Pada tahun 2021 Angka Partisipasi Angkatan Kerja (PAK) perempuan di Provinsi Jawa Timur sebesar 70,0%, dan di Kabupaten Lumajang mencapai 66,19%. Tingginya angka tersebut seringkali tidak diimbangi dengan penerapan Kesehatan dan Keselamatan Kerja serta perbaikan lingkungan kerja. Kondisi tersebut menyebabkan pekerja mudah mengalami kelelahan, dan perempuan cenderung lebih mudah mengalami kelelahan daripada laki-laki. Secara umum, perempuan biasanya memiliki massa lemak lebih tinggi daripada laki-laki. Lemak tubuh yang tinggi dapat menyebabkan penurunan kontraksi otot yang kemudian menyebabkan kelelahan.
Kelelahan merupakan perasaan lelah yang dirasakan oleh seseorang akibat akumulasi berbagai faktor penyebab. Secara umum, gejala kelelahan meliputi rasa nyeri pada organ, rasa lelah, pusing, mual, pikiran kacau, dan lain-lain. Kelelahan dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu kelelahan kerja fisik dan kelelahan kerja umum. Kelelahan kerja fisik berkaitan dengan kelelahan otot yang disebabkan oleh kontraksi otot yang terjadi secara berlebihan dan berlangsung lama. Kelelahan kerja umum berkaitan dengan faktor psikologis. Faktor psikologis yang dirasakan pekerja dapat mempengaruhi aktivitas sistem penghambatan dan mobilisasi di korteks serebral yang berkorelasi dengan perasaan timbulnya kelelahan.
Kelelahan dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Faktor internal berkaitan dengan faktor yang berasal dari dalam diri individu, misalnya status kesehatan, status gizi, usia, beban kerja, stres kerja, dan durasi tidur. Faktor eksternal berkaitan dengan faktor yang berasal dari luar individu, misalnya iklim kerja, lingkungan kerja. Pekerja perempuan di pabrik kayu di Indonesia tidak banyak. Umumnya pekerja pabrik kayu adalah laki-laki, karena pekerjaan seperti ini membutuhkan tenaga dan kekuatan yang lebih tinggi. Karena bekerja di pabrik kayu membutuhkan kemampuan fisik, maka kelelahan dan stres fisik juga lebih tinggi. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi kelelahan dan stres fisik pada pekerja perempuan, salah satunya dengan meningkatkan kualitas pola makan dan menjaga komposisi tubuh agar sesuai dengan indeks massa tubuh ideal.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kriteria kecukupan masing-masing komponen mutu diet tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap tingkat kelelahan kerja, sedangkan pada kriteria moderasi terdapat dua komponen mutu diet yang memiliki korelasi signifikan terhadap kelelahan kerja, yaitu total asupan natrium dan total asupan lemak jenuh. Koefisien korelasi antara asupan natrium dengan kelelahan kerja bernilai negatif, yang berarti semakin rendah asupan natrium responden, semakin tinggi persepsi kelelahan kerja. Batas harian yang dianjurkan untuk asupan natrium adalah 1,1 gram-2 gram. Natrium merupakan zat gizi mikro yang berfungsi untuk mengatur keseimbangan cairan dalam tubuh. Jika asupan natrium dan air rendah sementara pengeluaran natrium (melalui keringat dan urine) tinggi, dapat menyebabkan dehidrasi dengan defisiensi natrium. Kekurangan air dan natrium dalam plasma darah akan digantikan oleh air dan natrium dari cairan interstisial (cairan yang terletak di antara sel). Jika kehilangan air dan natrium terus terjadi, maka air dan natrium dari sel akan terus dikeluarkan, dan jika volume plasma darah tidak dapat dipertahankan, akan terjadi kegagalan sirkulasi. Kondisi ini juga menyebabkan seseorang mudah mengalami kelelahan. Sementara itu, bila konsumsi natrium terlalu tinggi, otak akan merangsang kelenjar adrenal untuk mensekresi Endogenous Digital Like Factors (EDLF). EDLF memicu retensi natrium dengan cara meningkatkan ekspresi pompa natrium di ginjal. Retensi pompa natrium akan menghambat regulasi Na+/K+-ATPase di sel otot pembuluh darah arteriol dan arteriol, hal ini menyebabkan konsentrasi natrium meningkat sedangkan konsentrasi kalium menurun. Penurunan konsentrasi kalium menyebabkan penurunan fungsi otot, sehingga otot akan lebih mudah.
Lemak merupakan zat gizi makro yang berperan dalam pemenuhan energi tubuh. Lemak dalam makanan terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu lemak tak jenuh dan lemak jenuh. Perbedaan antara lemak tak jenuh dan lemak jenuh terletak pada ikatan rangkap pada rantai karbonnya, sedangkan lemak jenuh hanya terjadi pada lemak jenuh. Perbedaan ikatan rangkap ini menyebabkan perbedaan sifat fisik dan kimianya. Lemak tak jenuh sendiri sering dikaitkan dengan peningkatan kadar HDL (High Density Lipoprotein), sedangkan lemak jenuh sering dikaitkan dengan peningkatan kadar LDL (Low Density Lipoprotein). Meskipun lemak jenuh sering dikaitkan dengan risiko penyakit degeneratif, beberapa jenis lemak jenuh diyakini dapat menurunkan kadar kolesterol darah. Lemak jenuh rantai sedang memiliki efek menurunkan kadar kolesterol darah, sedangkan lemak jenuh rantai panjang menyebabkan peningkatan kadar kolesterol darah. Produksi kolesterol pada pembuluh darah di otot dapat mengganggu proses kontraksi otot, hal ini menyebabkan orang dengan kadar kolesterol tinggi lebih mudah mengalami kelelahan.
Pada penelitian ini terdapat korelasi yang signifikan antara asupan lemak jenuh dengan tingkat kelelahan kerja dengan koefisien korelasi negatif. Koefisien korelasi negatif berarti semakin tinggi asupan lemak jenuh, semakin rendah tingkat kelelahan kerja. Asupan lemak jenuh responden secara keseluruhan berada di bawah 8% dari total asupan energi dalam satu hari, selain itu jika dibandingkan dengan asupan lemak tak jenuh, konsumsi lemak jenuh jauh lebih rendah. Hasil perbandingan asupan lemak tak jenuh dengan lemak jenuh, yang berarti bahwa asupan lemak jenuh 10% dari total energi dapat mengurangi penumpukan kolesterol di pembuluh darah. Penurunan penumpukan kolesterol di pembuluh darah dapat memperlancar aliran darah untuk mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh. Terpenuhinya konsumsi oksigen yang cukup di otot dapat mengurangi penumpukan asam laktat, sehingga kontraksi otot dapat terjadi secara optimal dan kelelahan kerja dapat berkurang. Namun konsumsi lemak jenuh mencerminkan jumlah konsumsi lemak secara keseluruhan yang berperan sebagai sumber energi. Semakin sedikit asupan lemak pada manusia, dapat mencerminkan rendahnya konsumsi energi secara total, yang dapat mengakibatkan kelelahan kerja.
Penulis: Dominikus Raditya Atmaka, S.Gz, M.PH.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Dominikus Raditya Atmaka, Shintia Yunita Arini, Mawadatul Khoiroh (2025). CORRELATION BETWEEN DIET QUALITY AND BODY COMPOSITION WITH WORK FATIGUE IN FEMALE WORKERS. Media Gizi Indonesia, 20(1): 27-37.





