Inseminasi Intrauterin (IUI) adalah salah satu tindakan medis yang digunakan untuk mengatasi infertilitas. Metode ini masih tetap menjadi pilihan karena cukup sederhana, terjangkau, dan sifatnya yang non-invasif dibandingkan dengan prosedur lain seperti fertilisasi in vitro (IVF) atau lebih sering dikenal dengan nama bayi tabung. Prosedur ini juga termasuk tindakan yang relatif aman karena tidak menimbulkan komplikasi yang signifikan.
Beberapa penelitian telah banyak menunjukkan bahwa tingkat kehamilan setelah satu siklus IUI berkisar antara 8,2% hingga 15,1%. Angka ini memang tidak cukup tinggi dibandingkan dengan IVF. Ada beberapa faktor yang mungkin berkontribusi positif terhadap tingkat kehamilan atau keberhasilan tindakan ini. Faktor ini dapat dibagi menjadi kelompok faktor prasiklus, inseminasi, dan pascasiklus. Faktor prognostik pra-siklus termasuk diantaranya adalah faktor yang ditemukan pada pria sebagai penyumbang sperma, seperti usia, motilitas total, dan morfologi normal dengan menggunakan kriteria ketat. Faktor prognostik pra-siklus dari wanita adalah usia wanita, ketebalan endometrium, jumlah folikel matang setelah stimulasi, durasi infertilitas, dan protokol stimulasi yang digunakan untuk IUI. Lalu faktor selama inseminasi bisa seperti obstruksi selama pemasangan kateter, kram perut, perdarahan kateter, dan perdarahan selama inseminasi dapat memengaruhi tingkat kehamilan.
Faktor-faktor ini dapat diperhitungkan sehingga dapat dijadikan bahan prediktor untuk melihat kemungkinan keberhasilan prosedur ini. Beberapa penelitian telah mengevaluasi faktor prognostik untuk keberhasilan tindakan ini. Namun, belum ada yang menganalisis faktor-faktor untuk tingkat kehamilan pasca-IUI pada populasi Indonesia. Hasil beberapa penelitian yang dilakukan tanpa adanya pasangan dengan infertilitas menunjukkan model penilaian untuk
faktor prognostik tingkat kehamilan pasca-IUI. Hal ini menjadi pendorong utama, bahwa perlu dilakukan penelitian pada populasi Indonesia untuk mendapatkan faktor prognostik yang tepat dan kontribusi tiap faktor pada keberhasilan. Sehingga studi sejenis perlu dilakukan untuk memberikan gambaran di tingkat populasi Indonesia
Dengan pendekatan retrospekstif, studi ini mengumpulkan total 443 siklus IUI di dua centre infertilitas di kota Jakarta. Semuanya dievaluasi dan tingkat kehamilan 13,5% dilaporkan. Hasil analisis studi ini melaporkan bahwa tingkat kehamilan dipengaruhi oleh indeks massa tubuh (IMT) pria (<27,5 kg/m2), usia wanita (<30,5 tahun), jumlah sperma progresif total setelah persiapan sperma (>15,81 juta), inseminasi pertama, kadar hormon anti-mullerian (AMH) (>3,015 ng/mL), dan ketebalan endometrium (>9,36 mm). Lalu semua faktor yang terlibat ini dianalisis kembali untuk mengembangkan skor terentu. Sistem penilaian mulai dari 0-9 dikembangkan, dengan kemungkinan kehamilan dari 1,31% hingga 55,16%, untuk skor 0 hingga 9, masing-masing.
Hasil penelitian ini melaporkan skoring pada populasi Indonesia menambahkan dua variabel atau faktor, yaitu jumlah sperma progresif total (TPSC) dan ketebalan endometrium, yang sebelumnya tidak dilaporkan dalam penelitian lain. Penelitian ini juga menunjukkan hasil yang berbeda, seperti percobaan inseminasi pertama memiliki peluang kehamilan yang lebih besar daripada percobaan kedua atau ketiga.
Penulis: Cennikon Pakpahan, dr.
Sumber: Geraldo Laurus et al. Scoring prognostic factors for pregnancy post-intrauterine insemination in couples with infertility. Pan African Medical Journal. 2025;50(64). 10.11604/pamj.2025.50.64.45962





