Politik budaya Orde Baru yang berfokus pada pembangunan identitas nasional juga tercermin dalam sinema Indonesia pada periode tersebut, di mana film dipandang sebagai alat propaganda ideologis yang harus dikendalikan demi menjaga stabilitas politik. Pemerintah Orde Baru memahami sinema sebagai media yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai yang sejalan dengan kebijakan pembangunan nasional, sehingga film-film yang diproduksi pada era ini cenderung diarahkan untuk mendukung narasi resmi negara. Penggambaran anak-anak dalam film seringkali digunakan sebagai simbol yang merepresentasikan generasi muda yang perlu diarahkan dan dibina sesuai dengan cita-cita pembangunan sosial yang diusung oleh negara.
Salah satu strategi diskursif yang diterapkan dalam film-film tersebut adalah dengan menampilkan anak-anak sebagai korban dari permasalahan domestik, sering kali dengan latar belakang keluarga disfungsional. Film seperti *Ratapan Anak Tiri* (1973), *Ratapan Anak Tiri 2* (1980), dan *Arie Hanggara* (1985) menggambarkan anak-anak yang menderita di bawah struktur keluarga yang tidak harmonis. Melalui narasi melodrama, film-film ini menyajikan cerita di mana anak-anak diposisikan sebagai figur lemah dan bergantung, memperlihatkan mereka dalam situasi yang tidak berdaya. Figur ayah sering digambarkan sebagai pemimpin keluarga yang otoritatif, sementara figur ibu atau wanita dalam film kerap diiblikan sebagai penyebab kekacauan, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Pola naratif ini tidak hanya mengangkat isu-isu keluarga, tetapi juga mencerminkan bagaimana negara melalui sinema berupaya memproyeksikan peran negara sebagai penyelamat dalam kehidupan domestik. Aparat negara sering kali digambarkan sebagai solusi untuk memulihkan ketertiban dalam keluarga yang bermasalah, memperkuat pesan bahwa stabilitas sosial-politik dapat dicapai melalui intervensi negara. Hal ini menggambarkan visi Orde Baru tentang pentingnya kekuatan negara dalam menegakkan keteraturan, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga dalam lingkup keluarga, yang dipandang sebagai unit fundamental dalam masyarakat. Dalam konteks ini, anak-anak dilihat sebagai penerima dampak langsung dari kebijakan negara dan harus dibimbing oleh aparat negara untuk dapat tumbuh menjadi warga negara yang baik.
Keseluruhan narasi ini menekankan hierarki keluarga di mana anak-anak, sebagai generasi masa depan, dianggap tidak mampu mandiri dan membutuhkan figur otoritatif untuk menuntun mereka. Gambaran ini mencerminkan ideologi Orde Baru yang menempatkan negara di puncak struktur sosial, seolah-olah memegang kendali penuh atas kehidupan masyarakat. Dengan mengaitkan solusi masalah domestik dengan campur tangan negara, film-film ini mempromosikan gagasan bahwa stabilitas politik dan sosial dapat dicapai melalui peran negara yang kuat. Narasi ini memperkuat pesan ideologis Orde Baru tentang pentingnya ketaatan dan ketergantungan pada otoritas negara untuk menjaga kesatuan nasional dan stabilitas keluarga.
Oleh: IGAK Satrya Wibawa
Staf Pengajar Ilmu Komunikasi FISIP Unair





