Indonesia mengalami bonus demografi yang menandakan jumlah penduduk usia muda atau produktif jauh lebih banyak dibandingkan lanjut usia. Tumbuh kembang anak menjadi hal krusial bagi masa depan generasi penerus Indonesia. Perkembangan anak perlu dipantau tiap periode waktu tertentu agar pertumbuhan dan perkembangannya sesuai dengan usia semestinya. Oleh karena itu, saya mengangkat isu keterlambatan berkembang/development delay (DD) untuk kita cermati bersama.
Delayed Development (DD) adalah kelainan pada anak yang merupakan bagian dari ketidakmampuan dalam mencapai perkembangan sesuai usianya, keterlambatan bisa terjadi dalam dua bidang atau lebih, antara lain perkembangan motorik kasar/motorik halus, bicara/berbahasa, kognisi, personal/sosial dan aktivitas sehari-hari.(Susanti et al., 2018).
Neuro Senso Motor Reflex Development and Synchronization
Neuro Senso Motor Reflex Development and Synchronization merupakan teknik modifikasi yang memiliki basic stimulasi sentuhan pada sistem sensori, motor, dan reflek. Sentuhan terapi ini tertuju pada tactile (permukaan kulit). Sentuhan/usapan tersebut memiliki pola tersendiri, ada yang dengan penekanan pada stretch, contract.
Prevalensi keterlambatan perkembangan motorik yang signifikan di dalam populasi anak tidak diketahui. Melalui perhitungan statistik, 2-3% bayi berada di luar rentang tonggak pencapaian motorik normal. Dari angka tersebut, sebagian kecil (15-20%) diketahui mempunyai diagnosis gangguan neuromotor signifikan berupa serebral palsi atau defek pada saat lahir. Jarang ditemukan penyakit gangguan saraf atau otot yang progresif (Amanati, et al., 2018). Prevalensi Delay Development (DD) di YPAC Surakarta pada tahun 2017 sebanyak 116 pasien dan pada tahun 2018 jumlahnya meningkat menjadi 135 pasien (Data Primer YPAC Surakarta, 2018).
Problematika
Problematika yang ditemui pada kondisi Delay Development (DD) adalah adanya gangguan di tingkat impairment, participant restriction, dan fungsional limitation. Body Structure: kepala cenderung ekstensi, shoulder cenderung retraksi, elbow cenderung ekstensi, wrist cenderung palmar fleksi, trunk cenderung ekstensi, pelvic kearah anterior tilting, hip abduksi dan hiperekstensi, knee ekstensi dan ankle inversi. Body Function: adanya penurunan tumbuh tumbuh kembang, adanya gangguan sensoris touch, smell, taste dan vertibular, adanya gangguan reflek, adanya penurunan kekuatan otot. Participant restriction berupa (1) personal: melakukan aktivitas sehari-hari membutuhkan bantuan, (2) sosial: kurang bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Fungsional limitation berupa gangguan dalam melaksanakan fungsional dasar seperti belum bias merangkak.

Terapi tersebut bertujuan mensinkronisasi antara perkembangan sensorik dan motorik yang diatur oleh sistem saraf pusat (Cerebrum) korteks serebral dengan keempat lobusnya untuk meningkatkan perkembangan persepsi yang lebih tinggi. Apabila sudah sinkron antara sistem sensorik dan motoriknya, maka anak akan lebih paham terhadap instruksi yang diberikan, gerakan tubuh lebih terarah artinya motoriknya sudah bagus dan fungsi kognitifnya meningkat.
Terapi ini cocok untuk anak autism, ADHD (attention deficit hyperactivity disorder) atau gejala gangguan mental yang menyebabkan seseorang sulit fokus, hiperaktif, dan telat bicara. ADHD (attention deficit hyperactivity disorder) merupakan kelainan perkembangan mental yang menjadi masalah bagi orang tua apabila tidak dikenali gejalanya sejak dini. Seorang anak kerap dinilai sebagai anak yang “pemalas” dan “nakal” (Widya Primadhani, 2015).
Telat Bicara
Biasanya anak yang mengalami telat bicara itu cenderung aktif, gerakannya tidak terarah, acuh, dan kesulitan memusatkan perhatian. Bila ditelusuri lebih jauh lagi, anak telat bicara itu mengalami gangguan pada tujuh sensory system (proprioception, auditory, tactile, visual, vestibular, gustatory, interoceptive, and olfactory) yang akan mempengaruhi fungsi kognitif. Jika tujuh sensorik system itu bisa mereka kuasai, maka anak itu akan lebih nurut dan terarah.
Delayed Development disebabkan berbagai faktor, di antaranya faktor genetic dan faktor gizi. Sementara itu, faktor – faktor luar yang mendukung terjadinya develoment delay di antaranya (1) penggunaan gawai berlebih saat pandemi dan tidak berinteraksi dengan linkungan sekitarnya, (2) anak dengan kelahiran Caesar, menyebabkan tidak terstimulusnya otor-otot tubuh bagian depan.
Gejala yang dialami anak dengan gejala ADHD (attention deficit hyperactivity disorder): gerakan yang tidak seimbang, terlambat bicara, sulit focus, gerakan tidak terkontrol, dominasi satu tangan, lemahnya otot bagian depan tubuh, komunikasi dua arah belum terjalin, sulit meminum air mineral, sulit dalam mengunyah dan menelan makanan, dan kurang tertarik dengan orang lain.
