Bagi pengguna sosial media, terutama generasi muda yang familiar dengan sosial media pada kesehariannya pasti tidak asing dengan istilah fanfiction. Fanfiction adalah fiksi yang ditulis oleh penggemar berdasarkan kisah, karakter, atau latar yang sudah ada. Pada masa modern ini, fanfiction bukanlah hal yang jarang ditemui pada setiap fandom. Fandom menjadi komunitas di mana para penggemar suatu media ataupun idola bisa berbagai tentang hal-hal yang mereka suka dengan passion yang sama.
Fanfiction tentu tidak muncul begitu saja, kreativitas ini sudah ada sejak lama sebagai bentuk karya. Salah satunya adalah Romeo and Juliet dari sastrawan ternama William Shakespeare, merupakan cerita yang mengambil latar dari puisi The Tragicall Historye of Romeus and Juliet milik Arthur Brooke. Bentuk karya ini terus berkembang sehingga terkenal menjadi fanfiction yang mulai digandrungi oleh fandom pada tahun 1960.
Fandom Star Trek menjadi pencetak kultur fandom yang pada zamannya karya tersebut dirilis dalam bentuk fanzine berjudul ‘Spockanalia’. Yaitu berupa majalah berisikan lembaran gambar dan tulisan fandom Star Trek. Dengan perkembangan teknologi dan hadirnya sosial media, khalayak fandom dapat dengan mudah mengakses dan menemukan beragam fanfiction di internet.
Permasalahan dan Dampak
Fanfiction pada umumnya berbentuk narasi panjang atau pendek, yang kemudian muncul dengan bentuk baru, berupa chat fiction AU (Alternate Universe), di mana latar dari cerita tersebut berjalan pada aplikasi chatting dan sosial media seperti X atau Instagram. Format pesan teks dan sosial media ini memberikan nuansa modern dan relatable bagi pembaca, terutama generasi muda yang akrab dengan komunikasi digital.
Banyaknya penggemar dari berbagai hal mulai dari Grup Pop Korea, Anime, atau Manga, dan berbagai hiburan lainnya mendukung munculnya bentuk fanfiction yang lebih bervariasi dan secara luas tentu menjadi tantangan tersendiri. Dalam beberapa tahun terakhir, fanfiction telah berkembang pesat, terutama dalam bentuk chat fiction AU (Alternate Universe) yang menyajikan cerita melalui percakapan di aplikasi chatting.
Komersialisasi Fanfiction
Munculnya audiens baru pada komunitas fandom berhasil memperluas interaksi penggemar dalam berbagi minat dan passion yang sama. Namun, seiring dengan meningkatnya popularitasnya, muncul isu terkait komersialisasi fanfiction yang berpotensi mengganggu budaya fandom dan menurunkan kualitas karya buku cetak di Indonesia. Komersialisasi fanfiction menjadi suatu masalah yang hadir dalam komunitas fandom yang berdampak pada penurunan kualitas cerita fiksi pada industri penerbit buku cetak di Indonesia. Selain itu, fanfiction pada awalnya hanya medium antarfans dalam menyalurkan kreativitas mereka pada media yang disukai. Tanpa terjadi transaksi jual-beli pada prosesnya.
Hal ini juga didukung dengan perkembangan media yang memengaruhi hobi masyarakat. Termasuk pada kegiatan membaca, menulis, dan termasuk pada konsumsi penggemar pada media kesukaan mereka.  Maraknya trend karya Wattpad yang terpublikasi telah membuka peluang bagi penulis muda untuk mendapatkan karya mereka berhasil dilirik oleh penerbit menjadi buku cetak. Kecenderungan ini menjadi perdebatan, karena bentuk chat fiction AU (Alternate Universe) semakin banyak muncul di pasar buku cetak. Tak jarang pada sampul novel, penerbit terang-terangan memperlihatkan wajah asli artis yang menjadi tokoh pada fanfiction yang dicetak. Sudah pasti keputusan tersebut menuai kontroversi dan masalah hak cipta.
