UNAIR NEWS – Indonesia sampai saat ini masih berjuang dalam menangani permasalahan gizi yang berdampak serius terhadap kualitas generasi penerus bangsa. Salah satu masalah gizi yang menjadi perhatian utama saat ini adalah masih tingginya anak balita pendek (stunting). Stunting merupakan kekurangan nutrisi pada balita dalam jangka panjang sehingga terjadi kegagalan pada proses pertumbuhan. Untuk itu, harus ada upaya yang dilakukan dalam rangka pencegahan stunting sejak dalam kandungan.
Hasil penelitian UNICEF menyebutkan kejadian stunting terlihat paling banyak pada usia 0 – 2 tahun. Balita stunting termasuk masalah gizi kronik yang disebabkan oleh banyak faktor seperti kondisi sosial ekonomi, gizi ibu saat hamil, kesakitan pada bayi, dan kurangnya asupan gizi pada bayi. Kementerian Kesehatan menyebutkan kondisi kesehatan dan status gizi ibu sebelum dan saat kehamilan akan memengaruhi pertumbuhan janin dan meningkatkan risiko terjadinya stunting.
Target RPJMN
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan bersepakat menargetkan agar angka stunting di Indonesia bisa turun hingga 19 persen pada 2024. Target tersebut telah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Program pemerintah dalam penurunan angka stunting di Indonesia adalah dengan 1000 Hari Pertama Kehidupan. Yang mana sejak dalam kandungan janin harus mendapat asuppan nutrisi yang cukup hingga usia dua tahun.

Untuk membantu menyelesaikan masalah stunting, Prodi Kebidanan melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (pengmas) di Kelurahan Dupak Kecamatan Krembangan Kota Surabaya. Kegiatan pengabdian ini melibatkan yang Dosen Prodi Kebidanan Dr Obgyn budi Prasetyo, endyka erye frety MKeb, Dwi Izzati SKeb Bd MSc, dan Astika Gita Ningrum MKeb. Kegiatan ini terdiri dari dua kegiatan, yang pertama adalah kegiatan kelas ibu hamil dan yang kedua adalah pelatihan kader.
Pengmas Cegah Stunting
Pada kelas ibu hamil ini tim pengabdian memberikan Informasi tentang kebutuhan nutrisi untuk mencegah Stunting di masa Kehamilan. Sedangkan pada kader, mereka mendapatkan pelatihan tentang nutrisi yang penting untuk ibu hamil dan tentang stunting. Pengmas prodi Kebidanan FK UNAIR ini mengoptimalisasikan kelas ibu hamil sebagai upaya dalam pencegahan dini terjadinya stunting. Selain itu, menunjukkan peningkatan pengetahuan ibu hamil setelah diberikan pendidikan kesehatan tentang stunting. Di mana setelah mengikuti kelas, 80 persen memiliki pengetahuan baik tentang stunting. Mereka juga sangat antusias dalam mengikuti kegiatan.
Masih kurangnya pengetahuan ibu hamil tentang pencegahan stunting sejak dalam kandungan tergambarkan dari 20 ibu hamil yang hadir mengukuti kelas. Di mana hanya 15 persen di antara mereka yang memiliki pengetahuan baik tentang stunting. Perlunya pendidikan kesehatan kepada para ibu hamil sangat penting agar ibu hamil mengetahui dan melaksanakan pemenuhan nutrisi selama kehamilan untuk mencegah terjadinya stunting.
Harapannya, ibu hamil tidak hanya sebatas mengetahui tentang stunting tapi juga ikut serta dalam pencegahan dini stunting. Tentunya mulai masa kehamilan dengan memahani dengan benar nutrisi yang tepat saat kehamilan. Dengan demikian, anak yang lahir dapat menjadi generasi penerus bangsa yang berkualitas.
Penulis: Endyka Erye Frety
Editor: Yulia Rohmawati





