Universitas Airlangga Official Website

Peluang Pemberantasan Infeksi Helicobacter pylori selain Pengunaan Antibiotik Konvensional

Peluang Pemberantasan Infeksi Helicobacter pylori selain Pengunaan Antibiotik Konvensional

Helicobacter pylori (H. pylori) adalah bakteri yang diketahui terkait dengan risiko kanker lambung yang signifikan selain itu juga menyebabkan penyakit gastritis kronis, tukak lambung, dan limfoma MALT. Meskipun hanya sebagian kecil pasien yang terinfeksi H. pylori yang kemudian berkembang menjadi kanker lambung, namun dampaknya tidak bisa diabaikan karena telah menyebabkan lebih dari 750.000 kematian di seluruh dunia, dengan 90% kasus disebabkan oleh H. pylori. Pemberantasan bakteri ini bergantung pada berbagai rejimen obat sebagaimana dipandu oleh berbagai konsensus. Namun, kemanjuran terapi empiris menurun karena resistensi antimikroba. Selain itu, pembentukan biofilm mempersulit pemberantasan. Karena pencarian antibiotik baru tertinggal dari kemampuan bakteri untuk bermutasi, penelitian telah diarahkan untuk menemukan agen anti-H. pylori baru sambil juga mengoptimalkan fungsi obat saat ini..

Berdasarkan latarbelakang tersebut, peneliti dari Oita University, Jepang bekerjasama dengan peneliti dari Divisi Gastroentero-Hepatology, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Universitas Airlangga menginisiasi sebuah tinjauan literature atau study pustaka dari penelitian-penelitian yang sudah ada untuk menyajikan laporan tentang berbagai senyawa, baik yang baru maupun yang dikombinasikan dengan antibiotik saat ini, dan jalurnya untuk melawan resistensi H. pylori. Tinjauan literature tersebut berhasil diterima dan dipublikasikan pada jurnal internasional terindeks Scopus Kuartil 2 (Q2) yaitu Microorganism.

Hasil studi pustaka yang dilakukan menemukan beberapa alternatif untuk pemberantasan H. pylori yaitu: (a) Penargetan biofilm yang selama ini diketahui melindungi bakteri dari antimikroba. Beberapa produk alami memiliki aktivitas anti-biofilm. Memodifikasi pembawa obat dengan nanopartikel memungkinkan obat melewati biofilm dan membunuh bakteri. Kombinasi probiotik dan antibiotik konvensional dapat membantu menghancurkan biofilm. (b) Modifikasi vesikel membran luar/ outer membrane vesicles (OMV) pada H. pylori yang melindungi bakteri dalam berbagai kondisi stres. Namun, dalam perkembangan riset terkini, OMV ini dapat dimodifikasi sebagai pembawa obat alami dan vaksin. (c) Pemanfaatan bacteriophages yang merupakan predator alami bakteri. Phage adalah virus bakterial yang memiliki spesifisitas inang dan aktivitas spektrum sempit, sehingga tidak mengganggu mikrobiota usus. Bacteriophages mudah diisolasi, hanya bereplikasi pada bakteri target, mengkode enzim untuk mengatasi pembentukan biofilm, dapat dipersonalisasi atau dikombinasikan sebagai koktail, berevolusi bersama dengan inang untuk beradaptasi dengan strain bakteri yang resistan, berpotensi stabil secara in vivo, dan efektif dalam mengobati berbagai infeksi. (d) Pemanfaatan patogenesis bakteri melalui zat penghambat proses molekuler atau anti-adhesi untuk mengendalikan bakteri tersebut. Berbagai senyawa berbasis asam sialik dan sistem penghantaran berbasis asam sialik telah diidentifikasi dan dikembangkan, karena senyawa-senyawa tersebut dapat secara efektif menghambat adhesi bakteri dan meningkatkan pemberantasan infeksi H. pylori. (e) Konstruksi nanopartikel yang mengandung berbagai muatan mulai dari antibiotik hingga asam nukleat. Nanopartikel berbasis lipid dapat membunuh H. pylori di dalam sel dan biofilm. Meskipun memiliki proses konstruksi yang kompleks, nanopartikel ini dapat melindungi obat yang terkandung dari keasaman lambung, meningkatkan permeabilitas membran, dan mengubah struktur membran bakteri. Selain itu, nanopartikel ini dapat bertahan lebih lama di lambung, sehingga memungkinkan kontak yang lebih lama antara bakteri dan obat yang mengoptimalkan penetrasi mukosa dan perlekatan pada bakteri.

Meskipun beberapa pengobatan berbasis nanopartikel telah disetujui, pada kenyatannya tidak ada protokol umum dan pedoman khusus untuk pengobatan berbasis nano tersebut. Beberapa negara telah mencoba membangun badan untuk mengatur bidang ini dengan lebih baik, seperti Nanotechnology Task Force oleh Food and Drug Administration (FDA) dan Health Portfolio Nanotechnology Working Group di Kanada. Hal ini karenakan interaksi nanopartikel dan tubuh manusia belum sepenuhnya dipahami, penelitian lebih lanjut dengan panduan yang tepat tentang sifat fisikokimia, rute pemberian, dosis, dan toksisitas diperlukan untuk memajukan bidang ini.

Berdasarkan hasil tinjauan literature yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa penelitian intensif telah banyak dilakukan untuk menemukan alternatif cara atau strategi guna memerangi resistensi antimikroba pada H. pylori. Karena penelitian antibiotik telah memakan waktu lebih lama daripada kemampuan bakteri untuk memperoleh resistensi, berbagai upaya dilakukan untuk memaksimalkan penggunaan antibiotik salah satunya dengan membangun nanopartikel sebagai sistem penghantaran obat yang memungkinkan obat bertahan lebih lama dalam aliran darah dan mudah menembus bakteri. Namun, terdapat tantangan dalam produksi, farmakokinetik, farmakodinamik, keamanan, dan stabilitas modalitas baru ini. Selain itu, regulasi dan distribusi modalitas baru ini perlu dilaksanakan untuk memastikan manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat.

Link: https://doi.org/10.3390/microorganisms12101986

Penulis: Prof. M. Miftahussurur, dr., M. Kes., Sp.PD-KGEH., Ph.D

Baca juga: Deteksi Residu Antibiotik Tylosin dan Enrofloxacin pada Ayam Pedaging