Penurunan kualitas karya ini bisa terjadi apabila penerbit lebih mementingkan keuntungan dan tak seimbang dalam mempertimbangkan kualitas artistik dan keetisan publikasi karya tulis di Indonesia.  Satu sisi positif dari trend ini adalah generasi muda semakin tertarik dengan kegiatan menulis dan membaca. Namun, dengan jalan cerita yang terlalu generic, atau cenderung sama ini menjadi salah satu permasalahan yang menyangkut pada penururan kualitas artistik buku di Indonesia yang bisa pasti terjadi karena penerbit yang tidak mempertimbangkan aspek ini dalam penerbitan. Hal ini mengarah pada homogenisasi cerita dan menghilangkan keunikan sebuah cerita. Sebagai contoh, beberapa buku fanfiction yang terbit secara resmi sering kali masih menggunakan nama asli idola yang menjadi karakter cerita. Tanpa memberikan inovasi atau kedalaman karakter yang memadai.
Respons Fandom
Komunitas fandom biasanya terdiri dari individu yang memiliki kecintaan mendalam terhadap karakter dan cerita. Ketika karya-karya ini mulai menjadi komoditas, banyak penggemar merasa bahwa nilai komunitas mereka terancam. Diskusi dan interaksi yang sebelumnya bersifat eksklusif kini menjadi lebih terbuka untuk publikasi massal, mengubah dinamika komunitas yang seharusnya bersifat intim menjadi lebih komersial.
Banyak penggemar merasa kehilangan kontrol atas karya-karya yang mereka cintai ketika fanfiction yang sejatinya tidak mengambil keuntungan dipublikasikan. Tanpa mempertimbangkan pandangan atau keinginan komunitas. Hal ini dapat menyebabkan perpecahan dalam fandom, di mana sebagian orang mendukung komersialisasi. Sementara yang lain menolak untuk menerima perubahan tersebut. Selain itu, penggunakan konten original dan mendapatkan keuntungan dana merupakan hal yang melanggar hukum.
Solusi dan Alternatif
Untuk mengatasi masalah ini, penting bagi komunitas fandom untuk kembali fokus pada nilai-nilai asli dari fanfiction. Sebagai bentuk ekspresi kreatif dan tempat berbagi minat. Salah satu solusinya adalah dengan mendorong platform-platform independen yang memungkinkan penulis untuk menerbitkan karya mereka tanpa tekanan komersial. Platform seperti Archive of Our Own (AO3)Â memberikan ruang bagi penulis untuk berbagi karya mereka secara gratis dan tanpa batasan. Selain itu, diskusi terbuka tentang kualitas dan integritas karya juga dapat membantu menjaga standar dalam komunitas.
Para penggemar dapat saling mendukung dengan memberikan umpan balik konstruktif kepada penulis serta memberikan rekomendasi tentang karya-karya berkualitas tinggi. Penerbit di Indonesia sudah semestinya melek dengan isu ini. Penyebaran masif tanpa pendekatan kritis dapat merusak market buku cetak di Indonesia jika penerbit hanya memikirkan keuntungan saja dan melupakan kualitas pada karya tulis dan juga memperhatikan aspek legalitas pada produksinya.
Komersialisasi fanfiction, terutama dalam bentuk chat fiction AU, membawa dampak signifikan terhadap budaya fandom dan kualitas karya. Meskipun ada potensi untuk menjangkau audiens yang lebih luas, penting untuk mempertimbangkan bagaimana hal ini dapat merusak esensi dari apa itu fandom sebenarnya. Ketika kita melihat tren ini terus berkembang, kita perlu bertanya pada diri sendiri. Apakah kita akan membiarkan komersialisasi mengubah cara kita menikmati cerita-cerita yang kita cintai? Atau apakah kita akan berjuang untuk menjaga integritas dan keaslian dari karya-karya tersebut?
Penulis: Anisa Oktavia Askari, Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNAIR





