Malnutrisi pada anak dengan penyakit jantung bawaan (PJB) menjadi salah satu masalah kesehatan yang semakin mendapat perhatian, terutama di negara-negara berkembang. Di Indonesia, prevalensi malnutrisi pada anak dengan PJB cukup tinggi, mencapai 86%, namun sayangnya, program manajemen gizi khusus untuk anak-anak dengan PJB masih sangat terbatas. Sebagian besar penelitian tentang faktor risiko malnutrisi dan gangguan pertumbuhan pada anak dengan PJB di Indonesia juga belum banyak dilakukan. Padahal, faktor-faktor ini dapat mempengaruhi kualitas hidup dan perkembangan anak dengan PJB.
Sebuah studi yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Dr. Soetomo Surabaya mencoba untuk menggali lebih dalam tentang faktor risiko malnutrisi dan gangguan pertumbuhan pada anak-anak dengan PJB. Dalam penelitian ini, 83 pasien yang dirujuk ke klinik jantung anak di rumah sakit tersebut menjadi sampel penelitian. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji Chi-Square, dan regresi biner untuk mengidentifikasi faktor risiko terkait malnutrisi dan gangguan pertumbuhan.
Hasil Penelitian: Prevalensi Malnutrisi yang Tinggi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi malnutrisi pada anak dengan PJB di Surabaya sangat tinggi. Di antara 83 pasien yang terlibat dalam penelitian ini, sekitar 54,2% anak mengalami underweight (berat badan kurang), 43,4% stunting (pendek untuk usia), dan 53% mengalami wasting (kurus berdasarkan tinggi badan). Selain itu, sekitar 8,4% anak mengalami gangguan pertumbuhan yang lebih serius. Angka-angka ini menggambarkan bahwa masalah gizi pada anak dengan PJB bukanlah hal yang bisa diabaikan begitu saja.
Hubungan Antara Asupan Kalori dan Status Gizi Anak
Salah satu temuan penting dalam penelitian ini adalah adanya hubungan signifikan antara asupan kalori dengan status gizi anak. Anak-anak yang asupan kalorinya berada di bawah 70% dari Recommended Dietary Allowance (RDA) cenderung memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami underweight, stunting, dan wasting. Penelitian ini menunjukkan bahwa anak yang mendapatkan asupan kalori sekitar 50-70% dari RDA-HA memiliki risiko 10,5 kali lebih tinggi untuk mengalami stunting dibandingkan dengan anak-anak yang mendapatkan asupan kalori cukup (70-100% dari RDA-HA). Hasil ini menekankan pentingnya memastikan bahwa anak-anak dengan PJB mendapatkan asupan kalori yang memadai untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan mereka.
Pentingnya Intervensi Nutrisi yang Tepat
Berdasarkan temuan ini, dapat disimpulkan bahwa anak-anak dengan PJB di Indonesia sangat membutuhkan perhatian khusus dalam hal manajemen gizi. Asupan kalori yang cukup, serta perhatian terhadap faktor risiko lain seperti usia kehamilan dan cara persalinan, sangat penting untuk mendukung pertumbuhan optimal mereka. Oleh karena itu, perlu ada upaya lebih untuk mengembangkan program-program nutrisi yang lebih baik, khususnya yang menyasar anak-anak dengan PJB, agar mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan baik meskipun menghadapi tantangan medis yang signifikan.
Penulis: Dr. I Ketut Alit Utamayasa, dr., Sp.A(K)
Link jurnal: https://jmpcr.samipubco.com/
Link DOI : https://doi.org/10.48309/jmpcr.2025.476036.1413
Baca juga: Pertimbangan Pengobatan pada Koneksi Vena Pulmonalis Anomali Total (TAPVC)





