Kerang hijau (Perna viridis) banyak ditemukan di seluruh Indonesia, terutama di daerah pesisir, daerah bakau, dan muara. Kerang hijau hidup berkoloni dan melekat erat pada substrat atau benda keras, termasuk batu, kayu, dan bambu, melalui byssus. Kerang hijau merupakan hewan penyaring makanan yang memperoleh makanannya dengan menyaring partikel dari badan air. Kerang hijau sebagian besar mengonsumsi mikroalga, bakteri, dan zat organik terlarut. Hanya partikel makanan yang ukurannya sesuai yang disimpan dan diangkut ke lambung, tempat makanan tersebut dicerna. Cara makan kerang hijau ini memungkinkan masuknya bahan kimia berbahaya, termasuk mikroplastik dan logam berat, ke dalam tubuhnya.
Masyarakat lokal membudidayakan kerang hijau karena kaya akan protein, pertumbuhannya cepat, ketersediaan benih sepanjang tahun, dan kapasitasnya untuk mencapai ukuran yang dapat dipasarkan dengan cepat. Di Indonesia, masyarakat local membudidayakan kerang hijau di berbagai wilayah pesisir, termasuk muara Sungai Cikeas di Jawa Barat. Sungai Cikeas mengalir ke muara Bekasi setelah melewati daerah yang padat penduduk di hulu. Kerang hijau dibudidayakan di tiang bambu tetap oleh sebagian besar masyarakat di dekat muara. Kedalaman air di daerah budidaya kerang ini rata-rata 7–8 meter. Kerang hijau tumbuh vertikal di bambu dari permukaan hingga dasar air.
Tanpa diduga, polusi plastik dari Sungai Cikeas dan saluran air lainnya di dekat muara Sungai Cikeas dapat memengaruhi daerah produksi kerang hijau. Sampah plastik di perairan pesisir dapat terurai menjadi mikroplastik (MP) berukuran 1 µm hingga kurang dari 5 mm, menjadi komponen utama sampah plastik laut. Distribusi vertikal dan kepadatan jenis mikroplastik di kolom air sangat dipengaruhi oleh konsentrasi mikroplastik yang ada di wilayah tertentu, serta lokasi pengambilan sampel. Partikel dengan kepadatan rendah, seperti serat, adalah jenis mikroplastik yang paling umum ditemukan di dekat permukaan air. Sebaliknya, MP dengan kepadatan lebih tinggi, seperti fragmen dan pelet, mendominasi sebagai jenis utama MP yang diidentifikasi di zona badan air.
Jumlah mikroplastik yang besar merupakan potensi bahaya lingkungan, karena kontaminan ini mudah tersedia dan tertelan oleh beberapa hewan laut, termasuk kerang hijau. Senyawa toksik, termasuk bahan kimia organik dan zat logam, mungkin ada dalam mikroplastik yang dikonsumsi. Senyawa ini berpotensi terakumulasi dalam rantai makanan, sehingga mengakibatkan berbagai dampak kesehatan yang merugikan.
Karena terbatasnya informasi mengenai kontaminasi mikroplastik pada kerang hijau yang hidup di perairan dengan kedalaman yang bervariasi, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik mikroplastik serta logam yang menempel pada permukaan mikroplastik, yang ditemukan di air dan jaringan Perna viridis yang hidup di dekat permukaan dan pada kedalaman 6 meter di kolom air. Karakteristik mikroplastik yang diperiksa meliputi jenis, warna, ukuran, jenis polimer, kandungan kimia, dan logam yang ada di permukaan mikroplastik.
Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa MP pada kerang hijau dan air laut, baik di permukaan maupun di kedalaman 6 m, memiliki karakteristik sebagai berikut: berjenis fragmen, berwarna hitam, dan berukuran kurang dari 100 µm. Kelimpahan MP di air laut permukaan (22,7 partikel/liter) lebih tinggi dibandingkan pada kedalaman 6 m (15,5 partikel/liter). Tidak terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik pada kelimpahan MP pada jaringan lunak kerang hijau di permukaan (13,4 partikel/individu) dan pada kedalaman 6 m (13,6 partikel/individu).
Analisis statistik mengkonfirmasi tidak adanya korelasi yang signifikan antara kelimpahan MP dengan panjang dan berat cangkang kerang hijau. Delapan polimer MP terdeteksi di air laut dan jaringan kerang hijau yang diperoleh dari estuaria Bekasi Jawa Barat: polivinil klorida, polikarbonat, polistirena, selulosa asetat, polimetil metakrilat; akrilik, akrilonitril-butadiena-stirena, etena-vinilasetat, dan nilon atau poliamida. Pemeriksaan komponen kimia pada sampel jaringan kerang hijau mengidentifikasi empat kelompok aditif yang terpisah: plasticizer, bahan pembantu pemrosesan, antioksidan, dan penstabil UV. Aluminium, kromium, nikel, tembaga, seng, arsenik, kadmium, timah, merkuri, timbal, oksigen, klorin, silikon, dan kalium termasuk di antara logam dan unsur yang diidentifikasi pada permukaan partikel MP pada kerang hijau.
Penulis: Prof. Dr. Ir. Agoes Soegianto, DEA.
Sumber: Soegianto, A., Suryandari, A., Afidah, P.N., Sari, A., Buwono, N.R., Hartati, R., Payus, C.M., 2025. The characteristics of microplastics and the associated metals on the surfaces of microplastics in green mussels (Perna viridis) collected from different water depths in the Bekasi Estuary, West Java, Indonesia. Environmental Advances 20, 100625. https://doi.org/10.1016/j.envadv.2025.100625.





