Universitas Airlangga Official Website

Perawatan Intrapartum di Filipina dan Indonesia, Apakah Faktor yang Mempengaruhi Sama?

Perawatan Intrapartum di Filipina dan Indonesia, Apakah Faktor yang Mempengaruhi Sama?
Sumber: dok pribadi

Di Asia Tenggara, khususnya Filipina dan Indonesia, tercatat masih menghadapi tantangan dalam memenuhi target penurunan angka kematian ibu. Dari tahun 2010 hingga 2017, tingkat kematian ibu di Indonesia menurun sebanyak 7-8 kematian per 100.000 bayi baru lahir, atau 3%. Filipina juga mencatat adanya penurunan bertahap yaitu 156 kematian per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2003 menjadi 121 kematian per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2017. Namun tren penurunan di kedua negara ini masih belum memenuhi target SDGs pada tahun 2030. Indonesia dan Filipina merupaan dua negara dengan populasi besar di kawasan Asia Tenggara. Keduanya memiliki keanekaragaman budaya, ekonomi, dan sistem kesehatan yang memengaruhi cara perawatan kesehatan diberikan. Mendorong perawatan intrapartum/persalinan di fasilitas kesehatan merupakan salah satu kebijakan yang ditetapkan untuk mendorong percepatan penurunan kematian ibu. Namun, fasilitas kesehatan masih menghadapi berbagai hambatan dalam mencapai target persalinan. Penelitian di Indonesia menyebutkan bahwa persalinan di luar fasilitas kesehatan tercatat masih cukup tinggi yaitu berkisar antara 21 hingga 60%.

Melihat situasi ini, peneliti berupaya mengembangkan studi terbaru untuk mengidentifikasi berbagai faktor yang mempengaruhi perawatan intrapartum/persalinan di Indonesia dan Filipina. Analisis dilakukan pada hasil Survei Kesehatan Demografi Indonesia dan Survei Kesehatan Demografi Filipina pada tahun 2017. Responden yang terlibat sebanyak 7.992 wanita dari Filipina dan 15.346 dari Indonesia dengan kriteria: wanita yang telah melahirkan dalam lima tahun terakhir yang berusia 15 hingga 49 tahun.

Hasil analisis menemukan bahwa wanita di Filipina yang melakukan persalinan di fasilitas kesehatan sebesar 77,5%. Sementara itu, Indonesia tercatat memiliki capaian yang sedikit lebih rendah yaitu 75,1%. Meskipun angka ini belum mecapai target, namun situasi ini menunjukkan bahwa wanita di Indonesia dan Filipina cukup sadar untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan. Rumah sakit menjadi fasilitas kesehatan yang banyak dipilih karena memiliki infrastruktur kesehatan yang lengkap dan tenaga kesehatan yang profesional.

Wanita di Indonesia dengan usia yang lebih tua cenderung melakukan persalinan di fasilitas kesehatan. Dari hasil analisis, wanita usia 45–49 tahun memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan dibandingkan wanita usia 15 hingga 24 tahun. Sementara itu, di Filipina tidak ditemukan kelompok usia tertentu yang terbukti signifikan mempengaruhi keputusan persalinan di fasilitas kesehatan. Sebaliknya, analisis pada riwayat paritas justru menunjukkan hasil berbeda. Baik di Indonesia maupun Filipina, persalinan di fasilitas kesehatan meningkat seiring dengan penurunan paritas. Kondisi ini dapat terjadi karena wanita dengan paritas rendah mungkin merasa lebih cemas menghadapi proses persalinan sehingga memilih untuk mencari perawatan profesional di fasilitas kesehatan.

Aksesibilitas fisik terhadap fasilitas kesehatan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi perawatan persalinan. Dari hasil studi ini, wanita di Indonesia dan Filipina yang tinggal di kota lebih mungkin untuk menjalani persalinan di rumah sakit dibandingkan mereka yang tinggal di pedesaan. Di daerah pedesaan dan terpencil, jarak yang jauh dan sulitnya transportasi seringkali membuat wanita melahirkan di rumah atau di fasilitas yang tidak memadai.

Selain itu, aksesibilitas terhadap fasilitas kesehatan juga berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi. Status ekonomi dan pendidikan wanita terbukti memainkan peran penting dalam menentukan jenis perawatan yang mereka terima. Baik di Indonesia maupun Filipina, status ekonomi yang lebih baik dapat meningkatkan kemampuan wanita untuk membiayai kebutuhan kesehatan sehingga lebih meungkin untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan. Selaras dengan tingkat ekonomi, wanita dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi juga lebih mungkin untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan. Tidak hanya tingkat pendidikan wanita, tingkat pendidikan suami juga memainkan peran penting dalam pengambilan keputusan terkait perawatan intrapartum. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pencapaian pendidikan yang lebih tinggi merupakan prediktor signifikan untuk perbaikan hasil kesehatan.

Berdasarkan riwayat antenatal care, kedua negara ini menunjukkan pola yang serupa. Wanita lebih cenderung melakukan persalinan di fasilitas kesehatan jika mereka telah menjalani empat kali atau lebih kunjungan antenatal care. Situasi ini menunjukkan bahwa kunjungan antenatal care yang lengkap meningkatkan kesadaran wanita untuk melakukan persalinan di fasilitas kesehatan. Kunjungan antenatal care bagi wanita Indonesia juga sangat terkait dengan dukungan keluarga (orang tua/mertua). Di banyak kasus, keputusan mengenai di mana dan bagaimana perawatan kehamilan dan persalinan tidak hanya dibuat oleh wanita itu sendiri, tetapi juga melibatkan suami dan keluarga besar.

Studi ini menyimpulkan adanya lima faktor yang terkait dengan keputusan persalinan di fasilitas kesehatan di Filipina yaitu tempat tinggal, pendidikan, paritas, kekayaan, dan riwayat antenatal care. Kelima faktor ini juga terbukti berkaitan dengan keputusan persalinan di fasilitas kesehatan di Indonesia, dengan tambahan satu faktor lain yaitu usia. Kami merekomendasikan agar pembuat kebijakan dapat menetapkan kebijakan yang fokus pada sasaran sesuai dengan temuan studi ini untuk mempercepat target persalinan di fasilitas kesehatan.

Penulis: Prof. Ratna Dwi Wulandari, SKM., M.Kes.

Link: https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2024.e27718

Baca juga: Pemodelan Angka Kematian Ibu di Indonesia MenggunakanPendekatan Geographically Weighted Poisson Regression