Stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan di dunia. Salah satu subtipe stroke yang paling mematikan adalah perdarahan intrakranial (ICH), yang memiliki tingkat kematian lebih tinggi dibandingkan stroke iskemik. Perdarahan yang terjadi dalam jaringan otak akibat pecahnya arteri kecil dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk penurunan kesadaran dan gangguan neurologis permanen. Oleh karena itu, diperlukan metode yang efektif dalam memprediksi risiko kematian pada pasien ICH guna meningkatkan manajemen klinis dan peluang keselamatan pasien.
Beberapa faktor yang diketahui mempengaruhi tingkat kematian pasien ICH antara lain skala koma Glasgow (GCS), volume perdarahan, jumlah leukosit, dan rasio neutrofil-limfosit (NLR). NLR telah diidentifikasi sebagai biomarker inflamasi yang berhubungan dengan tingkat keparahan dan prognosis pasien dengan ICH. Rasio ini mencerminkan keseimbangan antara respons imun inflamasi dan sistem kekebalan tubuh, yang berperan penting dalam patogenesis ICH.
Studi sebelumnya menunjukkan bahwa NLR yang tinggi berkorelasi dengan peningkatan risiko kematian dan disfungsi neurologis pada pasien dengan perdarahan intrakranial. Namun, penelitian mengenai seberapa besar pengaruh NLR terhadap tingkat kematian pasien ICH di Indonesia masih terbatas. Untuk memberikan kontribusi dalam bidang ini, sebuah studi retrospektif dilakukan oleh Thohari dkk., (2024) dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Penelitian yang telah diterbitkan dalam jurnal Surgical Neurology Internasional (Scientific Scholar) ini bertujuan untuk mengevaluasi peran prediktif dari GCS, volume ICH, jumlah leukosit, dan NLR terhadap tingkat kematian pasien ICH.
Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis rekam medis dari 115 pasien yang dirawat akibat ICH di unit bedah saraf antara tahun 2021 hingga 2024. Data yang dikumpulkan mencakup nilai GCS awal, volume perdarahan, jumlah leukosit, serta NLR. Analisis statistik dilakukan menggunakan uji univariat, bivariat dengan korelasi Spearman, serta analisis multivariat dengan regresi logistik untuk mengidentifikasi faktor prediktor utama kematian pasien.
Hasil analisis menunjukkan bahwa GCS memiliki hubungan negatif yang signifikan dengan mortalitas pasien ICH. Semakin rendah nilai GCS pasien, semakin tinggi risiko kematian yang mereka hadapi. Di sisi lain, NLR memiliki hubungan positif yang signifikan dengan mortalitas, yang berarti semakin tinggi nilai NLR pasien, semakin besar kemungkinan mereka mengalami kematian. Selain itu, volume perdarahan juga terbukti menjadi faktor yang berpengaruh terhadap kematian pasien, di mana volume perdarahan yang lebih besar berkorelasi dengan peningkatan risiko kematian. Jumlah leukosit yang lebih tinggi juga memiliki hubungan yang signifikan dengan peningkatan mortalitas. Lebih lanjut, analisis multivariat menunjukkan bahwa semua faktor ini memiliki dampak yang signifikan terhadap kemungkinan kematian pasien dengan ICH.
Pada akhirnya, penelitian ini mengungkapkan bahwa GCS, volume perdarahan, jumlah leukosit, dan NLR merupakan faktor prediktor utama dalam menentukan risiko kematian pasien dengan ICH. Saat ini, belum ada terapi neuroprotektif yang terbukti efektif dalam mengurangi komplikasi atau meningkatkan kondisi pasien ICH secara signifikan. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengembangkan strategi terapeutik yang lebih efektif dalam menangani ICH dan meningkatkan tingkat kelangsungan hidup pasien.
Penulis: Dr. Asra Al Fauzi, dr., Sp.BS





