Universitas Airlangga Official Website

Pelatihan DIPP Berikan Tips Manfaatkan AI dalam Literasi Digital

Sambutan DIPP UNAIR dalam pelatihan literasi digital Artificial Intelligence (AI) bagi dosen UNAIR(Foto: Tangkapan Layar Zoom)
Sambutan DIPP UNAIR dalam pelatihan literasi digital Artificial Intelligence (AI) bagi dosen UNAIR(Foto: Tangkapan Layar Zoom)

UNAIR NEWS Direktorat Inovasi dan Pengembangan Pendidikan (DIPP) Universitas Airlangga (UNAIR) beri pelatihan literasi digital Artificial Intelligence (AI) bagi dosen UNAIR. Pelatihan ini terselenggara secara daring pada Selasa, (15/4/2025). Narasumber pada pelatihan ini adalah Dr A Gumawang Jati MA selaku dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Dr M Farid Dimjati Lusno dr M Kl dari DIPP UNAIR.

Dalam pemaparannya, Gumawang Jati memberikan pedoman penting dalam memanfaatkan AI dalam literasi digital. Ia menekankan bahwa AI sebaiknya menjadi pemantik ide, bukan sebagai solusi tunggal untuk menyelesaikan seluruh tugas. Lebih lanjut, ia mengingatkan para dosen untuk selalu melakukan pengeditan dan memahami secara mendalam hasil yang didapatkan dari AI.

“Penting untuk mencantumkan catatan kecil yang menginformasikan bahwa ide awal dikembangkan dengan bantuan AI, namun telah melalui proses penyuntingan mandiri,” ujar Gumawang. Ia juga menyarankan agar para dosen tidak ragu untuk berdiskusi dengan kolega atau guru jika merasa kurang yakin dengan hasil AI.

Gumawang juga menyampaikan peran AI dalam dunia pendidikan. “AI hadir bukan untuk menggantikan pemikiran manusia, melainkan untuk mengingatkan kita betapa berharganya kemampuan berpikir itu. Manfaatkan teknologi, namun jangan pernah meninggalkan nalar dan nurani,” tegasnya.

Metode prompting yang terkenal dengan akronim “RTS” ini menekankan pada tiga elemen kunci dalam memberikan instruksi kepada AI. Yaitu role (peran), task (tugas), dan resources (sumber daya). Konsep ini berawal dari peran. Dengan mendefinisikan peran yang dari AI, pengguna dapat mengarahkan fokus dan gaya bahasa yang sesuai. Contohnya, alih-alih memberikan perintah umum, pengguna dapat menetapkan peran AI sebagai pembimbing penulis akademik berpengalaman.

Penyampain Materi Pemanfaatan AI (Foto: Tangkapan Layar Zoom)
Penyampain Materi Pemanfaatan AI (Foto: Tangkapan Layar Zoom)

Elemen kedua, task, yang menekankan pada penyampaian tugas yang jelas dan terukur. Instruksi yang ambigu berpotensi menghasilkan keluaran yang kurang memuaskan. Oleh karena itu, pengguna hendaknya merinci tindakan AI. “Tinjau bagian pendahuluan dan berikan saran untuk meningkatkan kejelasan, koherensi, dan gaya bahasa,” tutur Gumawang.

Terakhir, elemen resources memberikan konteks dan batasan yang AI perlukan dalam menyelesaikan tugasnya. Hal ini bisa berupa format penulisan tertentu. “Ikuti format American Psychological Association (APA) dan berikan umpan balik sesuai standar penulisan, atau sumber informasi spesifik yang relevan dengan tugas yang diberikan,” paparnya.

Pemanfaatan AI dalam proses penulisan semakin meluas. Para pengguna, terutama di kalangan akademisi dan profesional, perlu memegang teguh empat prinsip dasar agar penggunaan AI tetap etis dan bertanggung jawab.

Prinsip pertama adalah transparansi. Pengguna wajib secara terbuka mengakui dan menjelaskan bagaimana AI telah berkontribusi dalam menghasilkan sebuah karya tulis. “Keterbukaan ini penting untuk membangun kepercayaan dan memberikan konteks yang jelas terkait peran teknologi dalam proses kreatif,” tambahnya.

Kedua, refleksi kritis menjadi aspek krusial. “Output dari AI tidak boleh diterima begitu saja,” tegasnya. Pengguna wajib melakukan peninjauan dan evaluasi mendalam terhadap konten yang AI hasilkan sebelum terintegrasi ke dalam tulisan. Proses ini melibatkan verifikasi fakta, pengecekan logika argumentasi, dan penyesuaian gaya bahasa agar sesuai dengan konteks dan tujuan penulisan.

Lebih lanjut, ditekankan pula mengenai pentingnya tanggung jawab akademik. “Meskipun AI dapat menjadi alat bantu yang signifikan, tanggung jawab akhir atas konten yang dipublikasikan atau diserahkan tetap berada di pundak penulis,” imbuhnya. Penulis memiliki kewajiban untuk memastikan keakuratan, orisinalitas, dan integritas dari seluruh informasi yang tersaji dalam karyanya.

Pada akhir, ia menyampaikan bahwa integritas menjadi landasan etika dalam penggunaan AI pada literasi digital. Penggunaan AI dilarang keras untuk melanggar aturan evaluasi, terutama dalam konteks pendidikan. Memanfaatkan AI untuk melakukan kecurangan atau menghasilkan tugas yang seharusnya dikerjakan secara mandiri adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan.

“Keempat prinsip ini harapannya dapat menjadi pedoman bagi para pengguna AI dalam penulisan. Sehingga teknologi ini dapat termanfaatkan secara positif tanpa mengorbankan nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan kualitas karya tulis,” tutur Gumawang.

Penulis: Arifatun Nazilah

Editor: Yulia Rohmawati