Penyakit infeksi pada neonatus yang disebabkan oleh virus, jamur, atau bakteri dilaporkan menyebabkan sekitar 550.000 kematian setiap tahunnya. Antibiotik merupakan salah satu obat yang paling sering diresepkan di NICU, dengan rute yang paling umum adalah pemberian intravena.
Salah satu cara pengendalian penggunaan antibiotik secara bijaksana di Indonesia adalah dengan mengelompokkan antibiotik ke dalam kategori AWaRe, yaitu Access, Watch, dan Reserve. Kategorisasi ini mendukung rencana WHO untuk mengendalikan resistensi antimikroba. Pemerintah telah menetapkan melalui Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28/2021 untuk mengawasi dan mengatur penggunaan antibiotik secara bijaksana di lingkungan fasilitas kesehatan. Sejak tahun 2011, WHO telah menetapkan sistem klasifikasi anatomical therapeutic chemical (ATC) dan pengukuran menggunakan DDD sebagai standar pengukuran kuantitas penggunaan antibiotik. Sedangkan untuk evaluasi kualitas menggunakan penilaian diagram alir Gyssens. Evaluasi ini bertujuan untuk memberikan informasi terkait pola penggunaan antibiotik di fasilitas kesehatan, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Sehingga diharapkan kuantitas dan kualitas penggunaan antibiotik AWARE dapat dievaluasi. Perawatan antibiotik di NICU sangat bervariasi, sehingga menyebabkan penggunaan berlebihan yang tidak tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan antibiotik secara kuantitatif dan kualitatif pada pasien neonatus di NICU Rumah Sakit Universitas Airlangga, Surabaya. Analisis kuantitatif dilakukan dengan menggunakan metode ATC/DDD, sedangkan analisis kualitatif dilakukan dengan menggunakan metode Gyssens.
Penelitian ini menggunakan metode observasional dengan desain analisis deskriptif tanpa intervensi apa pun yang diterapkan pada pasien. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif dengan meninjau catatan medis pasien neonatus yang dirawat di NICU RS Universitas Airlangga mulai 1 Januari 2021 sampai dengan 31 Desember 2022. Teknik total sampling digunakan, yaitu mencakup semua pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang ditetapkan. Kriteria inklusi adalah pasien neonatus berusia ≤ 28 hari yang menerima pengobatan antibiotik, dan tidak ada kriteria eksklusi yang ditetapkan. Penelitian ini telah memperoleh persetujuan etik No. 075/KEP/2023, dan data penggunaan antibiotik pada pasien NICU dianalisis secara kuantitatif dengan metode DDD/100 hari pasien dan secara kualitatif menggunakan metode Gyssens (Gbr. 1) yang direkomendasikan oleh WHO. Perhitungan DDD di rumah sakit menggunakan rumus:
Penelitian ini menganalisis penggunaan antibiotik secara kuantitatif dan kualitatif pada pasien neonatus, dengan memperoleh sampel sebanyak 63 pasien. Berdasarkan hasil penelitian, ampisilin merupakan antibiotik yang paling banyak digunakan, yaitu sebesar 32%.
Sepsis merupakan jenis penyakit yang paling umum, yang menyerang 43 pasien (45%), diikuti oleh RDS sebanyak 26 pasien (27%), dan asfiksia sebanyak 18 pasien (19%). Jenis penyakit tersebut dikorelasikan dengan antibiotik yang digunakan dalam analisis Gyssens.
Evaluasi penggunaan antibiotik terdiri dari analisis kuantitatif menggunakan metode ATC/DDD dan studi kualitatif menggunakan kriteria Gyssens untuk menilai rasionalitas. Analisis Gyssens menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik rasional (kategori 0) dicapai dalam 110 penggunaan antibiotik (91%). Ada 2 kasus (2%) yang ditandai dengan antibiotik yang lebih efektif (kategori IV A), 2 kasus (2%) di mana antibiotik yang lebih spesifik dengan spektrum yang lebih sempit tersedia (kategori IV A), 4 kasus (3%) dengan dosis yang tidak tepat (kategori IIA), dan 2 kasus (2%) di mana interval antibiotik tidak tepat (kategori IIB). Selain itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa ampisilin-sulbaktam memiliki nilai DDD tertinggi. Selain analisis kuantitatif, dilakukan pula studi kualitatif dengan metode Gyssens, dengan 91% penggunaan antibiotik masuk dalam kategori 0.
Hasil klinis setelah perawatan di NICU dan pemberian antibiotik menunjukkan bahwa 62 pasien (98%) dipulangkan dalam keadaan hidup, baik dalam keadaan pulih maupun mampu melanjutkan perawatan rawat jalan, sedangkan 1 pasien (2%) tercatat meninggal dunia.
Kesimpulannya, analisis kuantitatif dengan metode DDD per 100 hari pasien menunjukkan bahwa tiga antibiotik teratas yang paling banyak digunakan adalah ampisilin-sulbaktam, ampisilin (diklasifikasikan sebagai akses), dan meropenem (diklasifikasikan sebagai cadangan). Sementara itu, studi kualitatif dengan metode Gyssens menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik dikategorikan sebagai rasional pada 91% kasus, dengan dosis yang tidak tepat (kategori II A) diamati pada 3%, interval yang tidak tepat (kategori II B) pada 2%, antibiotik alternatif yang lebih efektif (kategori IV A) pada 2%, dan data rekam medis yang tidak lengkap (kategori VI) pada 2% kasus. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya kolaborasi antara neonatologis sebagai pemberi resep dan apoteker klinis dalam memantau, mengevaluasi, dan mengelola penggunaan antibiotik sehingga dapat meningkatkan penggunaan antibiotik yang bijaksana dan rasional pada pasien neonatus.
Penulis: Dr. apt. Yulistiani, M.Si
Link: https://pharmacia.pensoft.net/articles.php?id=130253
Baca juga: Enterokolitis Nekrotikan pada Neonatus dengan Ibu Positif Covid-19





