Universitas Airlangga Official Website

Tatalaksana Massive Hidropionefrosis Pada Anak

Benign prostat hyperplasia (BPH) merupakan pembesaran prostat akibat proliferasi abnormal atau kegagalan apoptosis jaringan epitel atau stroma. Di Indonesia, sekitar 2,5 juta pria berusia 60 tahun ke atas menderita gejala saluran kemih bagian bawah (LUTS) dan menempatkan BPH sebagai penyakit dengan prevalensi tertinggi kedua di klinik urologi Indonesia setelah urolitiasis. Gejalanya meliputi inkontinensia urin, poliuria, dan pancaran urin lemah. LUTS yang berhubungan dengan BPH umumnya terjadi pada pasien diabetes melitus tipe 2 (T2DM). Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, Indonesia menempati peringkat ketujuh terbesar di dunia dengan perkiraan 10 juta pasien dan diprediksi akan tumbuh menjadi 21,257 juta pasien pada tahun 2030. T2DM adalah penyakit metabolik kronis yang disebabkan oleh kegagalan tubuh untuk mempertahankan kadar glukosa normal karena resistensi insulin yang lebih tinggi dari normal (hiperinsulinemia). Pada hiperinsulinemia, kadar IGF-1 dalam serum meningkat, yang dapat berikatan dengan reseptor IGF-1 pada prostat, yang mengakibatkan proliferasi sel prostat menjadi lebih aktif. Hal ini menyebabkan komplikasi mikrovaskular dan makrovaskular dan bermanifestasi sebagai berbagai gangguan sistemik. Saat ini, data yang tersedia tentang korelasi antara BPH dan T2DM sangat terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan 1– Organisasi Kesehatan Dunia. Diabetes: Fakta dan Angka. 2016.
BPH dapat menyebabkan retensi urin dan dapat diperburuk oleh T2DM. Dalam penelitian ini, pasien BPH diabetes dan non-diabetes dibandingkan menggunakan tiga parameter klinis, yaitu volume prostat, IPSS, dan Q max. Penelitian ini menemukan perbedaan yang tidak signifikan dalam volume prostat pada kedua kelompok, yang menunjukkan bahwa T2DM tidak meningkatkan volume prostat. Lebih jauh, temuan ini bertentangan dengan penelitian sebelumnya yang mengungkapkan pasien BPH diabetes memiliki volume prostat yang lebih tinggi daripada pasien BPH non-diabetes (p < 0,05). Nilai IPSS yang tidak penting antara kelompok dalam penelitian ini konsisten dengan A. Otunctemur et al. (2015) yang menemukan bahwa T2DM tidak memperburuk gejala LUTS pada pasien BPH. Selain itu, Q max, indikator untuk mendiagnosis pembesaran prostat, tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan pada kedua kelompok. Ini menunjukkan bahwa T2DM tidak mempengaruhi Q max pada pasien BPH. Penelitian ini mengamati bahwa T2DM tidak memiliki efek signifikan pada volume prostat, IPSS, dan Q max pada pasien BPH. Namun, korelasi antara T2DM dan BPH masih belum jelas. Selain itu, variabel lain yang tidak disertakan, seperti BMI, kadar estrogen, dan glukosa serum juga dapat memengaruhi hasil penelitian ini.
Tidak ditemukan perbedaan signifikan pada volume prostat, IPSS (skala LUTS), dan uroflowmetri antara pasien BPH dengan dan tanpa T2DM. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menganalisis korelasi antara diabetes dengan BPH dan LUTS.

Penulis

Informasi detail dari tulisan ini dapat dilihat di:
Prostate volume, LUTS scale, and uroflowmetry of benign prostate hyperplasia patients with type 2 diabetes mellitus
A. N. Hakim, S. Soetojo, P. Lestari
Urology Herald, Vol 12, No 5 (2024)
DOI: 10.21886/2308-6424-2024-12-5-8-11