Varisela atau yang lebih dikenal sebagai cacar air merupakan penyakit infeksi primer menular yang disebabkan oleh virus varicella-zoster (VZV). Infeksi primer masuk melalui saluran pernafasan dengan masa inkubasi 10-21 hari, yang kemudian muncul ruam vesikuler atau sering diketahui sebagai plentingan berisi cairan jernih dengan ukuran kecil yang khas pada kulit. Riwayat kontak dengan pasien dengan keluhan serupa sebelumnya dapat ditemukan. Varisela menyerang pada individu yang rentan dan jarang terjadi pada lanjut usia. Pada seseorang dengan lanjut usia disertai imunokompromais sering mengalami komplikasi.
Pasien varisela pada lanjut usia sangat jarang dan hanya beberapa kasus yang ditemukan. Sekitar 5-15% kasus varisela pada dewasa mengalami komplikasi pernafasan pneumonia yang paling sering dan berat. Komplikasi yang berat dapat menyebabkan kematian. Pneumonia ditandai dengan batuk, sesak napas, nafas menjadi cepat, demam tinggi, nyeri dada, perubahan warna kulit menjadi kebiruan atau sianosis, dan batuk berdarah yang terjadi pada 1 hingga 6 hari setelah timbulnya ruam.
Sebuah studi yang dilakukan di sebuah rumah sakit di Iran menemukan bahwa lebih dari satu pertiga pasien pneumonia merupakan pasien lanjut usia dengan jenis kelamin laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan. Pada studi tersebut ditemukan pasien memiliki penyakit dasar yaitu penyakit paru obstruksi kronis dan diabetes. Salah satu agen penyebab pneumonia pada individu lanjut usia yaitu Klebsiella pneumoniae, dan merokok merupakan faktor risiko terjadinya pneumonia.
Sistem imunitas bawaan, humoral dan cell-mediated immunity (CMI) berperan dalam proses eliminasi infeksi varisela. Pada saat terinfeksi varisela, sel T CD4+ melepaskan interferon gamma (IFN-) yang menstimulasi sel T CD8+ dan meningkatkan ekspresi kompleks histokompatibilitas mayor kelas II (MHC-II) pada sel yang terinfeksi, yang memungkinkan sel T CD4+ melisiskan patogen tersebut pada kulit. Imunitas yang dimediasi oleh sel T menurun seiring bertambahnya usia.2,3,7 Komplikasi muncul pada orang lanjut usia seperti pneumonia, encephalitis, dan infeksi sekunder pada kulit.3 Pada kasus ini ditemukan bahwa pasien dengan lanjut usia dan imunokompromais, sehingga munculnya infeksi VZV dikaitkan dengan adanya paparan VZV dan imunitas yang buruk.
Penatalaksanaan pada pasien dengan imunokompromais dengan terapi antivirus intravena akan menghasilkan kadar obat dalam darah lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian oral. Terapi diberikan selama 7-10 hari dan dapat diganti menjadi oral pada 48 jam setelah lesi atau plentingan terakhir muncul atau hingga semua plentingan menjadi kering. Antivirus intravena seperti asiklovir, bersifat nefrotoksik atau memiliki efek toksik dari obat-obatan yang bisa memberikan pengaruh buruk terhadap fungsi ginjal, sehingga memerlukan penyesuaian dosis pada pasien dengan gangguan ginjal.
Penulis : Alfina Multaza Rahmi,dr.
Informasi lengkap dari artikel ini dapat diunduh pada:
https://narraj.org/main/article/view/1150
Varicella challenges: A case of respiratory tract complications in an elderly patient
Rahmi AM, Prakasita KA, Damayanti D.





