Universitas Airlangga Official Website

Rahasia Modal Kerja, Perbandingan Perusahaan Syariah dan Perusahaan Konvensional

ilustrasi bank syariah (foto: dok istimewa)


Manajemen Modal Kerja atau Working Capital Management (WCM) merupakan salah satu aspek fundamental dalam pengelolaan keuangan perusahaan. WCM bertujuan untuk mengoptimalkan penggunaan aset lancer dan kewajiban jangka pendek agar perusahaan dapat menjaga likuiditas sekaligus meningkatkan profitabilitas. Efisiensi dalam WCM memungkinkan perusahaan untuk menghadapi tantangan keunangan, termasuk fluktuasi pasar dan krisis ekonomi. Krisis keuangan global 2008 menjadi contoh nyata bagaimana ketidakmampuan dalam mengelola modal kerja dapat menyebabkan kebangkrutan. Situasi tersebut mendorong perlunya strategi yang lebih baik dalam manajemen modal kerja untuk meningkatkan daya tahan perusahaan terhadap tantangan ekonomi global.
Namun, pendekatan WCM antara perusahaan syariah atau sharia-compliant (SC) dan perusahaan konvensional atau non-shariah compliant (non-SC) memiliki perbedaan yang signifikan. Perusahaan SC harus mematuhi prinsip syariah, termasuk larangan riba dan investasi pada sektor-sektor tertentu, sehingga akses mereka terhadap pembiayaan konvensional sangat terbatas. Sebaliknya, perusahaan non-SC memiliki fleksibilitas lebih besar dalam memanfaatkan berbagai instrumen keuangan. Hal ini menciptakan tantangan tersendiri bagi perusahaan SC dalam mengelola modal kerja yang efisien.
Urgensi untuk memahami perbedaan dalam efisiensi WCM semakin meningkat dengan berkembangnya keungan Islam secara global. Dalam konteks ini, diperlukan solusi yang dapat membantu perusahaan SC mengoptimalkan modal kerja walaupun akses terhadap pembiayaan konvensional terbatas. Selain itu, fleksibilitas perusahaan non-SC dalam mengakses berbagai sumber pmebiayaan juga perlu diiringi dengan pengelolaan risiko yang baik untuk mencegah ketergantungan berlebihan pada utang. Perbandingan ini dapat menjadi dasar dalam mengembangkan strategi yang lebih inklusif untuk mendukung efisiensi operasional perusahaan dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Sampel dan Metode Penelitian
Data yang digunakan yaitu perusahaan yang terdaftar di Pakistan Stock Exchange (PSX-500) selama periode 1996-2020. Sampel terdiri dari perusahaan yang diklasifikasikan dalam dua kelompok yaitu perusahaan syariah atau sharia-compliant (SC) dan perusahaan konvensional atau non-shariah compliant (non-SC). Perusahaan SC dipilih berdasarkan standar Dow Jones Islamic Market Index (DJIMI) dengan kriteria utama rasio leverage maksimum 33%, sementara perusahaan non-SC dipilih dari subsektor industry yang sama. Data dianalisis menggunakan regresi Generalized Method of Moments (GMM) untuk mengatasi endogenitas, dengan variable utama meliputi Return on Assets (ROA), Return on Equity (ROE), Net Profit Margin (NPM), dan modal kerja. Variabel kontrol seperti belanja modal, ukuran perusahaan, dan pertumbuhan penjualan juga dimasukkan untuk memastikan hasil yang valid.
Hasil Penelitian
Hasil penelitian menemukan bahwa WCM yang baik secara konsisten memiliki korelasi positif dengan kinerja perusahaan, baik pada perusahaan SC maupun perusahaan non-SC. Namun perusahaan non-SC menunjukkan efisiensi yang lebih tinggi dalam memanfaatkan modal kerja. Hal ini disebabkan oleh akses mereka yang lebih luas terhadap pembiayaan konvensional, seperti pinjaman berbasis bunga dan obligasi, yang membantu mendukung likuiditas perusahaan. Sebaliknya, perusahaan SC menghadapi keterbatasan dalam mengakses sumber pendanaan ini karena larangan syariah terhadap bunga, sehingga perlu mencari alternatif pembiayaan lain yang sesuai dengan prinsip syariah
Selama krisis keuangan global, efisiensi modal kerja menurun pada kedua jenis perusahaan, tetapi perusahaan non-SC lebih mampu bertahan karena fleksibilitas mereka dalam mendapatkan suntikan likuiditas dari pasar keuangan konvensional. Sementara itu, perusahaan SC menghadapi lebih banyak hambatan karena keterbatasan akses pembiayaan. Analisis lebih lanjut juga menunjukkan bahwa sektor keuangan, baik SC maupun non-SC, lebih efisien dalam mengelola modal kerja dibandingkan sektor non-keuangan. Hal ini menunjukkan bahwa sifat industri dan struktur pembiayaan memiliki peran penting dalam menentukan efisiensi manajemen modal kerja.
Implikasi Penelitian
Hasil penelitian ini memberikan wawasan penting bagi pembuat kebijakan, pelaku bisnis, dan investor. Perusahaan SC memerlukan pengembangan instrumen pembiayaan yang inovatif untuk mengatasi keterbatasan akses terhadap sumber pendanaan konvensional. Instrumen seperti sukuk dan skema kemitraan berbasis syariah dapat menjadi solusi untuk meningkatkan efisiensi manajemen modal kerja mereka. Selain itu, pelatihan dan pendampingan dalam mengelola modal kerja berbasis prinsip syariah dapat memperkuat daya saing perusahaan SC, terutama dalam menghadapi tantangan ekonomi global.
Di sisi lain, perusahaan non-SC dapat menggunakan fleksibilitas mereka dalam mengakses pembiayaan untuk terus meningkatkan efisiensi operasional. Namun, penting bagi perusahaan non-SC untuk mengelola risiko yang timbul dari ketergantungan pada utang jangka pendek, yang dapat memengaruhi stabilitas keuangan mereka. Temuan ini juga relevan bagi investor, yang dapat menggunakan pemahaman tentang efisiensi modal kerja sebagai indikator utama dalam mengevaluasi potensi pertumbuhan dan keberlanjutan perusahaan. Dengan langkah yang tepat, hasil ini dapat mendorong terciptanya ekosistem keuangan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Penulis: Bayu Arie Fianto, Ph.D
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
https://doi.org/10.1016/j.ecosys.2024.101278

Kayani, U., Iqbal, U., Aysan, A. F., Fianto, B. A., Rabbani, M. R., & Hasan, F. (2024).Revealing the secrets of working capital: A comparison between sharia-compliant and conventional firms. Economic Systems. https://doi.org/10.1016/j.ecosys.2024.101278