kita. Karena tanpa hutan yang hidup, kita hanya meninggalkan bumi yang gersang dan masa depan yang penuh
krisis.





