Studi terbaru secara konsisten menyoroti tantangan signifikan yang dihadapi oleh mahasiswa internasional, melebihi tantangan yang dihadapi oleh mahasiswa domestik (Andrade, 2006; Kusek, 2015; Brunsting et al., 2018). Kesepian, penerimaan sosial, dan beradaptasi dengan tuntutan universitas merupakan hal yang sangat sensitif bagi mahasiswa internasional (Andrade, 2006). Selain itu, mahasiswa internasional sering bergulat dengan stres dan kecemasan di bidang akademik dan sosial (Ramsay et al., 2007 & Fritz et al., 2008). Namun, sebagian besar penelitian tentang tantangan mahasiswa internasional terkonsentrasi di negara-negara berbahasa Inggris, meninggalkan kesenjangan penelitian yang substansial di negara-negara yang tidak berbahasa Inggris (Ikeguchi, 2012; Tamaoka dkk., 2003; Murphy-Shigematsu, 2002). Kesenjangan ini sangat relevan untuk negara-negara seperti Indonesia, yang tidak berbahasa Inggris dan mengalami lonjakan jumlah mahasiswa asing. Mengatasi kesenjangan ini dapat memberikan wawasan yang berharga tentang pola adaptasi siswa migran.
Salah satu tujuan pendidikan yang terkenal bagi penutur non-Inggris di benua Asia adalah Jepang. Jumlah siswa internasional di Jepang meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun. Dalam kurun waktu 10 tahun (2009-2019), pelajar internasional di Jepang mengalami peningkatan yang signifikan, yaitu dua kali lipat dari 132.720 menjadi 312.214 orang (JASSO, 2019). Meskipun demikian, penelitian mengenai isu penyesuaian diri mahasiswa internasional di Jepang masih sangat minim. Bahkan Lee (2017) menyatakan bahwa hampir tidak ada penelitian yang menyoroti konteks mahasiswa internasional di Jepang dalam Journal of International Students. Mahasiswa internasional masih berfokus pada negara-negara Barat sebagai tujuan pendidikan tinggi favorit mereka, seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dll. Selain itu, urgensi penelitian terkait konteks mahasiswa internasional di Jepang juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh (Kono et al., 2015) bahwa kesehatan mental mahasiswa internasional di Jepang harus menjadi perhatian yang signifikan karena besarnya prevalensi depresi pada mahasiswa internasional yang mencapai 41%.
Jepang yang memiliki budaya konteks tinggi menghadirkan beberapa kompleksitas budaya yang dapat menantang adaptasi mahasiswa internasional. Sebagai contoh, budaya shodan-shogi (kesadaran berkelompok) yang kuat menumbuhkan kelompok atau komunitas eksklusif bagi orang Jepang, sehingga sulit bagi para pendatang untuk berasimilasi (Lee, 2017). Penelitian Murphy-Shigematsu (2002) membahas tentang sulitnya berinteraksi dengan orang Jepang bagi mahasiswa internasional karena adanya kesenjangan antara perasaan yang sebenarnya (honne) dan perilaku formal yang ditunjukkan di depan umum (tatemae). Meskipun dipahami bahwa orang Jepang lebih menghargai keharmonisan dalam hubungan daripada ekspresi jujur yang bersifat langsung, mahasiswa asing masih membutuhkan bantuan untuk menerima dan melihat budaya ini dalam perspektif lokal.
Penelitian lain menyatakan bahwa sebanyak 81% orang berpendapat bahwa bahasa Jepang sulit untuk digunakan dan dimengerti, 75% mengatakan sulit untuk berteman dengan orang Jepang karena mereka tidak menunjukkan perasaan mereka yang sebenarnya, dan 55% percaya bahwa orang Jepang tidak menyukai orang asing (Ikeguchi, 2012). Berdasarkan permasalahan sosial yang telah disebutkan, penulis menilai bahwa terdapat urgensi untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai adaptasi mahasiswa asing di Jepang.
Hipotesis utama dalam penelitian ini adalah adanya hubungan antara kompetensi yang dirasakan dengan adaptasi sosial budaya yang dimediasi oleh efikasi diri komunikasi antarbudaya. Hipotesis mayor tersebut dapat dirinci menjadi beberapa hipotesis minor, yaitu: a) terdapat hubungan antara perceived competence dengan adaptasi sosiokultural; b) terdapat hubungan antara perceived competence dengan intercultural communication self-efficacy; c) terdapat hubungan antara intercultural communication self-efficacy dengan adaptasi sosiokultural.
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif cross-sectional. Desain ini sangat relevan karena memungkinkan pengumpulan data pada satu waktu tertentu sehingga memungkinkan untuk melihat hubungan antar variabel pada saat itu juga.
