Saliva atau air liur bukan sekedar cairan dalam mulut, tetapi juga menyimpan berbagai informasi penting tentang kondisi kesehatan seseorang. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa saliva dapat digunakan sebagai alat deteksi dini untuk Oral Submucous Fibrosis (OSMF), suatu kondisi yang berpotensi berkembang menjadi kanker mulut. Oral Submucous Fibrosis (OSMF) adalah penyakit kronis yang menyebabkan peradangan dan pengerasan jaringan di dalam rongga mulut. Penyebab utama dari OSMF sering dikaitkan dengan konsumsi areca nut (buah pinang), yang banyak dikonsumsi di beberapa negara Asia. Penyakit OSMF ini sangat penting untuk dilakukan diagnosis dini untuk mencegah perkembangan penyakit ini ke tahap yang lebih serius.
Pada studi tinjauan literatur sistematis yang dilakukan oleh Departemen Ilmu Penyakit Mulut, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Airlangga pada Tahun 2024 didapatkan dari beberapa penelitian terbaru mengungkap bahwa komposisi saliva mengalami perubahan pada pasien dengan OSMF. Beberapa biomarker dalam saliva yang mengalami peningkatan antara lain:
Laktat dehidrogenase (LDH), Immunoglobulin G (IgG) & A (IgA) → Indikator adanya peradangan.
Protein S1007A dan miRNA-21 → Berperan dalam perkembangan jaringan abnormal.
8-Hydroxydeoxyguanosine (8-OHdG) dan Malondialdehyde (MDA) → Menunjukkan adanya stres oksidatif.
C-reactive protein (CRP) dan Fibrinogen-Producing Factor (FPF) → Penanda inflamasi yang meningkat.
Kadar kolesterol, trigliserida, dan tembaga dalam saliva yang lebih tinggi pada pasien OSMF.
Sebaliknya, beberapa elemen penting justru mengalami penurunan, seperti vitamin C, vitamin E, zat besi, zinc, dan magnesium, yang semuanya berperan dalam menjaga kesehatan jaringan mulut.
Pendekatan diagnosis melalui saliva memiliki beberapa keunggulan dibandingkan metode konvensional seperti biopsi, di antaranya: Non-invasif – Tidak memerlukan prosedur pembedahan yang menyakitkan; Mudah dan murah – Dapat dilakukan dengan prosedur sederhana tanpa alat mahal; Cepat dan akurat – Analisis saliva memungkinkan deteksi dini sehingga pengobatan dapat dilakukan lebih cepat.
Hasil dari studi ini diharapkan penggunaan saliva sebagai alat diagnostik untuk OSMF merupakan inovasi yang menjanjikan dalam dunia medis. Dengan metode yang lebih nyaman dan efektif, deteksi dini penyakit ini dapat dilakukan sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih serius. Studi lebih lanjut masih diperlukan untuk memperkuat temuan ini dan memperluas penggunaannya dalam praktik klinis.
Penulis: Fatma Yasmin Mahdani, Ajiravudh Subarnbhesaj, Nurina Febriyanti Ayuningtyas, Meircurius Dwi Condro Surboyo, Reiska Kumala Bakti, Desiana Radithia, Dimas Bayu Paramananda, Ina Indriyani, Fatimah Fauzi Basalamah
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami dengan judul “Salivary Profile in Oral Submucous Fibrosis: A Scoping Review” pada European Journal of Dentistry, 2024 melalui link berikut: https://www.thieme-connect.com/products/ejournals/html/10.1055/s-0044-1788711





