Universitas Airlangga Official Website

Transformasi Manajemen Arsip di Indonesia melalui SRIKANDI

Ilustrasi aplikais SRIKANDI (Foto: Kaltim Kita)
Ilustrasi aplikais SRIKANDI (Foto: Kaltim Kita)

Indonesia tengah menapaki jalan menuju transformasi digital dalam pengelolaan arsip melalui implementasi aplikasi SRIKANDI (Sistem Informasi Kearsipan Dinamis Terintegrasi). Langkah ini tidak hanya mencerminkan ambisi Indonesia untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan berbasis elektronik tetapi juga menggambarkan visi pemerintah dalam menciptakan sistem pengarsipan yang efisien dan ramah lingkungan. Dalam tulisan ini, kita akan mengeksplorasi hasil studi tentang SRIKANDI, yang tidak hanya menjadi alat digital, tetapi juga bagian integral dari visi Indonesia untuk masa depan yang cerdas dan berkelanjutan.

Studi ini ditulis oleh Suprayitno, Rahmi, dan Zulfatun Sofiyani. Masing-masing berasal dari Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Universitas Indonesia, dan Universitas Airlangga. Mereka menggunakan model analisis dokumentasi komplementer yang dikembangkan oleh Lund untuk mengkaji SRIKANDI dari berbagai perspektif: fisik, mental, dan sosial. Pendekatan ini memungkinkan para peneliti untuk melihat SRIKANDI tidak hanya sebagai sebuah teknologi, tetapi juga sebagai fenomena sosial dan budaya dalam tata kelola pemerintahan Indonesia.

Hasil analisis diakronik menunjukkan bagaimana SRIKANDI berkembang dari sistem manual berbasis kertas menuju platform digital yang mendukung alur kerja tanpa kertas. Meski menghadapi tantangan koordinasi antar lembaga, aplikasi ini berhasil menghemat anggaran negara hingga triliunan rupiah melalui efisiensi dalam pembuatan, penyimpanan, dan penghapusan arsip. Selain itu, SRIKANDI telah menyelamatkan ribuan pohon, menjadikannya langkah signifikan menuju tata kelola yang ramah lingkungan.

Namun, analisis sinkronik mengungkap berbagai tantangan yang masih SRIKANDI hadapi saat ini. Dari total 3,6 juta pengguna yang terdaftar, hanya sekitar 27% yang aktif. Rendahnya tingkat adopsi ini akibat resistensi budaya di beberapa institusi dan terbatasnya infrastruktur. Meski begitu, langkah-langkah seperti pelatihan dan peningkatan komunikasi antar pengguna telah mulai menunjukkan hasil yang positif.

Perbandingan dengan sistem serupa di negara lain memberikan wawasan penting bagi Indonesia. Studi ini menemukan bahwa keberhasilan implementasi sistem digital sangat bergantung pada pendekatan yang memadukan inovasi teknologi dengan strategi pemberdayaan pengguna. Negara seperti Estonia, yang menjadi pelopor dalam tata kelola digital, menunjukkan pentingnya pelatihan awal yang menyeluruh dan kebijakan perlindungan data yang kuat.

Melalui analisis eksperimental, para peneliti mengusulkan sejumlah langkah untuk mencapai keberhasilan SRIKANDI di masa depan. Salah satunya adalah evolusi aplikasi ini menjadi super-app yang tidak hanya mendukung pengarsipan tetapi juga integrasi layanan pemerintahan lainnya. Transformasi ini akan memerlukan investasi besar dalam teknologi dan budaya organisasi.

Kedepannya, SRIKANDI tidak hanya menjadi alat pengarsipan digital yang menyatukan seluruh layanan pemerintah dalam satu platform, tetapi juga simbol ambisi Indonesia menuju tata kelola yang cerdas dan berkelanjutan. Meski menghadapi berbagai tantangan, komitmen pemerintah untuk memperbaiki dan mengembangkan aplikasi ini memberikan harapan bahwa SRIKANDI dapat menjadi model bagi transformasi digital di sektor publik lainnya. Dengan terus mendorong inovasi dan kolaborasi, SRIKANDI berpotensi menjadi pilar penting dalam perjalanan Indonesia menuju masa depan digital.

Penulis: Zulfatun Sofiyani, S.IIP., M.Hum.

Link: https://ideaexchange.uakron.edu/docam/vol11/iss2/8/