Universitas Airlangga Official Website

Studi Retrospektif mengenai Tes Serologis Sifilis pada Pasien HIV

Studi Retrospektif mengenai Tes Serologis Sifilis pada Pasien HIV
Sumber: Tirto.ID

Sifilis merupakan suatu infeksi menular seksual (IMS) yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Penyakit ini dikenal sebagai “The Great Mimicker” karena gejala-gejalanya yang sering kali menyerupai penyakit lainnya. Tanpa pengobatan yang tepat, sifilis dapat berkembang menjadi kondisi serius yang mempengaruhi berbagai organ tubuh seperti otak, jantung, dan mata, serta menimbulkan risiko pada kehamilan. Salah satu kelompok yang rentan mengalami komplikasi serius akibat sifilis adalah pasien yang menderita infeksi HIV.

Infeksi HIV dapat menyebabkan manifestasi sifilis menjadi tidak khas dan koinfeksi keduanya dapat meningkatkan insidensi komplikasi sifilis maupun HIV. Hubungan antara sifilis dan HIV sangat penting untuk diperhatikan, terutama dalam hal pengobatan dan pemantauan terapi. Pemeriksaan serologis sifilis menjadi pilihan utama untuk mendiagnosis dan mengevaluasi terapi sifilis. Pasien sifilis dengan koinfeksi HIV dianjurkan melakukan pemantauan serologis yang lebih sering setelah terapi yang untuk memastikan pasien mencapai respons terapi yang adekuat, dapat mendeteksi adanya reinfeksi, dan mencegah terjadinya komplikasi seperti neurosifilis.

Tim dari Universitas Airlangga dan Rumah Sakit Umum Dr. Soetomo Surabaya melakukan penelitian retrospektif mengenai perbandingan hasil tes serologis sifilis sebelum dan sesudah terapi pada pasien HIV-positif dan HIV-negatif untuk mengetahui bagaimana HIV memengaruhi respons terapi sifilis, sehingga dokter dapat memberikan penanganan yang lebih tepat.  

Prevalensi sifilis pada penelitian tersebut paling banyak ditemukan pada kelompok usia antara 25-29 tahun, diikuti dengan kelompok usia 30-34 tahun. Terdapat perbedaan yang signifikan antara jenis kelamin, status pernikahan, orientasi seksual, dan stadium sifilis antara kelompok pasien sifilis dengan HIV dan sifilis tanpa HIV. Hasil analisis mengenai perbedaan titer serologis sebelum terapi antara kelompok sifilis dengan HIV-positif dan HIV-negatif pada penelitian tersebut menunjukkan titer VDRL dan TPHA yang lebih tinggi pada pasien HIV-positif dibandingkan dengan pasien HIV-negatif. Ini menunjukkan bahwa pasien HIV-positif mungkin memiliki infeksi sifilis yang lebih aktif atau respons imun yang lebih tinggi terhadap infeksi sifilis.

Setelah satu bulan terapi, titer VDRL pada kedua kelompok mengalami penurunan, tetapi penurunan titer tersebut tampak lebih signifikan pada kelompok HIV-negatif dimana pasien HIV-negatif mengalami penurunan titer VDRL 4 kali lipat, sedangkan penurunan titer pada pasien HIV-positif tidak mencapai 4 kali lipat. Hal tersebut menunjukkan bahwa pasien HIV-positif memerlukan waktu lebih lama untuk memberikan respons terapi yang optimal. Evaluasi lebih lanjut pada kontrol paling akhir dalam 2 tahun pemantauan setelah terapi dari kedua kelompok menunjukkan titer VDRL pada pasien HIV-negatif tetap rendah dan mayoritas pasien HIV-negatif mengalami kesembuhan serologis yang ditandai dengan penurunan titer VDRL minimal 4 kali lipat dibandingkan titer VDRL sebelum terapi. Sebaliknya, pasien HIV-positif lebih sering mengalami kegagalan serologis atau peningkatan kembali titer VDRL, yang bisa disebabkan oleh reinfeksi atau kegagalan terapi. Sekitar 60,7% pasien HIV-positif tidak mencapai kesembuhan serologis dibandingkan dengan 58,6% pasien HIV-negatif.

Penelitian ini menunjukkan bahwa infeksi HIV memengaruhi perjalanan penyakit sifilis dan respons terhadap terapi. Pasien HIV-positif memiliki titer serologis yang lebih tinggi sebelum terapi dan lebih sulit mencapai kesembuhan serologis setelah terapi. Hal tersebut menegaskan pentingnya pemantauan serologis yang intensif pada pasien dengan koinfeksi HIV-sifilis untuk memastikan efektivitas pengobatan dan mendeteksi kegagalan terapi atau reinfeksi sedini mungkin.

Penulis : Prof. Dr.Afif Nurul Hidayati,dr.,Sp.DVE,Subsp.Ven

Link: https://bsmiab.org/jabet/178-1706248076-a-comparative-retrospective-study-on-syphilis-serology-in-hiv-positive-and-negative-individuals-before-and-after-therapy

Baca juga: Eksplorasi Heat-Shock Proteins untuk Imunoterapi Infeksi HIV