Ikan kerapu cantang adalah keturunan dari induk ikan kerapu kertang jantan (Epinephelus lanceolatus) dan ikan kerapu macan betina (Epinephelus fuscoguttatus). Ikan ini bisa tumbuh dua kali lebih cepat daripada pertumbuhan ikan kerapu macan. Ikan kerapu cantang memiliki warna kulit hitam kecoklatan dengan sisik tubuh yang berkilau dan bercak loreng. Ikan kerapu juga memiliki bentuk tubuh silindris panjang dan agak pipih, dengan lebar kepala yang hampir sama dengan tubuhnya. Setiap ikan memiliki pola berbintik gelap (hitam) yang tersebar di kepala dan di dekat sirip pectoral. Ikan kerapu cantang memiliki bentuk mulut yang lebar dan menyerong ke atas (bagian atas). Rahang bawahnya memiliki gigi yang berjajar dua baris dengan ujung runcing dan kuat. Gigi-gigi yang besar terletak di tepian depan bagian mulut dari gigi baris luar. Selain itu, kerapu cantang memiliki bentuk ekor yang bulat, tipe sisik stenoid (bergerigi), dan 110–114 buah sisik pada baris rusuknya.
Banyak spesies kerapu cantang hidup di wilayah Asia Pasifik. Ikan kerapu dapat ditemukan di hampir semua perairan tropis di Samudra Hindia dan Samudra Pasifik Barat. Banyak ikan kerapu cantang yang hidup di perairan Indonesia, seperti Sumatera, Jawa, Sulawesi, Pulau Buru, dan Ambon. Jenis ikan kerapu cantang banyak ditemukan di terumbu karang di kedalaman 60 meter di laut. Ikan kerapu cantang dewasa biasanya tinggal di perairan dangkal 0,5–3 m, tetapi yang dewasa akan pindah ke perairan dangkal 7–40 m. Ikan kerapu bergerak untuk mencari makan pada malam hari dan di siang hari Ikan kerapu menggali lubang atau rongga di terumbu karang untuk bersembunyi. Larva kerapu cantang muda tinggal di perairan pantai yang pasirnya berkarang, di mana padang lamun atau ladang terumbu karang banyak ditumbuhi. Kerapu cantang, yang merupakan jenis ikan euryhaline, dapat bertahan hidup dengan suhu antara 24-31°C, salinitas antara 30-33 ppt, kandungan DO lebih dari 3,5 ppm, dan pH antara 7,8 hingga 8,0.
Ikan kerapu cantang termasuk dalam kategori ikan karnivora, yang berarti ikan yang memakan hewan. Kekurangan pakan menyebabkan sifat kanibalisme Ikan kerapu. Ikan ini memakan ikan kecil, kepiting, dan udang. Ikan kerapu biasanya memakan larva moluska, rotifer, crustacea, copepoda, dan zooplankton selama fase juvenil. Untuk membenih ikan kerapu cantang, pakan cair, Artemia, rotifer, pelet, dan udang rebon adalah pakan yang paling umum digunakan. Tiga jenis tindakan berbeda dilakukan oleh ikan kerapu cantang ketika Ikan kerapu melihat umpan. Yang pertama adalah ketika umpan dilempar, ikan langsung memakannya tanpa mengidentifikasinya; yang kedua adalah ketika ikan mengidentifikasi umpan dan kemudian mendekati umpan untuk dimakan; dan yang terakhir adalah ketika ikan membiarkan umpan jatuh ke dasar wadah budidaya dan kemudian mengidentifikasi umpan dan kemudian memakannya atau tidak. Ikan kerapu adalah jenis ikan karnivora, yang berarti Ikan kerapu makan semua yang Ikan kerapu miliki dan hidup sendiri. Ikan kerapu banyak ditemukan di daerah muara dan terumbu karang. Ikan kerapu lebih suka naungan, atau tempat perlindungan, untuk menghindari sinar matahari dan berlindung.
Ikan kerapu memiliki sifat hermaprodit protogini, yang berarti saat perkembangan mencapai masa dewasa (matang gonad), berjenis kelamin betina akan berubah menjadi jantan saat ikan tumbuh besar atau bertambah tua. Aktivitas pembenihan, umur, indeks kelamin, dan ukuran kerapu sangat erat terkait dengan perubahan jenis kelamin. Sel kelamin betina dibentuk setelah berusia tahun dengan panjang ± 50 cm dan berat ± 5 kg. Fase reproduksi betina dimulai pada panjang tubuh minimal 450-550 mm (umur lima tahun) dengan berat tubuh 3-10 kg. Setelah itu, sel kelamin betina berubah menjadi jantan matang pada panjang tubuh minimal 740 mm dan berat tubuh 11 kg. Meskipun ikan kerapu biasanya hidup sendiri, Ikan kerapu akan berkumpul dalam kelompok ketika Ikan kerapu mulai memijah.
Kesehatan, tingkat kematangan, dan berat badan induk dapat digunakan untuk memilih induk kerapu macan dan kerapu kertang. Kerapu macan dan kerapu kertang dipilih karena Ikan kerapu harus sehat dan tidak sakit. Kesehatan fisik induk dapat dilihat dari tidak adanya kerusakan permukaan tubuh seperti perdarahan atau nekrosis, warna tubuh tidak pucat, dan kelengkapan organ. Ikan kerapu kertang jantan akan mengeluarkan sperma jika ditekan perutnya. Pada kerapu macan betina, bengkak di bagian perut ke arah urogenital akan ditekan, dan cairan berwarna kuning bening akan keluar. Selanjutnya, bobot induk yang akan dipijahkan dipilih. Agar sel telur dapat dibuahi, berat induk betina harus lebih ringan dari induk jantan.
Penulis: Sinta Cahya Meilina, Luthfiana Aprilianita Sari, Nazhariyyatu Al Ma’rifah, Hanna Aulia Rachmawati, Sulastri Arsad, Putri Desi Wulan Sari, and Daruti Dinda Nindarwi
Link: https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1755-1315/1392/1/012020
Baca juga: Evaluasi Teknik Pembenihan Ikan Gurami di Instalasi Perikanan Budidaya (IPB)





