Universitas Airlangga Official Website

Apa yang Perlu diketahui dari Hormon Tiroid dan Tirotoksikosis?

Apa yang Perlu diketahui dari Hormon Tiroid dan Tirotoksikosis?
Sumber: Merdeka.com

Hormon tiroid adalah zat penting yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid dan berfungsi mengatur berbagai aktivitas dalam tubuh. Biasanya, produksi hormon ini terjaga dengan baik melalui sistem yang melibatkan hipotalamus dan hipofisis. Namun, jika kelenjar tiroid memproduksi hormon secara berlebihan, kondisi ini dikenal sebagai tirotoksikosis, yang dapat mempercepat metabolisme tubuh dan menyebabkan berbagai masalah kesehatan.

Salah satu bentuk tirotoksikosis yang paling serius adalah thyroid storm, yang jarang terjadi tetapi memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi dibandingkan tirotoksikosis biasa. Penyebab umum tirotoksikosis adalah penyakit Graves, diikuti oleh penyakit tiroid nodular dan tiroiditis.

Dampak pada Jantung

Tirotoksikosis dapat menyebabkan masalah serius pada jantung, seperti aritmia (gangguan irama jantung) dan gagal jantung. Gejala yang mungkin muncul termasuk detak jantung cepat (takikardia) dan atrial fibrilasi, di mana irama jantung menjadi tidak teratur. Perubahan ini terjadi karena hormon tiroid berlebihan mempengaruhi fungsi jantung, meningkatkan detak jantung dan tekanan darah, serta mengurangi resistensi pembuluh darah.

Salah satu masalah yang sering terjadi adalah regurgitasi katup jantung, terutama pada katup trikuspidalis dan mitral. Regurgitasi ini terjadi karena perubahan tekanan dan beban pada jantung akibat tirotoksikosis. Namun, mekanisme pasti dari masalah ini masih belum sepenuhnya dipahami.

Penelitian dan Temuan

Dalam sebuah penelitian yang melibatkan 62 pasien dengan tirotoksikosis, mayoritas adalah perempuan dengan rata-rata usia sekitar 45 tahun. Penyakit Graves adalah penyebab utama tirotoksikosis pada pasien ini. Sebagian besar pasien mengalami perbaikan fungsi jantung setelah pengobatan tirotoksikosis, terutama dalam enam bulan pertama.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa hipertensi paru (tekanan darah tinggi di paru-paru) sering terjadi pada pasien dengan tirotoksikosis, yang dapat memperburuk kondisi jantung. Perbaikan hipertensi paru juga terlihat pada sebagian besar pasien setelah pengobatan.

Mekanisme Penyebab Regurgitasi

Regurgitasi katup jantung pada tirotoksikosis dapat disebabkan oleh dua mekanisme utama: disfungsi primer pada katup dan perangkatnya, serta disfungsi sekunder akibat efek hemodinamik dari hormon tiroid yang berlebihan. Hormon tiroid dapat menyebabkan kerusakan pada otot jantung dan katup, serta memicu proses inflamasi yang merusak struktur katup.

Selain itu, tirotoksikosis juga dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah di paru-paru, yang berkontribusi pada regurgitasi katup. Mekanisme ini melibatkan peningkatan curah jantung dan perubahan pada pembuluh darah, yang dapat menyebabkan dilatasi pada katup jantung.

Pengobatan dan Manajemen Penyakit Tirotoksikosis

Pengobatan tirotoksikosis biasanya melibatkan penggunaan obat-obatan untuk mengontrol produksi hormon tiroid. Dalam beberapa kasus, tindakan lebih lanjut seperti operasi atau terapi radioaktif mungkin diperlukan. Penggunaan kortikosteroid juga dipertimbangkan dalam beberapa situasi untuk mengurangi gejala.

Penting untuk melakukan pemantauan yang cermat terhadap pasien dengan tirotoksikosis, terutama yang mengalami masalah jantung. Dengan pengobatan yang tepat, banyak pasien dapat mengalami perbaikan signifikan dalam kondisi jantung mereka.

Kesimpulan

Tirotoksikosis adalah kondisi serius yang dapat mempengaruhi banyak aspek kesehatan, terutama jantung. Memahami hubungan antara tirotoksikosis dan masalah jantung, seperti regurgitasi katup, sangat penting untuk pengelolaan yang efektif. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami lebih baik mekanisme yang terlibat dan untuk mengembangkan strategi pengobatan yang lebih baik.

Penulis: Dr. Hermina Novida, dr., Sp.PD.

Link: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/unusual-presentations-of-thyrotoxic-tricuspid-and-mitral-regurgit

Baca juga: Pengalaman dan Tantangan Skrining Hipotiroid Kongenital di Indonesia