Teknik yang Dilakukan
Teknik pada Neuro Senso Motor Reflek Development and Synchronization (NSMRD & S) yang dilakukan pada kondisi anak delay development:
Teknik gerakan gelombang dengan bentuk searah jarum jam pada tengah tubuh dilanjutkan bagian kanan serta kiri tubuh, kemudian pelvic kiri dan kanan. Lalu gerakan gelombang melingkar dari perut sampai sacrum. Lakukan 3 kali pengulangan. Metode yang dilakukan dalam menangani gejala ini, di antaranya sentuhan di area kepala. punggung dan pemberian tipe exercise yang melatih otot tubuh bagian depan.(Anggraeni & Nur Susanti, 2021).
Teknik yang kedua dari teknik Neuro Senso Motor Reflek Development and Synchronization (NSMRD & S) menggunakan patterning merangkak yang dilakukan dengan gerakan pelvic ke belakang agar berdiri posisi merangkak secara benar dengan tangan dan kaki bersilang, missal tangan kanan ke depan kaki kiri ke depan dan sebaliknya.
Massage Oral Massage Oral adalah suatu sentuhan dan pijatan pada jaringan otot daerah sekitar mulut untuk melancarkan peredaran darah dan merangsang syaraf-syaraf yang akan memberikan pengaruh yang positif (Retnowati, et al., 2013). Tujuan dari Massage Oral, yaitu bertujuan memfasilitasi reflek menelan, memperbaiki tonus dan gerakan pada organ sekitar mulut misalnya bibir dan pipi (Retnowati, et al., 2013).
Frekuensi Terapi
Frekuensi pemberian terapi sekaligus exercise dalam sekali latihan selama 60 menit per sesi latihan. Hal yang menjadi kunci keberhasilan terapi NSMRD & S terletak pada seberapa sering latihan tersebut dilakukan. Idealnya untuk kasus seperti ini maka frekuensi latihan akan diberikan setiap hari. Jika anak tersebut sudah menunjukkan adanaya perubahan sikap, respon terhadap lingkungan serta fungsi kognitifnya maka akan dilakukan evaluasi perkembangan pasien dan sudah mulai bisa diturunkan frekuensinya. Apabila durasi latihan dilakukan lebih lama, tetapi frekuensinya lebih rendah maka hasilnya tidak akan sebaik yang melakukan terapi dengan durasi latihan lebih singkat dengan frekuensi yang tinggi.
Dalam melakukan penanganan kesehatan diperlukan pendekatan sesuai dengan tipe pasien anak-anak tersebut. Prosedur terapi pertama yang dilakukan dengan kasus ADHD pada anak berusia 4 tahun adalah assessment dan observasi berupa pengamatan gejala apa yang dialami oleh pasien. Kemudian jika sudah menemukan diagnosa pasien maka kita ajak tidur dahulu terutama dengan anak-anak yang mengalami gangguan verbal, cara berjalan (menapak atau jinjit, seimbang atau tidak, dan dapat mengendalikan tidak), cara berdiri (tegak atau tidak), cenderung memasukkan benda ke mulut atau tidak dan lain sebagainya terkait cara dia berperilaku. Prosedur awal yang kita ambil tentu dengan mengajak dan membujuk dengan hal yang ia suka, seperti mainan. Namun, jika pada anak-anak dengan autism klasik itu memang dia tidak memahami lingkungannya dan tidak tahu harus berbuat apa maka demi kelancaran terapi, anak tersebut harus kita pegangi karena anaknya memang belum bisa kita ajak negosiasi.
Kesimpulan
Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) dikenal dalam bahasa Indonesia dengan sebutan Gangguan Hiperaktif Defisit Perhatian (GHDP). Gangguan ini dikategorikan menjadi 3 tipe (1) hiperaktifitas/impulsifitas, (2) inatensi (tidak fokus), (3) kombinasi keduanya. Gejala tipe inatensi yaitu memiliki kesulitan dalam berkonsentrasi dan fokus. Gejala tipe hiperaktivitas/impulsifitas yaitu seorang anak cenderung hiperaktif, tidak bisa diam dan tidak sabar dalam menunggu giliran.
Hal ini dapat menjadi masalah bagi anak, keluarga dan sosial. Oleh karena itu, pendekatan secara holistik diperlukan untuk menghasilkan kualitas hidup yang lebih baik. Pendekatan ini membutuhkan peran serta dari pelayanan pendidikan, sosial (keluarga) dan fasilitas pelayanan kesehatan. Pendekatan secara holistik dengan melakukan pendekatan psikososial dapat dijadikan modalitas terapi di samping terapi medikamentosa.(Widya Primadhani, 2015)
Adapun saran dan masukan yang disampaikan yakni penanganan kasus ADHD, diperlukan konsistensi lebih dibandingkan lamanya durasi terapi; pengamatan dilakukan oleh yang sudah profesional dan terdidik sebagai fisioterapis; dan pengamatan diperlukan sebagai bahan dasar penulisan artikel dan ditunjang lagi oleh kajian.
Penulis: Ikhsan Dwi Prasetyo, Mahasiswa Fisioterapi Universitas Airlangga





