Universitas Airlangga Official Website

Perancangan dan Pengembangan Moodle Interaktif Menggunakan Design Thinking untuk Mendukung Pembelajaran Daring

Sumber: Zartek Technologies
Sumber: Zartek Technologies

Moodle adalah sistem manajemen pembelajaran (LMS) atau platform e-learning bersifat open-source yang dirancang untuk membantu pendidik membuat kursus daring dengan berbagai fitur untuk memfasilitasi pembelajaran. Minat terhadap bidang penelitian ini telah meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir, yang menyebabkan semakin banyak sekolah yang menggunakan LMS ini. Pada tahap awal proses pengembangan, sekolah perlu mendapatkan wawasan tentang kebutuhan pengguna dan menghasilkan ide-ide baru untuk merancang dan mengembangkan LMS interaktif. Pengembangan dan pengelolaan LMS sering kali terhambat oleh beberapa masalah utama yang dapat membuatnya mahal dan sulit untuk diimplementasikan. Pengembangan teknologi pendidikan modern, terutama platform e-learning dan aplikasi pembelajaran, membutuhkan investasi besar dalam perangkat keras, perangkat lunak, dan sumber daya manusia yang berkualitas. Selain itu, untuk memastikan pengalaman belajar yang kaya dan bermakna, diperlukan konten berkualitas tinggi. Membuat atau memperoleh konten seperti video interaktif, simulasi, dan materi bacaan membutuhkan dana yang tidak sedikit. Hal ini menjadi tantangan terutama bagi lembaga pendidikan dengan anggaran terbatas.

Selain itu, beberapa masalah dapat terjadi selama integrasi LMS ke dalam pembelajaran daring, diantaranya: 1) pengembangan perangkat lunak yang andal dan intuitif membutuhkan sumber daya pengembangan yang mahal, seperti kebutuhan programmer dan desainer UI/UX; 2) pengembangan LMS yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan individu memerlukan pemrograman khusus yang kompleks dan lembaga pendidikan sering kali memiliki kebutuhan yang berbeda sehingga mereka membutuhkan platform pembelajaran khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka; 3) LMS harus dirancang untuk berkembang seiring dengan meningkatnya jumlah pengguna dan kebutuhan fungsional; 4) guru dan staf pendidikan perlu dilatih untuk menggunakan LMS secara efektif. Pelatihan ini memerlukan banyak upaya dari segi waktu dan sumber daya; 5) LMS yang efektif memerlukan infrastruktur teknologi yang tangguh, meliputi server, jaringan, dan penyimpanan data yang memadai, serta tidak semua daerah atau lembaga pendidikan memiliki akses internet yang cepat dan stabil atau perangkat keras yang memadai; 6) lebih jauh lagi, implementasi LMS dapat menyebabkan perubahan budaya dan proses dalam lembaga pendidikan dan juga dapat menjadi penghalang untuk mengadopsi sistem metode pembelajaran baru. Hal ini dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan resistensi dari pihak-pihak yang terlibat.

Dalam hal ini, kami mempertimbangkan Design Thinking (DT) sebagai pendekatan yang penting untuk mendukung dalam proses pengembangan LMS berbasis Moodle. DT mencakup pemahaman bagaimana individu mendekati dan bernalar melalui tantangan desain. Ini sering disebut sebagai “designedly ways of knowing, thinking, and acting”. Metode ini membantu dalam mewujudkan proses kognitif dan metodologi unik yang digunakan oleh para desainer sistem. Hasil dari proses desain adalah dokumentasi, semacam representasi yang dapat dikomunikasikan dari solusi desain. Pengumpulan data untuk desain sistem dalam studi ini mengikuti pendekatan terstruktur untuk mengembangkan LMS berbasis Moodle yang mendukung pembelajaran jarak jauh, memanfaatkan proses DT yang mencakup lima langkah yaitu, berempati, mendefinisikan, mengideasikan, membuat prototipe, dan menguji sistem. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengembangkan sistem pembelajaran daring berbasis Moodle untuk memfasilitasi pembelajaran daring bagi sekolah dasar. Tujuannya adalah untuk (1) merancang diagram sistem, arsitektur sistem, dan struktur fungsional untuk memfasilitasi pengembangan platform pembelajaran daring dan (2) mengembangkan LMS interaktif menggunakan Moodle. Metodologi penelitian dilakukan dengan mengikuti proses Design Thinking dan evaluasi dilakukan untuk menilai kegunaan sistem menggunakan framework Computer System Usability Questionnaire (CSUQ). Di berbagai dimensi seperti kualitas sistem, kualitas informasi, dan kualitas antarmuka, skor sistem berkisar antara 5 dan 7, dimana menyatakan persepsi positif dari pengguna terhadap berbagai aspek evaluasi. Hasil dari penelitian ini merekomendasikan panduan praktis bagi pemangku kepentingan pendidikan dalam mengadopsi dan mempromosikan LMS berbasis Moodle.

Penulis: Ika Qutsiati Utami, S.Kom., M.Sc.

Link: https://journal.uny.ac.id/index.php/elinvo/article/view/75255