Impaksi adalah penghambatan atau penghentian proses normal gigi. Ada berbagai terminologi dalam literatur untuk mendefinisikan impaksi termasuk erupsi tertunda, retensi primer, gigi terkubur, gigi impaksi, dll. Gigi kaninus dianggap impaksi jika terganggu setelah perkembangan akar lengkap atau gigi kontralateral telah erupsi setidaknya selama 6 bulan dengan bentuk akar lengkap. Secara umum, gigi kaninus memainkan peran penting dalam membangun oklusi fungsional dan berfungsi sebagai fondasi senyum estetik. Selain molar ketiga, gigi kaninus rahang atas adalah gigi yang paling sering impaksi. Etiologi gigi kaninus impaksi masih belum jelas dan tampaknya multifaktorial. Faktor predisposisi lokal seperti gigi seri lateral bawaan yang hilang, gigi supernumerari, odontoma, dan kondisi lain yang mengganggu erupsi gigi kaninus, telah terlibat. Faktor genetik juga mungkin terjadi pada beberapa kasus.
Di Indonesia, sebuah penelitian menunjukkan terdapat prevalensi impaksi gigi kaninus sebesar 2,7% dan 57,9% kasus ditemukan pada kelompok usia 15-24 tahun. Gigi kaninus yang impaksi dapat menyebabkan beberapa komplikasi seperti pemendekan panjang lengkung, migrasi gigi yang berdekatan, implikasi estetika, pembentukan kista, atau ankilosis kaninus. Selain itu, salah satu komplikasi yang paling parah adalah resorpsi akar gigi yang berdekatan. Akibatnya, hal itu akan mempengaruhi resistensi gigi yang berdekatan di rongga mulut. Oleh karena itu, deteksi dan pencegahan dini akan mengurangi kebutuhan untuk paparan gigi kaninus dan menyederhanakan perawatan ortodontik. Resorpsi akar merupakan komplikasi umum dari perawatan ortodontik. Resorpsi akar yang parah (>3mm) telah dilaporkan terjadi dengan frekuensi 10-20%.
Resorpsi akar yang parah (>1/3 dari panjang akar asli) sangat jarang terjadi dan perawatan yang dimodifikasi harus dilakukan untuk mencegah komplikasi ini. Selain itu, resorpsi dapat sulit didiagnosis dengan metode konvensional, terutama jika gigi taring terletak tumpang tindih di bagian palatal atau bukal terhadap akar gigi seri. Resorpsi akar yang parah ditandai dengan hilangnya lebih dari sepertiga panjang akar. Kondisi ini dapat mengganggu keberhasilan perawatan ortodontik, mengurangi panjang gigi dan kapasitas gigi untuk menahan gaya pengunyahan, dan membatasi penggunaannya sebagai gigi jangkar dalam rehabilitasi prostetik. Dalam satu penelitian telah ditunjukkan bahwa resorpsi akar gigi seri atas selama 6-9 bulan pertama perawatan dengan alat ortodontik cekat menimbulkan risiko tinggi untuk resorpsi berkelanjutan selama perawatan berikutnya.
Resorpsi akar gigi seri rahang atas adalah fenomena yang dapat terjadi pada pasien dengan gigi taring impaksi, dan dapat berisiko mengalami resorpsi akar yang parah. Meskipun, resorpsi akar gigi seri parah yang terkait dengan gigi taring rahang atas impaksi jarang terjadi, jika terjadi, hal itu mengancam prognosis jangka panjang gigi yang diresorpsi. Diagnosis dan analisis dini resorpsi akar akibat gigi taring impaksi sangat penting untuk menyelamatkan resorpsi gigi dan membantu dalam merencanakan perawatan yang tepat. Radiografi dua dimensi konvensional biasanya digunakan untuk melihat gigi taring impaksi. Salah satunya, radiografi panoramik sering dilakukan untuk melihat gambaran umum, diagnosis awal, lokasi gigi kaninus, prediksi erupsi gigi, rencana perawatan, dan penilaian hasil perawatan. Namun, informasi diagnostik yang diperoleh dari radiografi panoramik terbatas karena memiliki banyak kelemahan, seperti distorsi, pembesaran, artefak, gambar kabur, atau superimposisi.
Meskipun radiografi panoramik merupakan alat diagnostik standar dalam ortodontik, risiko salah interpretasi saat membaca radiografi panoramik cukup tinggi. Dengan demikian, radiografi panoramik bukanlah satu-satunya metode dalam mendeteksi impaksi gigi kaninus dan resorpsi akar, terutama pada aspek palatal atau bukal.
Oleh karena itu, diperlukan teknik radiografi lain untuk menentukan posisi pasti gigi kaninus yang impaksi dan menentukan resorpsi gigi seri lateral.
Dalam kasus ini, karena kontras jaringan gigi yang baik dan pencitraan tiga dimensi yang tepat, beberapa penulis menggunakan computed tomography cone-beam (CBCT) untuk mengevaluasi impaksi gigi kaninus dan resorpsi gigi seri lateral. Mesin ini menggunakan radiasi dalam bentuk kerucut untuk mengumpulkan informasi tentang daerah maksilofasial dengan resolusi spasial yang tinggi. Selain itu, CBCT dapat mengurangi biaya dan secara signifikan mengurangi dosis radiasi.
Salah satu keuntungan CBCT adalah memberikan gambar tiga dimensi yang tidak terdistorsi dengan resolusi yang sangat baik, memungkinkan visualisasi bentuk anatomi dan ukuran asli. Sehingga peneliti dapat melihat posisi
gigi kaninus impaksi pada bidang sumbu x, sumbu y, dan sumbu z, serta dapat menganalisis resorpsi akar gigi inkonsisten yang terkena impaksi
gigi kaninus pada seluruh sisi akar gigi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh posisi
gigi kaninus maksila impaksi terhadap resorpsi akar gigi seri di sebelahnya menggunakan pencitraan CBCT.
Posisi gigi kaninus impaksi pada bidang sumbu x dan sumbu z memberikan pengaruh yang signifikan terhadap resorpsi akar gigi seri di sebelahnya. Sedangkan gigi kaninus impaksi pada bidang sumbu y tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap resorpsi akar. Secara umum hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan posisi gigi kaninus impaksi bila dilihat pada seluruh bidang sumbu gigi terhadap beratnya resorpsi akar gigi seri di sebelahnya. Dengan kata lain, semakin berat tingkat impaksi pada semua sumbu, maka semakin berat pula resorpsi akar gigi seri yang berdekatan. Namun, jika dilihat pada masing-masing bidang sumbu, terlihat bahwa posisi gigi taring impaksi pada bidang sumbu x dan sumbu z memiliki pengaruh yang signifikan terhadap resorpsi akar gigi seri yang berdekatan. Sementara itu, jika posisi gigi taring impaksi dilihat dari bidang sumbu y menunjukkan pengaruh yang sangat kecil terhadap kemungkinan terjadinya resorpsi akar, atau dengan kata lain tidak signifikan. Hampir 50% kasus impaksi berada pada sektor III dan IV sehingga mengakibatkan resorpsi akar ringan hingga sedang.
Penulis: Ida B. Narmada, Aldila R. Putri
Link: https://actamedicaphilippina.upm.edu.ph/index.php/acta/article/view/4321/4225
Baca juga: Ekspresi NFATc1 dan RUNX2 pada Pergerakan Gigi Ortodonti