Partisipan dalam penelitian ini dipilih berdasarkan beberapa kriteria: Mereka adalah imigran dari berbagai negara, bukan warga negara Jepang, dan sedang atau pernah memiliki status visa sementara di Jepang sebagai mahasiswa. Yang terpenting, mereka bukan penutur asli bahasa Jepang. Partisipan penelitian ini terdiri dari berbagai macam negara, dengan 28 partisipan (30,43%) berasal dari negara individualis dan 64 partisipan (69,57%) berasal dari negara kolektivis, seperti yang dikategorikan berdasarkan literatur Hofstede (1980). Data dikumpulkan melalui kuesioner daring yang didistribusikan dari 5 September 2022 hingga 4 November 2022.
Untuk menguji hipotesis penelitian, penulis merekrut 92 partisipan (usia = 23,6; SD usia = 3,87; 52,2% perempuan) yang merupakan mahasiswa internasional di Jepang. Partisipan terdiri dari mahasiswa dengan status penuh waktu (55,4%) dan mahasiswa pertukaran pelajar (44,6%). Sebagian besar peserta belum pernah mengikuti JLPT atau Ujian Kemampuan Bahasa Jepang (56,5%), kategori N5 (7,6%), kategori N4 (5,4%), kategori N3 (4,3%), kategori N2 (14,1%), kategori N1 (12%).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perceived Competence dan Self-Efficacy dalam Komunikasi Antarbudaya dapat memprediksi adaptasi. Signifikansi hubungan positif antara Perceived Competence dan Efikasi Diri Komunikasi Antarbudaya menunjukkan bahwa mahasiswa internasional cenderung dapat beradaptasi jika mereka percaya bahwa mereka memiliki kemampuan dalam kompetensi tertentu, yang dalam hal ini adalah kompetensi komunikasi antarbudaya dan kemampuan bahasa kedua. Seperti yang telah dijelaskan pada penelitian sebelumnya oleh Masgoret dan Ward (2012), kompetensi bahasa di negara tujuan dan kompetensi komunikasi yang lebih luas menjadi faktor penentu dalam adaptasi sosial budaya. Sejalan dengan penelitian sebelumnya, penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara Perceived Competence terhadap Sociocultural Adaptation. Hubungan ini masuk akal karena kemampuan bahasa kedua dan kompetensi antar budaya yang tercermin dalam empati lintas budaya, pengalaman, motivasi, sikap, dan mendengarkan secara aktif dapat mempercepat penyesuaian diri seseorang ketika tinggal di budaya baru.
Efikasi Diri dalam Komunikasi Antarbudaya memiliki peran sebagai prediktor dengan effect size yang paling signifikan, tetapi ia tidak berperan sebagai mediator adaptasi. Hal ini ditunjukkan dengan hubungan antara Perceived Competence dengan Efikasi Diri Komunikasi Antarbudaya yang tidak signifikan.
Hasil penelitian ini menjawab berbagai kemungkinan asumsi mengenai mekanisme psikologis yang berperan dalam adaptasi sosiokultural. Besarnya pengaruh efikasi diri terhadap adaptasi sosiokultural pada beberapa penelitian (misalnya, Wilson & Fischer, 2013; Grisentko et al., 2021) serta hubungan antara persepsi terhadap efektivitas kompetensi antarbudaya terhadap efikasi diri komunikasi antarbudaya (Kabir & Sponseller, 2020), ternyata belum cukup untuk menciptakan efikasi Diri sebagai mediator yang tepat dan signifikan. Hal ini diasumsikan terjadi karena perbedaan budaya dalam hal kolektivisme-individualisme dan ciri-ciri kepribadian.
Penelitian di masa depan perlu menggunakan variabel sosio-demografis individualistik vs kolektivistik, terutama pedesaan vs perkotaan, dan faktor trait (conscientiousness dan neurotisme) untuk memperjelas hubungan antara Persepsi Kompetensi dan Efikasi Diri Komunikasi Antarbudaya. Variabel-variabel tersebut dapat dianggap sebagai variabel moderator dalam model hubungan antara Persepsi Kompetensi dan Efikasi Diri Komunikasi Antarbudaya. Selain itu, pengujian lebih lanjut juga dapat dilakukan untuk mengimplementasikan paradigma dalam penelitian ini pada populasi migran selain mahasiswa internasional, seperti ekspatriat dan pengungsi di negara-negara yang tidak berbahasa Inggris. Di masa depan, pembuat kebijakan seperti kantor internasional perlu memfasilitasi kebutuhan mahasiswa internasional terkait masalah adaptasi melalui pelatihan atau kelas mengenai kemampuan khusus yang disesuaikan dengan konteks budaya negara tempat mahasiswa asing tinggal.
Penulis: Dr. Rahkman Ardi
Link: https://journals2.ums.ac.id/index.php/indigenous/article/view/4124
Baca juga: Interkulturalitas dalam Pendidikan Anak





