Universitas Airlangga Official Website

Gaya Hidup Hemat dalam Etika Konsumsi Islam

Gaya Hidup Hemat dalam Etika Konsumsi Islam
Sumber: telisik.id

Ekspansi ekonomi global telah menyebabkan peningkatan konsumsi masyarakat, yang mendorong perilaku materialistis. Pada era saat ini, gaya hidup hemat, selain mendukung konsumsi berkelanjutan,  telah menjadi penangkal materialisme yang cukup populer. Penelitian ini berupaya untuk menyelidiki konsep gaya hidup hemat dalam konteks etika konsumsi Islam. Hal ini penting untuk menghilangkan kesalahpahaman bahwa mengadopsi gaya hidup hemat sama dengan menerapkan prinsip-prinsip Islam dalam konsumsi. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa meskipun ada kesamaan tertentu antara konsumsi hemat dan konsumsi Islam, seperti berhati hati dalam berbelanja, menghindari materialisme dan mendukung konsumsi berkelanjutan, ada perbedaan yang mencolok diantara keduanya. Tidak seperti sifat konsep hemat yang berpusat pada dunia, konsumsi Islam berakar pada iman dan pengabdian kepada Allah SWT, yang merupakan bagian integral dari ajaran Islam.

 Perbedaan ini menyiratkan bahwa konsumsi Islam tidak semata-mata didorong oleh keinginan atau paksaan individu; sebaliknya, konsumsi Islam menekankan keseimbangan individu dan sosial, serta kesejahteraan di masa kini dan akhirat. Selain itu, konsumsi Islam berfokus pada solidaritas sosial, suatu aspek yang tidak ada dalam prinsip-prinsip gaya hidup hemat, yang berpusat pada tujuan jangka panjang individu. Studi tentang hidup  berhemat berkontribusi untuk memahami bagaimana konsumen menggunakan barang dan jasa. Konsumen yang hemat cenderung cermat tentang layanan ritel, kualitas produk, dan harga (Lee, 2016).

Menyadari pentingnya memahami konsumsi, peneliti ritel dan pemasaran semakin berfokus pada mengidentifikasi pola pengeluaran di antara pembeli yang hemat. Meningkatnya pola perilaku konsumen ini signifikan bagi banyak pemangku kepentingan. Para pembuat kebijakan bertujuan untuk memahami berhemat karena dapat menjadi bagian dari solusi terhadap dampak buruk konsumsi berlebihan terhadap lingkungan, masyarakat, dan kepuasan hidup individu. Implikasi praktis dalam pemasaran dari studi ini adalah para pemasar tertarik untuk memahami konsumen yang hemat sebagai segmen pasar potensial yang sedang berkembang.

Khususnya bagi konsumen hemat yang mematuhi etika Islam, selain berhati-hati, mereka akan selalu berpegang pada keyakinan mereka, sehingga secara konsisten memilih konsumsi yang diizinkan dalam Islam. Hal ini mengacu pada konsumsi produk yang halal dan thoyib ( baik). Respon bisnis terhadap konsumen hemat yang mematuhi etika Islam, antara lain sektor bisnis dapat memproduksi produk halal untuk memenuhi kebutuhan. Hal ini utamnya ketika produsen  berhadapan dengan konsumen Muslim, yaitu bagaimana gaya hidup hemat dan prinsip konsumsi Islam dapat memengaruhi perilaku pembelian mereka. Sebagai contoh, bahwa dalam etika konsumsi Islam, beberapa ahli ekonomi Islam baik dari golongan klasik maupun modern tidak melarang konsumsi barang mewah. Konsumsi barang mewah dilakukan sekedar memenuhi kebutuhan, misalnya memenuhi marwah (kewibawaan). Hal ini dapat dilihat dari mobil presiden, mobil pejabat negara, mobil kyai pesantren, supaya mereka berwibawa, jauh dari kesan meminta-minta.Demikian juga terkait pakaian dan konsumsi barang dan jasa lainnya.

Penulis: Sri Herianingrum

Link: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/scrutinizing-a-frugal-lifestyle-in-spiritual-dimensions-an-islami

Baca juga: Investigasi Hubungan antara Gaya Hidup Religius dan Kesehatan Sosial di Kalangan Guru Muslim