Universitas Airlangga Official Website

Pengaruh Diabetes Melitus pada Setiap Fase Penyembuhan Soket Pencabutan Gigi

Ilustrasi gigi
Ilustrasi cabut gigi (Foto: Halodoc)

Pencabutan gigi merupakan tindakan mengeluarkan gigi beserta akar gigi dari soketnya, yang melibatkan jaringan tulang dan jaringan lunak di rongga mulut. Jumlah tindakan pencabutan gigi di RSGM Universitas Jember pada tahun 2014 meningkat dari 1577 kasus pada tahun 2013 menjadi 1913 kasus.  Kondisi sistemik tertentu perlu mendapat perhatian saat melakukan tindakan pencabutan gigi, salah satunya pada pasien diabetes. Berdasarkan survei yang dilakukan di RSGM UNSRAT, tiga kondisi sistemik terbanyak pada pasien yang akan dilakukan pencabutan gigi adalah pasien diabetes melitus (DM).

Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu penyakit sistemik yang dapat menyebabkan proses penyembuhan menjadi tertunda dan tidak terkoordinasi. DM merupakan sekelompok penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia yang terjadi akibat kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Gejala umum DM adalah poliuria, polifagia, dan polidipsia. Klasifikasi DM adalah DM Tipe 1, DM Tipe 2, DM Gestasional, dan DM Tipe Lainnya.  Organisasi International Diabetes Federation (IDF) memperkirakan sedikitnya 463 juta orang berusia 20–79 tahun di dunia mengidap diabetes pada tahun 2019, setara dengan angka prevalensi sebesar 9,3% dari total penduduk usia yang sama. Indonesia berada pada peringkat ke-5, dengan prevalensi sebesar 19,5 juta kasus pada tahun 2021.

DM berdampak pada penyembuhan cabutan gigi. Sebanyak 97 orang dari total sampel 147 orang komorbid (DM, hipertensi, merokok) mengalami komplikasi pasca pencabutan. Terdapat perbedaan komplikasi pasca pencabutan yang signifikan pada pasien DM. Sebanyak 12,5% pasien dengan komplikasi DM mengalami keterlambatan penyembuhan pasca pencabutan.  Penyembuhan luka bekas pencabutan gigi pada penderita diabetes lebih lambat dibandingkan pada kelompok tanpa DM.  Kondisi DM merupakan faktor risiko terjadinya tindakan yang menimbulkan cedera jaringan, seperti pencabutan gigi. Komplikasi pasca pencabutan gigi dapat berupa dry socket atau alveolar ostitis akibat infeksi pada soket dan kerusakan bekuan darah. Kondisi tersebut dapat mengganggu tahapan fase penyembuhan luka dan mengganggu proses pembentukan jaringan baru.

Diabetes mengganggu pengiriman nutrisi dan pembuangan produk sampingan metabolisme glukosa, yang pada gilirannya memengaruhi sirkulasi mikrovaskular dan makrovaskular. Perubahan sirkulasi mikrovaskular mengakibatkan berkurangnya respons inflamasi. Di antaranya adalah berkurangnya migrasi leukosit, perfusi jaringan, dan gangguan hiperemia. Hal ini mengakibatkan peningkatan risiko pascaoperasi. Diabetes menyebabkan peningkatan spesies oksigen reaktif. Spesies oksigen reaktif (ROS) adalah molekul sinyal utama yang memainkan peran penting dalam perkembangan gangguan inflamasi. Peningkatan pembentukan ROS oleh neutrofil polimorfonuklear (PMN) di lokasi peradangan menyebabkan disfungsi endotel dan cedera jaringan. Mediator proinflamasi dapat mengatur reseptor aktivator ligan NF-κB (RANKL) untuk mengikat reseptor aktivator NF-κB (RANK), sehingga menyebabkan peningkatan diferensiasi preosteoklas menjadi osteoklas dan mempercepat proses osteoklastik. Hiperglikemia secara langsung memodulasi rasio RANKL/OPG dan secara tidak langsung melalui AGE/RAGE, yang dapat memicu peradangan dan kerusakan. AGE-RAGE berkontribusi pada osteoklastogenesis melalui peningkatan ekspresi RANKL dan penurunan regulasi OPG. AGE dapat meningkatkan aktivasi RANKL dan menginduksi apoptosis osteoblas. Meningkatnya rasio RANKL/OPG dan TNF menyebabkan resorpsi tulang berlebihan, sehingga mengakibatkan terganggunya proses remodeling tulang pada kondisi diabetes.

Produk metabolisme glukosa intraseluler akibat hiperglikemia dapat mempengaruhi semua tahapan fase inflamasi. Oleh karena itu perlu diperhatikan setiap tahapan proses penyembuhan pasca pencabutan gigi agar tidak terjadi komplikasi yang terjadi pada pasien diabetes dan penyembuhan luka yang lama.

Penulis: Puspa Dila Rohmaniar, Retno Pudji Rahayu, IDA Bagus Narmada, Nikmatus Sa’adah, Dwi Andriani

Link: http://www.jidmr.com/journal/wp-content/uploads/2024/03/67-D23_2970_Puspa_Dila_Rohmaniar_Indonesia-Rev-1.pdf

Baca juga: Potensi Hidroksiapatit Gelatina sebagai Scaffold untuk Rekayasa Jaringan Tulang