Penelitian aktivitas fisik pada remaja masih terbatas di lingkungan pendidikan hingga saat ini. Remaja merupakan tahap perkembangan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena remaja mengalami berbagai perubahan secara fisik dan psikologis. Juga, remaja merupakan tahap peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa, dengan tantangan berbagai perilaku kesehatan yang berhubungan dengan kesehatan, seperti pola makan yang tidak sehat, merokok, dan kurangnya aktivitas fisik, pelecehan dan praktik seksual, penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol, masalah kesehatan mental, dan masih banyak lagi, yang berdampak pada kesehatan remaja di masa depan. Remaja juga diprediksi hidup dalam permasalahan kesehatan berupa penyakit tidak menular (PTM), yang disebabkan oleh pola makan yang salah dan kurang aktif secara fisik.
Aktivitas fisik telah menjadi masalah kesehatan saat ini karena lebih dari 80% remaja mengalami kurangnya aktivitas fisik disertai dengan waktu menonton yang lebih lama atau hidup menetap. Xu dkk. (2020) menggunakan World Health Organization-Global School Student Health Survey (WHO-GSHS) menggambarkan physical behaviour sebagai empat komponen yaitu aktivitas fisik, transportasi aktif, pendidikan jasmani, dan gaya hidup sedenter; dan hanya 6,6% remaja yang memenuhi physical behaviour tersebut secara global. Disebutkan aktivitas fisik dan perilaku sedenter adalah dua komponen physical behaviour penting yang berkorelasi dengan dampak kesehatan di kemudian hari, dan hanya 14,9% remaja yang memenuhi pedoman aktivitas fisik yang cukup, 16,5% menghadiri kelas pendidikan jasmani yang memadai, dan screen time selama lebih dari 2 jam/hari, meningkat secara global. Sebuah penelitian yang dilakukan pada remaja sekolah menengah menunjukkan prevalensi waktu menatap layar yang tidak direkomendasikan adalah 79,5%, dan lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan (84,3% vs. 76,1%, p=0,000), dan prevalensi ini lebih tinggi pada kelas ekonomi tertinggi. Aktivitas fisik berhubungan dengan peningkatan prevalensi obesitas secara global dan kejadian kardiometabolik, tetapi bukti ilmiah terbatas.
Meningkatnya prevalensi obesitas menyebabkan peningkatan beban PTM kronis, dan tetap menjadi tantangan bagi kesehatan masyarakat, karena PTM merupakan salah satu penyebab kematian dini. Obesitas pada masa remaja dapat digunakan sebagai prediktor terbaik untuk obesitas pada orang dewasa, karena periode ini merupakan salah satu dari tiga periode kritis yang diklasifikasikan oleh Dietz dan Gortmaker (2001): periode prenatal, peningkatan adipositas, dan periode remaja. Obesitas disebabkan oleh ketidakseimbangan energi dimana peningkatan asupan kalori tidak dibarengi dengan peningkatan pengeluaran kalori, akibat aktivitas fisik yang kurang dan screen time yang lebih lama.
Penelitian dengan desain cross-sectional dilakukan dari Bulan September sampai Oktober 2019 yang melibatkan remaja obesitas untuk menganalisis pengaruh physical behaviour terhadap pengukuran anthropometri dan parameter metabolik, termasuk MetS. Sebanyak 109 subjek direkrut dalam penelitian ini, terdiri dari remaja laki-laki (50,46%) dan perempuan (49,54%). Rata-rata usia subjek adalah 15,13 + 1,46 tahun. Remaja dengan aktivitas fisik, transportasi fisik, kelas fisik dan screen time yang direkomendasikan cukup masing-masing sebesar 93,58%, 23,85%, 14,68% dan 36,70%. Subjek yang overweight sebanyak 63 (57,80%) dan obesitas sebanyak 46 (42,20%). Kejadian overweight/obesitas lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan (65,22% vs 34,78%, p=0,012). Prevalensi MetS sebesar 53,21%, namun tidak ada perbedaan distribusi MetS yang signifikan antara laki-laki dan perempuan (p=0,506). Subjek dengan perilaku transportasi fisik memiliki risiko lebih rendah mengalami obesitas abdominal sebesar 0,266 kali dibandingkan subjek dengan perilaku imobilisasi fisik. Dengan demikian skor perilaku fisik tidak berkorelasi dengan parameter antropometri yang menunjukkan kelebihan berat badan/obesitas dan faktor metabolik, namun komponen perilaku fisik khususnya gaya hidup sedentary berkorelasi dengan parameter antropometri dan tekanan darah sistolik. Transportasi fisik melindungi remaja hingga saat ini mengalami obesitas perut.
Nur Aisiyah Widjaja





