Universitas Airlangga Official Website

TNF-α dan IGF-1 pada Anak Stunting dengan Infeksi Kronis

TNF-α dan IGF-1 pada Anak Stunting dengan Infeksi Kronis
Sumber; Okezone

Stunting merupakan masalah gizi yang sering terjadi pada anak-anak di seluruh dunia, dengan 21.9% populasi anak menderita stunting, dan terbanyak terdapat di negara-negara asia. Indonesia memiliki prevalensi stunting terbesar ketiga di Asia Tenggara, berdasarkan data dari World Health Organisation (WHO). Stunting didefinisikan sebagai z-score tinggi badan terhadap usia kurang dari −2 standar deviasi berdasarkan standar pertumbuhan anak WHO. Anak stunting rentan mengalami infeksi, begitu pula infeksi menjadi penyebab terjadinya stunting. Infeksi bisa menimbulkan gejala maupun yang tidak bergejala. Hal ini mengakibatkan tingginya risiko tertular penyakit yang dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas akibat penyakit menular. Selain itu, malnutrisi meningkatkan risiko infeksi dengan menurunkan fungsi barrier usus, mempengaruhi mikrobiota usus, mengubah regulasi adipositokin inflamasi, dan membatasi asupan mikronutrien penting.

Infeksi sendiri menyebabkan hilangnya nutrient, penurunan penyerapan, dan peningkatan kebutuhan energi, yang menyebabkan kekurangan gizi. Infeksi juga menyebabkan peningkatan sitokin pro-inflamasi seperti tumor necrosis factor- α (TNF-α) dan mengganggu laju pertumbuhan linier pada anak, yang melibatkan penurunan hormon faktor pertumbuhan insulin (IGF)-1. Kadar TNF-α yang berlebihan ini dapat menyebabkan anoreksia dan cachexia dengan meningkatkan konsentrasi leptin darah, yang menurunkan nafsu makan dan mengakibatkan penurunan status gizi. Sumbu IGF-1 juga memainkan peran penting dalam mengatur pertumbuhan linier. Fungsi utama IGF-1 adalah menyediakan tindakan peningkatan pertumbuhan hormon pertumbuhan di jaringan perifer. Dengan demikian, pemantauan kadar serum IGF-1 mungkin meningkatkan penilaian status GH dalam pemeriksaan individu dengan perawakan pendek dan berkontribusi dalam memprediksi respon pertumbuhan.

Pemaparan diatas mendorong dilakukannya penelitian dengan tujuan menganalisis kadar IGF-1 dan TNF-α pada anak stunting dan non-stunting dengan infeksi kronis, terutama tuberkulosis (TB) dan infeksi saluran kencing (ISK) yang bersifat observasional analitik dengan desain cross-sectional di Surabaya. Didapatkan kadar TNF-a dan IGF-1 lebih rendah secara signifikan pada anak stunting. Rendahnya TNF-α disebabkan terjadinya perubahan respon imunologis pada anak stunting, karena penurunan sintesis sitokin proinflamasi di sel-sel bone marrow karena malnutrisi kronis. Sebab lain penurunan sitokin pro-inflamasi karena terjadi immunocompromise yang mengakibatkan kerentanan terhadap infeksi. Malnutrisi kronis menyebabkan tubuh menekan imunitas seluler sebagai strategi menghindari “pemborosan energi” pada respon imun. Penyakit infeksi dan malnutrisi merupakan dua siklus mematikan yang tidak berkesudahan, keduanya saling mempengaruhi, dengan infeksi memperburuk terjadinya malnutrisi karena nafsu makan ditekan dan menurunkan asupan makanan, diikuti oleh penurunan asupan nutrien, sedangkan malnutrisi menurukan sistem imun. Sementara penurunan kadar IGF-1 pada anak stunting bisa jadi disebabkan oleh restrisi diet terutama asupan kalori, sehingga menurunkan massa lemak, menyebabkan penurunan konsentrasi insulun sehingga membatasi prodiksi leptin. Kadar leptin yang rendah menstimulasi hypothalamic-pituitary axis dan axis of hypothalamic-pituitary-GH untuk mengimbangi lonjakan kortisol, yang menyebabkan terjadinya lipolysis untuk menyediakan bahan bakar untuk otak dan jaringan perifer, sehingga menyebabkan penurunan sintesis IGF-1.

IGF-1 juga diduga memiliki faktor protektif terhadap stunting sebesar 0,915 kali. Penelitian ini melibatkan 48 anak yang terdiri dari 20 anak laki-laki dan 28 anak perempuan, yang dibagi menjadi 2 kelompok: stunting (16 anak) dan non-stunting (32 anak). Penelitian ini juga menemukan bahwa anak stunting secara signifikan lebih muda daripada anak non-stunting, dengan tinggi badan yang lebih rendah, berat badan lebih ringan, diikuti WAZ dan HAZ. Penelitian juga menemukan hubungan signifikan antara stunting dan IGF-1 (OR: 0.915, 95% CI: 0.841 – 0.996), dan nilai cut-off yang menentukan kejadian stunting pada anak <4.43 ng/ml, dengan sensitivitas 96.88% dan spesifisitas 43.75%.

Penulis: Dr. Nur Aisiyah Widjaja, dr., Sp.A(K)