Universitas Airlangga Official Website

Aplikasi Studi Molekuler sebagai Data Dukung Merancang Desain Bendungan dengan Jalur Ikan

Aplikasi Studi Molekuler sebagai Data Dukung Merancang Desain Bendungan dengan Jalur Ikan
Sumber: Klopmart

Perairan pedalaman merupakan salah satu ekosistem yang paling rentan terkena dampak langsung dari aktivitas manusia dan perubahan iklim. Secara global, keanekaragaman hayati di habitat air tawar telah menurun setidaknya 80% dari tahun 1970 hingga 2014. Keanekaragaman hayati ikan air tawar juga menjadi isu penting di Indonesia, di mana sebagian besar sumber daya air tawar dieksploitasi secara berlebihan, dan pencemaran air, degradasi ekosistem, introduksi spesies eksotik, serta fragmentasi habitat telah dikaitkan dengan peningkatan jumlah spesies yang rentan. Fragmentasi habitat di bentang alam air tawar sebagian besar disebabkan oleh pembangunan bendungan, bendung, atau pengatur air.

Terdapat total 2.363 bendungan, bendung, dan bangunan pengatur di seluruh sungai di Indonesia, dengan sebagian besar bangunan tersebut berada di Pulau Jawa dan Sumatera. Bangunan-bangunan ini mengurangi konektivitas sungai, mengganggu migrasi ikan, dan mengancam keanekaragaman hayati ikan serta sektor perikanan darat yang terkait. Di Indonesia, ikan menunjukkan keragaman yang sangat besar dalam hal ukuran, bentuk, biologi, dan keberhasilan reproduksi di habitat aslinya. Banyak spesies yang bermigrasi untuk menyelesaikan berbagai tahapan siklus hidupnya. Hal ini mencakup migrasi ikan dewasa yang melakukan pemijahan, ikan muda yang mencari habitat pembesaran, dan semua tahap kehidupan yang mencari tempat berlindung selama pergantian musim (mengungsi), mencari makan, dan menemukan lingkungan yang cocok untuk bertahan hidup. Agar migrasi ini dapat terus berlanjut dalam sistem sungai yang teregulasi, jalur ikan sering kali dibangun untuk mengembalikan jalur lintasan ikan.

Sungai Cibareno di Jawa Barat, Indonesia, membentuk perbatasan alami antara Provinsi Banten dan Jawa Barat. Hulu sungai ini terletak di kawasan Taman Nasional Halimun, Jawa Barat dan mengalir sekitar 27 km ke Teluk Pelabuhan Ratu. Bendung Sungai Cibareno dibangun pada awal tahun 2022 hingga 2023 untuk memungkinkan para petani mengairi sekitar 2000 hektar lahan, yang sebagian besar terdiri dari sawah. Kami melakukan survei ikan selama pembangunan bendung irigasi, pada tahap ketika fondasi bendung telah dibangun dengan ketinggian sekitar 1 m, dari 3,25 m yang direncanakan, yang memanjang dari kiri ke kanan dasar sungai. Konstruksi bendungan ini menciptakan tantangan bagi migrasi ikan, sehingga hanya dapat dilalui pada saat air sungai sedang pasang. Sebelum sungai terfragmentasi secara total oleh bendung, sangat penting untuk menilai keanekaragaman hayati dan komposisi ikan di bagian hulu dan hilir Sungai Cibareno. Evaluasi pra-bendung ini merupakan dasar yang sangat penting untuk upaya pemantauan selanjutnya. Selain itu, fragmentasi populasi ikan dapat terjadi karena perubahan pola penggunaan lahan di sekitar Sungai Cibareno. Perubahan yang paling menonjol adalah perubahan hutan menjadi sawah dan perkebunan, perluasan area pemukiman dan penambangan emas tanpa izin.

Kegiatan-kegiatan ini terkait erat dengan meningkatnya kekhawatiran seperti masuknya limbah rumah tangga, kontaminasi pestisida dan pembuangan polutan dari proses ekstraksi emas ke sungai. Tidak ada informasi terbaru yang tersedia untuk mengevaluasi keanekaragaman hayati ikan di sungai ini. Pada tahun 2002, tercatat ~22 spesies dari 10 famili yang ditangkap dengan metode electrofishing (Rachmatika, Sjafei, dan Nurcahyadi, 2002). Namun, kemungkinan keanekaragaman ikan di sungai ini jauh lebih besar karena sungai ini belum pernah disurvei secara intensif dan Pulau Jawa dikenal memiliki keanekaragaman jenis ikan yang sangat tinggi dengan setidaknya 408 jenis ikan yang tercatat. Selain itu, Sungai Cibareno mengalir ke laut, dan dengan demikian, spesies diadromous dengan kebutuhan untuk berpindah dari air tawar ke laut kemungkinan besar merupakan hal yang umum. Oleh karena itu, karena hidrologi lokal yang sangat bervariasi, maka diputuskan untuk memasang jalur ikan dengan slot vertikal di Bendung Caringin agar ikan dapat menyelesaikan migrasi mereka.

Penulis: Dr. Eng. Sapto Andriyono

Link: https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/aqc.4250

Baca juga: Nanofiber Hidroksiapatit Polycaprolactone Gelatin sebagai Scaffold Tulang