Universitas Airlangga Official Website

Ekstrak Kulit Kacang Bambara, Antimikroba Alami Potensial untuk Pengawetan Seafood

Kacang tanah Bambara telah menarik perhatian sebagai senyawa bioaktif alami potensial. Bagian kulit biji kacang ini, baik yang berwarna merah (Red Seed Coat, RSC) maupun putih (White Seed Coat, WSC), diketahui kaya akan senyawa fenolik dan komponen bioaktif lain yang berperan sebagai antimikroba alami. Dalam sebuah penelitian, ekstraksi kedua jenis kulit biji tersebut terbukti mampu meningkatkan efisiensi ekstraksi senyawa bioaktif dari bahan alami. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak RSC memiliki hasil ekstraksi yang jauh lebih tinggi dibandingkan ekstrak WSC, dengan perolehan sebesar 8,35% untuk RSC dan 2,34% untuk WSC.

Selain itu, kandungan total fenolik (Total Phenolic Content, TPC) pada ekstrak RSC mencapai 420,98 mg ekuivalen asam galat per gram ekstrak kering, yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan kandungan fenolik pada WSC yang hanya sebesar 28,29 mg/g. Perbedaan ini menunjukkan bahwa kulit biji merah memiliki kandungan senyawa bioaktif yang lebih melimpah dibandingkan kulit biji putih. Analisis lebih lanjut menggunakan Liquid Chromatography Quadrupole Time-of-Flight Mass Spectrometry (LC-Q-TOF/MS) mengungkapkan bahwa ekstrak RSC kaya akan flavonoid dan polifenol, senyawa yang dikenal memiliki aktivitas antimikroba tinggi. Sebaliknya, ekstrak WSC lebih dominan mengandung saponin triterpenoid, yang meskipun memiliki manfaat farmakologis, tampaknya kurang efektif sebagai agen antimikroba dibandingkan senyawa fenolik.

Dalam pengujian aktivitas antibakteri, ekstrak RSC menunjukkan penghambatan yang lebih kuat terhadap pertumbuhan bakteri Shewanella putrefaciens dan Shewanella algae dibandingkan ekstrak WSC. Aktivitas ini dievaluasi melalui uji kinetika membunuh bakteri (time-kill kinetics), yang mengungkapkan bahwa ekstrak RSC mampu mengurangi populasi bakteri secara signifikan dengan cara yang bergantung dosis. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak, semakin besar kemampuan bakterisidanya. Gambar mikroskop elektron pemindai (Scanning Electron Microscopy, SEM) mengilustrasikan efek ekstrak RSC pada sel bakteri. Sel-sel bakteri yang terpapar ekstrak RSC mengalami kerusakan parah pada membran sel, yang tampak dari perubahan struktur permukaan menjadi kasar dan terjadinya deformasi sel. Gambar dari mikroskop konfokal laser scanning (Confocal Laser Scanning Microscopy, CLSM) juga mendukung hasil ini, dengan menunjukkan bahwa ekstrak RSC mampu menghambat pembentukan biofilm oleh S. algae. Biofilm adalah lapisan pelindung yang sering kali membantu bakteri bertahan hidup dalam kondisi lingkungan yang tidak mendukung, sehingga penghambatan biofilm ini menjadi bukti tambahan efektivitas antimikroba ekstrak RSC. Kemudian, ekstrak RSC terbukti memiliki mekanisme aksi tambahan, seperti menekan motilitas bakteri, menyebabkan kebocoran protein dari sel, dan mengurangi aktivitas protease ekstraseluler, enzim yang biasanya digunakan bakteri untuk menyerang substrat eksternal. Semua mekanisme ini memperkuat efek bakterisida ekstrak RSC dan menunjukkan bahwa senyawa bioaktif dalam ekstrak tidak hanya membunuh bakteri, tetapi juga mengganggu berbagai fungsi vitalnya.

Secara keseluruhan, hasil penelitian ini memberikan bukti kuat bahwa ekstrak kulit biji merah kacang tanah Bambara (RSC) yang kaya akan senyawa fenolik memiliki potensi besar sebagai agen antimikroba alami. Dengan aktivitas antimikroba yang kuat terhadap bakteri patogen, ekstrak ini sangat menjanjikan untuk digunakan sebagai pengawet alami, terutama untuk makanan yang mudah rusak seperti produk makanan laut. Penggunaan ekstrak ini dapat menjadi solusi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan untuk menggantikan pengawet sintetis dalam industri pangan.

Penulis

Muhamad Amin

Departemen Akuakultur Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga

Sumber: https://www.mdpi.com/2304-8158/13/21/3516