Universitas Airlangga Official Website

Neuritis Optik pada Leukemia Mielositik Kronik

Neuritis Optik pada Leukemia Mielositik Kronik
Sumber: Primaya Hospital

Leukemia Mieloid Kronik (LMK) merupakan salah satu jenis keganasan mieloproliferatif dengan seri granulositik sebagai sel proliferatif utama. Neuritis optik unilateral merupakan komplikasi lain yang sangat jarang terjadi pada LMK, dengan gejala pada mata hanya terjadi pada 5% pasien LMK. Kasus neuritis optik pada populasi yang berusia lebih dari 50 tahun tidaklah umum terjadi dan sering kali bermanifestasi secara bilateral.

Penulis melaporkan seorang wanita berusia 65 tahun datang dengan keluhan utama penglihatan kanan kabur tanpa penyakit sebelumnya. Pemeriksaan mata menunjukkan adanya penurunan ketajaman penglihatan pada kedua mata. Tes Ishihara menunjukkan hasil 0/38 pada mata kanan. Hitung darah lengkap menunjukkan leukosit 57.570 /uL, hemoglobin 12,4 g/dL, dan trombosit 344.000 /uL. Aspirasi sumsum tulang menunjukkan adanya hiperplasia eritropoiesis, megakariopoiesis, dan garis keturunan granulopoiesis dengan mieloblas sebesar 13%, yang disimpulkan sebagai fase aselerasi dari LMK. Hasil pemeriksaan BCR-ABL p210 positif. Tomografi koherensi optik menunjukkan makula yang menebal pada mata kanan. Perimetri dengan tes Humphreys menghasilkan skotoma pada mata kanan. Pencitraan Resonansi Magnetik menunjukkan hiperintensitas bercak T2 pada kedua saraf optik. Ketajaman visual dan buta warna membaik setelah tiga minggu pengobatan Imatinib.

Neuritis optik merupakan salah satu komplikasi langka pada kasus CML. Mekanisme utama yang mendasari gangguan penglihatan pada CML adalah hiperleukositosis, infiltrasi sel leukemia, atau komplikasi terkait terapi, sedangkan kemungkinan adanya penyebab lain yang terkait dengan neuritis optik harus disingkirkan. Gangguan penglihatan terkait CML didiagnosis dengan peningkatan leukosit, mieloblas dalam darah tepi dan apusan sumsum tulang, pemeriksaan fungsi penglihatan abnormal, dan neuroimaging. Penentuan mekanisme dasar yang menyebabkan neuritis optik diperlukan untuk menetapkan rejimen pengobatan. Sebagian besar kasus disebabkan oleh hiperleukositosis, pada kasus ini lebih cenderung disebabkan oleh adanya infiltrasi sel leukemia pada saraf optik. Penglihatan pasien membaik setelah pengobatan Imatinib selama tiga minggu.

Sebagai kesimpulan Dari kasus ini ya itu neuritis optik, meskipun jarang terjadi, dapat menjadi komplikasi pada pasien LMK. Diagnosis dan pengobatan dini yang tepat diperlukan untuk hasil yang baik.

Penulis: Paulus Budiono Notopuro

Link: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/optic-neuritis-in-chronic-myeloid-leukemia-a-rare-case-report-in-

Baca juga: Biosensor Berbasis Elektrokimia dan Optic untuk Aplikasi Diagnosa Leukemia