Industri hiburan di Indonesia terus melaju pesat dari tahun ke tahun. Berdasarkan Badan Pusat Statistik (2023) sebanyak 80,26 persen masyarakat Indonesia menggunakan dan mengakses internet untuk mengakses hiburan. Pandemi Covid-19 membuat seluruh dunia termasuk Indonesia begitu tergantung pada internet untuk mengakses hiburan salah satunya melalui OTT atau layanan streaming berbayar. Pasca pandemi, OTT tidak lantas langsung tertinggalkan (Nanda et al., 2024).
Beberapa orang sudah mulai nyaman untuk tetap menonton di OTT. Layanan OTT menjadi pilihan utama untuk mengakses hiburan berupa film dan drama baik lokal maupun internasional. Semasa pandemi, beberapa film bahkan tayang perdana lewat OTT seperti Mulan dan Luca. Kemudahan yang OTT berikan yaitu melalui satu aplikasi yang menyediakan berbagai konten untuk binge-watching menjadi alasan utama mengapa OTT tetap sangat diminati. Bahkan pasca pandemi terutama bagi mereka yang memiliki kesibukan dan tidak memiliki waktu untuk pergi ke bioskop secara khusus seperti XXI, CGV, dan Cinepolis.
Peningkatan Layanan
Dalam data GoodStats 2023, peningkatan penggunaan layanan streaming sangat drastis dari 2016 yang awalnya tidak mencapai satu juta pelanggan. Barulah pada sekitar tahun 2019-2020 peningkatannya begitu tajam hingga menyentuh hampir 8 juta pelanggan. Puncaknya, pada tahun 2021, langganan OTT di Indonesia mencapai hampir 12 juta pelanggan. OTT bahkan secara tidak langsung menyelamatkan industri perfilman yang redup di kala masa pandemi (Das Mallick, 2021).

Foto: (GoodStats, 2023)
Persaingan tidak dapat terhindarkan antara layanan streaming dan bioskop karena pergeseran preferensi konsumen sejak tahun 2019 (Gaonkar et al., 2022). Hal ini tentu menjadi sebuah ancaman tersendiri bagi bioskop. Selain itu, saat ini industri bioskop sedang berada di fase untuk terus berusaha mengembalikan kejayaannya sebelum pandemi melalui berbagai promosi dan kolaborasi dengan berbagai pihak untuk menarik kembali perhatian masyarakat.
Secara perlahan, penonton di bioskop mulai kembali meningkat dengan terbuktinya film KKN Desa Penari dan Pengabdi Setan 2: Communion yang rilis pada tahun 2022. Keduanya mampu menempati posisi teratas sepuluh besar film Indonesia terlaris sepanjang masa. Hal ini menjadi sebuah angin segar bagi industri bioskop. Bahwa bioskop sendiri masih memiliki peluang yang sangat besar untuk tetap bertahan pada era yang serba digital ini. Bioskop yang terus memberikan upgrade dengan sentuhan-sentuhan yang lebih premium dalam pengalaman menonton. Terutama bagi film-film yang menayangkan aksi-aksi menegangkan dan sangat mengandalkan visual serta audio. Hal tersebut menjadikan bioskop menjadi sebuah tempat hiburan yang tidak mudah terlupakan walau masih harus berjuang dalam meningkatkan penjualannya.
Pertahankan Posisi
OTT pun turut berusaha mempertahankan posisinya di hati masyarakat dengan membuka pintu selebar-lebarnya bagi para pelaku film lokal yang sulit mendapatkan posisi slot di bioskop. Produser juga menjadi semakin terbuka untuk merilis film-filmnya di OTT tanpa merilis di bioskop untuk menghemat budget dengan jangkauan audiens yang lebih bervariasi dan luas. Namun, bioskop menjadi barometer utama dalam kesuksesan film. Rilis di bioskop menjadi prestige tersendiri bagi para produser dan pelaku film dalam mengukur kesuksesan sebuah film.
Bioskop dan OTT sama menghadapi tantangan dalam mempertahankan eksistensinya di Indonesia. Bioskop memiliki keterjangkauan yang sulit bagi beberapa masyarakat yang tidak tinggal di daerah perkotaan besar dan harga tiketnya yang cukup mahal untuk beberapa kalangan. OTT sendiri juga turut mengalami tantangan. Walau akses jangkaunya jauh lebih mudah dengan konten yang lebih bervariasi dan eksperimental daripada bioskop yang harus membayar untuk tiket masuk tiap film.
OTT sangat mengandalkan langganan per bulan bahkan per tahun dengan harga yang bervariasi namun tetap terjangkau. Namun sayangnya, sistem-sistem ini memiliki celah kelemahan yang tidak bisa terhindarkan. Sistem langganannya mudah diakali oleh beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab sehingga pendapatan OTT terancam menurun.
Persaingan OTT dan Bioskop
Layanan OTT berbayar dan Bioskop akan terus bersaing untuk bertahan dalam ketatnya industri hiburan. Namun, keduanya tidak menutup kemungkinan dapat menjadi support antara satu sama lain agar tetap mendapatkan keuntungan. Bioskop akan memberikan tayangan film sesuai jadwal rilis dan OTT dapat menjadi salah satu alternatif ketika masa tayang dari bioskop telah berakhir. Kolaborasi ini tidak akan membuahkan hasil jika keduanya tidak menayangkan konten-konten yang menarik dan relevan dengan minat dari market Indonesia. Bioskop dan layanan OTT tidak perlu bersaing secara langsung. Keduanya memiliki peran masing-masing yang saling melengkapi dalam industri hiburan. Melalui kolaborasi yang tepat, peningkatan teknologi, dan pemahaman praktis yang lebih baik terhadap preferensi penonton, keduanya dapat berkembang bersama dengan lebih baik dan menghadirkan pengalaman hiburan yang lebih kaya dan bervariasi bagi masyarakat Indonesia.
Kunci sukses di masa depan bagi bioskop dan OTT adalah fleksibilitas dan inovasi yang tidak berhenti. Bioskop tetap akan selalu menjadi tempat pertama di mana film-film akan rilis dan menjadi tempat untuk mendapatkan pengalaman menonton yang nyaman. Sementara, layanan OTT akan terus memenuhi kebutuhan hiburan yang personal dan on-demand. Keduanya memiliki pasar dan peminat masing-masing dengan segmen audiens yang berbeda. Sehingga, persaingan di antara keduanya ini tidak akan bersifat saling menghancurkan tetapi bisa memicu untuk terus berinovasi dimasa yang akan datang. Keduanya tidak perlu saling menjatuhkan satu sama lain. Akan tetapi, bisa tumbuh bersama, menciptakan masa depan hiburan yang lebih inovatif, inklusif, dan dinamis demi kemajuan industri hiburan Indonesia.
Penulis: Zsa-Zsa Evangeline, Mahasiswa Sekolah Pasca Sarjana, Universitas Airlangga





