Universitas Airlangga Official Website

Eksplorasi Budaya Populer dan Coachella dalam Talkshow Watch U.S American Corner

Dokumentasi Penyampaian Materi Talkshow Watch U.S EP. 1 pada Jum’at (25/4/2025) (Foto: Rosa Maharani)
Dokumentasi Penyampaian Materi Talkshow Watch U.S EP. 1 pada Jum’at (25/4/2025) (Foto: Rosa Maharani)

UNAIR NEWS American Corner (AMCOR) Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar talkshow Watch U.S Episode 1 bertema U.S Popular Culture and Coachella. Kegiatan tersebut berlangsung pada Jumat (25/4/2025) di American Corner UNAIR, Lantai 12 ASEEC Tower Kampus Dharmawangsa-B. Hadir dalam kegiatan, Kezia sebagai founder dan Emma serta Aisya sebagai co-founder dari Storia Cultura. Storia Cultura merupakan sebuah non-governmental organization (NGO) yang dibentuk oleh mahasiswa UNAIR dan bergerak di bidang budaya populer.

Dalam sesi ini, Kezia menjelaskan bahwa budaya populer atau yang dikenal dengan pop culture adalah sesuatu yang viral, berpengaruh terhadap banyak orang, dan mencerminkan tren di setiap zaman. “Pop culture ada di mana-mana, musik, film, dan meme yang ada di medsos,” ungkapnya.

Ia juga menekankan bahwa pop culture bukan fenomena baru yang muncul tiba-tiba dari TikTok atau Instagram. Istilah pop culture sudah terkenal sejak abad ke-18, dan mulai berkembang pada abad ke-19 lewat media seperti majalah, surat kabar, hingga televisi. 

Emma menambahkan, “Yang menarik adalah ketika pop culture juga menjadi bagian dari youth culture, yang bukan hanya sekadar hiburan tapi juga menjadi form of expression generasi muda.” Dalam perkembangannya, musik rock mendominasi pop culture di tahun 70–80. Kemudian pada era 90 pop culture masuk melalui oleh film dan situation comedy (sitcom), dan semakin masif di tahun 2000-an dengan kehadiran internet dan media sosial.

Talkshow ini juga membahas Coachella, salah satu festival musik terbesar di dunia yang menjadi bagian penting dari perkembangan pop culture. “Coachella juga salah satu stepping stone bagi para artis, di mana ketika mereka sudah bisa masuk line-up Coachella, mereka merasa ‘I made it’,” jelasnya.

Aisya juga menambahkan bahwa Coachella kini bukan hanya festival musik, melainkan juga platform besar bagi budaya konten. “Coachella juga menjadi salah satu main stage dari content culture, di mana orang-orang nggak cuma nonton musik tapi juga buat video untuk para content creator, di mana Coachella dijadikan content capital,” jelas Aisya.

Lebih lanjut, Selain musik dan fashion, Coachella juga menjadi sarana kampanye isu sosial dan pembentukan opini publik atas isu terkini. Bahkan, kreativitas dari tema penampilan hingga desain panggung setiap artis juga menjadi inspirasi banyak pihak.

Talkshow tersebut turut menyinggung aspek lingkungan dalam pelaksanaan Coachella. Festival ini mengklaim sebagai sustainable festival melalui program seperti Carpoolchella untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, penyediaan refill air gratis, serta inovasi mengubah energi gerak menjadi listrik. Namun, para pembicara menilai masih banyak ruang untuk meningkatkan upaya keberlanjutan tersebut agar lebih optimal.

Dari sisi ekonomi, Coachella dinilai bukan hanya sebagai fashion powerhouse, tetapi juga economic powerhouse. Festival ini menghasilkan banyak lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi lokal secara signifikan.

Selain itu, Coachella kini semakin membuka ruang bagi artis non-western untuk tampil. Kehadiran BLACKPINK, Laufey, dan NIKI sebagai contoh representasi yang memperkaya keberagaman budaya di Coachella. “Bukan hanya siapa yang tampil, tetapi apa yang mereka bawa ke Coachella,” tutup Aisya.

Penulis: Rosa Maharani

Editor: Yulia Rohmawati