Universitas Airlangga Official Website

Aerosol dalam Kedokteran Gigi

Aerosol dalam Kedokteran Gigi
Sumber: IDN Times

Bioaerosol adalah partikel cair atau senyawa di udara yang mengandung organisme atau produk toksiknya. Dalam dunia kedokteran gigi, bioaerosol dihasilkan dari berbagai prosedur dan bisa menjadi sarana penyebaran infeksi. Kandungan mikroorganisme dan produk sampingan beracun dalam bioaerosol dapat membahayakan kesehatan, terutama bagi mereka yang bekerja dalam lingkungan ini secara terus-menerus.

Profesional yang bekerja dibidang kesehatan gigi dan pasiennya, berisiko tinggi terpapar aerosol yang dihasilkan selama perawatan gigi. Prosedur seperti penggunaan bur turbine, semprotan udara yang mengandung air, dan instrumen pembentuk aerosol lainnya menghasilkan partikel-partikel yang dapat mengandung mikroba. Aerosol di kantor gigi dapat mengandung plak, tartar, air liur, darah, bahan gigi, dan mikroorganisme dari saluran napas, yang semuanya bisa menyebabkan infeksi.

Beberapa bakteri yang ditemukan dalam bioaerosol gigi termasuk Pseudomonas aeruginosa, Pseudomonas cepacia, Legionella pneumophila, dan Mycobacterium chelonae. Bahkan beberapa spesies ragi juga teridentifikasi dalam biofilm ini. Menariknya, konsentrasi aerosol bakteri total berkorelasi positif dengan waktu kerja klinis, menunjukkan semakin lama prosedur berlangsung, semakin banyak bakteri yang dihasilkan.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS telah menyatakan bahwa aerosol dan tetesan gigi memiliki risiko tinggi setara dengan aerosol yang dihasilkan selama prosedur medis. Ini sangat berbahaya terutama saat menangani individu yang tidak menunjukkan gejala atau hanya sedikit gejala. Aerosol yang dihasilkan selama perawatan gigi dalam kontak dekat dan paparan cairan tubuh bisa menyebabkan stres mental bagi petugas kesehatan gigi dan pasien mereka.

Ada beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengurangi risiko paparan mikroba dari aerosol gigi. Teknik evakuasi yang baik dan penggunaan rubber dam dapat mengurangi risiko tersebut. Namun, penting untuk terus mengevaluasi apakah aerosol gigi benar-benar mengandung beban virus infeksius dan apakah perawatan gigi berkontribusi pada penyebaran infeksi saluran pernapasan.

Menurut CDC, penularan SARS-CoV-2 melalui kontak permukaan bukanlah jalur utama. Oleh karena itu, estimasi risiko aerosol dan kontaminasi permukaan harus bergantung pada pemulihan virion yang layak, bukan hanya berdasarkan pengujian PCR.

Penting untuk memahami bahaya yang terkait dengan bioaerosol dalam praktik kedokteran gigi. Dengan langkah-langkah pencegahan yang tepat dan terus mengevaluasi risiko, kita dapat melindungi profesional kesehatan gigi dan pasien dari potensi infeksi yang disebabkan oleh bioaerosol.

Penulis: Prof. Dr. Dian Agustin Wahjuningrum, drg., SpKG, Subsp.KE(K)

Informasi lebih detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

http://www.jidmr.com/journal/wp-content/uploads/2024/03/69-D24_3043_Dian_Agustin_Wahjuningrum_Indonesia-Rev.pdf

Baca juga: Mengatasi Gangguan Saraf Pasca Pemasangan Gigi