Universitas Airlangga Official Website

Olah Air Limbah dengan Bonggol Jagung, Tim UNAIR Juarai Lomba Karya Tulis Ilmiah

Tim UNAIR meraih Juara 1 dalam Karya Tulis Ilmiah (KTI) Science Project and Innovation Engineering Physics Week (EPW) yang diselenggarakan oleh Departemen Fisika, Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) pada (8-9/1/2025) (Foto: Dok. Narasumber)
Tim UNAIR meraih Juara 1 dalam Karya Tulis Ilmiah (KTI) Science Project and Innovation Engineering Physics Week (EPW) yang diselenggarakan oleh Departemen Fisika, Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) pada (8-9/1/2025) (Foto: Dok. Narasumber)

UNAIR NEWS – Tim Universitas Airlangga (UNAIR) berhasil meraih Juara 1 dalam Karya Tulis Ilmiah (KTI) Science Project and Innovation Engineering Physics Week (EPW). Perlombaan terselenggara oleh Departemen Fisika, Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) pada (8-9/1/2025). Tim ini beranggotakan Muhammad Kevin Mulki Hakim, Lia Farihatus Sa’diyah, dan Ainun dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST). Mereka mengusung penelitian berjudul Pengolahan Air Limbah Industri Tekstil Sendang Duwur Lamongan dengan Metode Koagulasi-Flokulasi dan Zea mays sebagai Adsorben Berbasis IoT guna Mewujudkan Zero Waste.

“Penelitian ini berawal dari kepedulian kami terhadap pencemaran air. Akibat limbah industri tekstil di daerah Sendang Duwur, Lamongan,” ungkap Ainun mewakili tim. Sendang Duwur terkenal sebagai sentra industri batik dengan produksi mencapai 500 lembar kain batik per bulan.

Tingginya intensitas home industry di daerah tersebut berbanding lurus dengan pengeluaran limbah cair hasil dari proses penelitian batik tekstil juga turut meningkat. Proses pewarnaan batik juga masih menggunakan pewarna sintetis berbasis remasol yang berbau menyengat dan menghasilkan busa. Selain itu, pembuangan limbah masih dilakukan secara tradisional melalui galian tanah atau dialirkan langsung ke sungai. 

Tim memilih metode koagulasi-flokulasi dalam pengolahan limbah tekstil karena efektivitasnya dalam mengendapkan partikel kotor dalam air. Penelitian ini juga memanfaatkan bonggol jagung (Zea mays) sebagai adsorben karena kandungan hemiselulosa dan selulosa yang tinggi. Sehingga mampu mengurangi sifat karsinogenik dalam limbah.

“Berdasarkan data dari Food and Agriculture Organization (FAO) dalam rentang tahun 2018- 2019, peningkatan produksi jagung mengalami peningkatan sebanyak 30 juta ton per tahun. Namun, masih minim sekali kita temukan penggunaan atau pemanfaatan bonggol jagung. Padahal dalam kandungan bonggol jagung terdapat hemiselulosa dan selulosa yang cukup tinggi. Sehingga hal itu dapat menjadi media adsorben yang dapat membantu mengurangi sifat karsinogenik dalam limbah,” terang Ainun. 

Proses pembuatan karbon aktif dari bonggol jagung dilakukan melalui beberapa tahapan. Yaitu pengeringan selama tiga hari, pemanasan dalam furnace bersuhu 200°C selama tiga jam, perendaman dengan larutan HCl, pencucian hingga pH netral, dan pengeringan kembali dengan oven pada suhu 200°C selama dua jam.

“Kami memastikan setiap tahap dilakukan dengan cermat agar hasilnya optimal dan memenuhi standar SNI,” katanya. Hasil pengujian menunjukkan bahwa karbon aktif dari bonggol jagung memiliki daya serap yang baik.

Selain itu, penelitian ini mengintegrasikan teknologi berbasis IoT untuk memantau kualitas air limbah yang telah diolah. Pengujian kualitas air menggunakan Hanna Instrument HI 727 menunjukkan bahwa tingkat kekeruhan air berhasil berkurang secara signifikan dari 7000 pCu menjadi 45-46 pCu. Uji kandungan busa juga menunjukkan hasil positif, dengan ketinggian busa yang menurun drastis setelah proses filtrasi. “Kami menggunakan sensor pH, TDS, suhu, serta microcontroller ESP32 untuk memastikan data yang diperoleh akurat dan dapat diakses secara real time,” imbuhnya. 

Selama penelitian, tim menghadapi berbagai tantangan. Seperti sulitnya mendapatkan sampel limbah karena lokasi yang cukup jauh dan keterbatasan waktu karena harus membagi antara penelitian dan jadwal perkuliahan.  Selain itu, pengujian laboratorium juga menjadi kendala karena keterbatasan durasi antara pengumuman dan pelaksanaan penelitian. Tantangan terbesarnya adalah keterbatasan anggaran, sehingga tim tidak dapat merealisasikan prototipe alat dalam bentuk fisik dan harus mengandalkan desain 3D.

“Kami sangat bersyukur atas pencapaian ini. Awalnya, kami sempat pesimis karena tidak bisa membawa prototipe alat dalam bentuk nyata. Sementara tim lain mayoritas sudah memilikinya. Namun, kami tetap yakin dan mengoptimalkan presentasi serta desain 3D untuk meyakinkan juri. Hasilnya, kerja keras kami membuahkan hasil yang luar biasa,” pungkas Ainun bangga.

Penulis: Anggun Latifatunisa

Editor: Yulia Rohmawati