Universitas Airlangga Official Website

Potensi Pengembangan Active Pharmaceutical Ingredient dari Minyak Atsiri Mentha Pulegium L

Minyak Atsiri Mentha Pulegium L (foto: dok istimewa)

Mentha pulegium L., merupakan tanaman yang banyak dimanfaatkan karena khasiat terapeutiknya oleh masyarakat di seluruh dunia, termasuk di eropa, afrika utara dan timur tengah. Tanaman ini telah lama dikenal karena potensinya dalam mengobati berbagai penyakit. Penelitian yang dipublikasi pada tahun 2024 oleh Asaggaf dkk, lebih dalam mengevaluasi secara lebih komprehensif terkait khasiat antioksidan, antiradang, dan dermatoprotektif dari minyak atsiri yang berasal dari M. pulegium atau Mentha pulegium essential oil (MPEO) . Pada penelitian ini digunakan kombinasi terapi bersama thyme honey, madu yang dikenal baik oleh masyarakat afrika utara untuk pengobatan tradisional. Dalam penelitian tersebut juga dievaluasi efek gabungan kedua bahan di atas. 

Dalam penelitian farmakologi bahan alam, penting untuk mengetahui komposisi bahan aktif farmakologis yang terkandung di dalam bahan. Minyak atsiri misalnya, mengandung banyak komponen kimia yang dapat menghasilkan efek farmakologi yang berbeda-beda terhadap fisiologi tubuh manusia. Dalam penelitian Asaggaf dkk, komposisi kimia minyak atsiri Mentha pulegium L., dianalisis dengan menggunakan instrumen GC-MS. Di dalam MPEO terkandung komponen dominan seperti pulegone, suatu senyawa monoterpen keton yang dikenal memiliki aktifitas farmakologi. Penelitian terkait pulegone menunjukkan bahwa senyawa ini berinteraksi dengan sistem syaraf muskarinik dan siklooksigenase dalam mempengaruhi respon pengaturan tekanan darah. Pulegone juga dilaporkan dapat mempengaruhi aktivasi neuron sensori dengan membuka kanal kation TRPA1 dan menekan aktifitas kanal kation TRPM8. Pulegone bahkan dilaporkan memiliki efek psikostimulansia yang tidak terkait dengan kemampuannya membuka Kanal Kalsium tipe L. Pulegone memiliki efek potensiasi pada reseptor GABA-A yang menjelaskan efek . Pada studi in vivo, pulegone mampu menunjukkan efek ansiolitik yang bukan dihasilkan melalui ikatan pada benzodiazepine-site pada reseptor GABA-A.

Efek farmakologi dari MPEO juga kemungkinan diperantarai dari efek antioksidan. Salah satunya dapat dikonfirmasi melalui uji aktifitasnya dalam menghambat kinerja enzim xantin oksidase. Enzim xantin oksidase umum dikenal sebagai enzim katalisator katabolisme purin, yaitu pengkonversi hipoxantin menjadi xantin dan xantin menjadi asam urat. Enzim xantin oksidase juga merupakan enzim yang mengkatalisasi produksi Reactive Oxygen Species. Hal ini menyebabkan keberhasilan MPEO dalam menghambat xantin oksidase mampu menunjukkan potensi ganda MPEO dalam hal penekanan respon inflamasi yang diperantarai stres oksidatif maupun penekanan produksi asam urat pada patofisiologi hiperurisemia. 

Potensi antiradang MPEO diuji dengan menggunakan uji coba in vitro melalui hambatan enzim lipoksigenase. Enzim lipoksigenase adalah enzim penghasil hidroperoksida dan leukotrien yang merupakan mediator inflamasi. Hasil pengujian menunjukkan efek penghambatan terhadap lipoksigenase memang tidak terlalu kuat. Terlebih jika dibandingkan dengan kontrol obat anti inflamasi non-steroid seperti indometasin. Hasil ini juga dikonfirmasi dengan daya penurunan radang pada pengujian in vivo menggunakan model radang pada plantar hewan coba yang menunjukkan reduksi inflamasi yang minim dibandingkan dengan kontrol indometasin. Hal yang berbeda dimunculkan oleh Madu Timi yang memiliki efek supresi lipoksigenase dan reduksi inflamasi lebih besar. Hal menarik adalah efek reduksi edema justru lebih tinggi jika kedua bahan ini dikombinasikan dalam uji in vivo. Meskipun jika dilihat secara menyeluruh, kombinasi 2 herbal ini masih belum dapat menyaingi kekuatan supresi stress oksidatif dari vitamin C, kekuatan supresi produksi asam urat oleh alupurinol, efek penekanan tirosinase oleh kuersetin dan efek penekanan radang oleh indometasin.  

Mendalami senyawa aktif farmakologi yang berkontribusi pada efek farmakologi suatu campuran bahan seperti pada ekstrak dan minyak atsiri sangat menjanjikan potensi tak terbatas pengembangan bahan aktif farmasi yang bekerja dengan spesifik pada pathway tertentu. Monoterpen yang bervariasi pada minyak atsiri termasuk pulegone sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai modulator sistem kolinergik seperti inhibitor asetilkolinesterase yang bisa diarahkan untuk terapi penyakit alzheimer. Antagonisme pada reseptor muskarinik dapat berkembang menjadi kandidat obat untuk pengendalian hipertensi, aritmia, atau bronkodilator. Aktivasi pada TRPA1 yang telah dikonfirmasi secara in vitro dapat dikembangkan menuju active pharmaceutical ingredient untuk antiobesitas, metabolism booster ataupun appetite suppressant. Belum lagi ketika daya tembus Blood Brain Barrier telah dikonfirmasi dengan baik, maka pengaruh pada sirkuit neuronal baik melalui pemberian sistemik maupun inhalasi dengan aromaterapi tinggal menjadi tantangan untuk dikonfirmasi. Dan banyak lagi potensi pengembangan lainnya dari satu jenis minyak atsiri seperti MPEO yang dikenal efektif secara empirik di masyarakat. 

Ditulis oleh Chrismawan Ardianto, PhD., Apt

Berdasarkan publikasi Assaggaf et al, 2024 pada Heliyon Volume 10, Issue 11, e31922.